Iklan
LATEST TWEET

Harga Garam Melambung, Warga Beralih ke Air Mata dan Keringat Sebagai Barang Subtitusi

July 25, 2017       Ekonomi & Bisnis, Sosial, z_Editor's Choice      
Garam langka, keringat disayang. Naiknya harga garam membuat sebagian warga di Indonesia beralih menggunakan air mata dan keringat dalam usaha memenuhi asupan garam. Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah terkait hal ini, namun beberapa pihak melihatnya sebagai keberhasilan dalam upaya kemandirian dan swadaya masyarakat. (photo courtesy newkbr.id)

Garam langka, keringat disayang. Naiknya harga garam membuat sebagian warga di Indonesia beralih menggunakan air mata dan keringat dalam usaha memenuhi asupan garam. Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah terkait hal ini, namun beberapa pihak melihatnya sebagai keberhasilan dalam upaya kemandirian dan swadaya masyarakat. (photo courtesy newkbr.id)

 

JAKARTA, POS RONDAMeningkatnya harga garam dalam beberapa minggu terakhir membuat masyarakat mencari barang subtitusi untuk menggantikan peran garam dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian warga, barang subtitusi tersebut hadir dalam bentuk air mata dan keringat.

Air mata dan keringat, yang mengandung unsur garam, menjadi pilihan Karena relatif mudah didapat karena sifatnya yang mampu untuk diswaproduksi serta tidak banyak membutuhkan biaya. Dua hal ini dianggap menjadi keunggulan air mata dan keringat dibandingkan garam produksi para petani maupun pabrik.

Jaja Mihairin, Ketua Koalisi Rakyat Untuk Pemberdayaan Air Mata dan Keringat, mengaku kagum dengan inisiatif masyarakat ini. Menurutnya, memang sudah waktunya agar masyarakat menyadari bahwa mereka telah memiliki alat produksi yang disebut sebagai tubuh untuk memproduksi kebutuhan mereka sendiri.

“Sudah waktunya kita sadar bahwa kita bisa terlepas dari belenggu para kapitalis yang menguasai garam. Masyarakat harus bisa memproduksi garam sendiri, dengan keringat dan air mata,” tegasnya dalam konferensi pers di Jakarta, hari ini (25/7).

Ia juga menekankan bahwa garam yang berasal dari keringat dan air mata memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan garam biasa.

“Coba kalian pikir, kenapa masakan pinggir jalan dan abang-abang keliling itu terasa lebih enak? Ya karena itu adalah hasil jerih payah keringat mereka yang kemudian mengalir di jemari tangan dan akhirnya menjadi bumbu di penggorengan. Keberhasilan menggunakan air mata dan keringat sebagai pengganti garam produksi adalah simbol kemampuan swadaya masyarakat.” seru Jaja.

Sementara itu, beberapa orang warga yang diwawancarai oleh POS RONDA mengaku sudah terbiasa menggantikan garam dengan keringat sejak harga mulai melambung tinggi.

Anton Septianto (33), seorang karyawan swasta yang bekerja di Jakarta, mengaku dirinya sudah dua minggu terakhir menggunakan keringatnya sendiri sebagai pengganti garam. Secara rutin, Anton selalu mengunjungi fasilitas olahraga untuk memproduksi keringat. Melalui akun media sosialnya, ia juga rutin mengunggah foto dan video akan upayanya dalam mengumpulkan keringat dengan tagar #KeringatUntukGaram dan #AirMataGaram.

“Harga garam makin mahal, jadi saya harus lebih kreatif. Kebetulan saya anggota salah satu fitness club. Daripada sudah bayar mahal tidak pernah dipakai, ya sekarang saya tiap hari mampir sehabis pulang kantor. Sembari olahraga, keringat kemudian saya tampung pakai termos. Sampai rumah tinggal diolah menjadi garam. Jadi ada hikmahnya, dengan memproduksi garam sendiri melalui keringat, saya jadi makin sehat dan langganan fitness saya tidak percuma,” paparnya saat diwawancara melalui aplikasi percakapan daring.

Jaret Fajrianto, seorang fresh graduate lulusan sebuah universitas di Bandung, mengaku terpaksa membiasakan diri menggunakan air mata sebagai pengganti garam. Semenjak harga garam naik, Jaret mengaku hanya makan nasi putih dan air mata.

“Saya biasa makan nasi dan garam, karena uang saya habis untuk PO (pre-order) action figure dan koleksi lainnya. Tapi semenjak (harga) garam naik, terpaksa saya hanya bisa menangis dan menggunakan air mata sebagai pelengkap nasi. Maklum, Bang, baru lulus, belum dapet kerjaan sementara utang PO dan lelang masih banyak,” ujar Jaret sambal menitikkan air mata.

Seiring dengan berpindahnya masyarakat ke air mata dan keringat, penjualan bawang merah di pasar dilaporkan meningkat tajam. Peningkatan ini diperkirakan terkait kegunaan bawang merah untuk membantu menitikkan air mata di dapur. Selain itu, meski belum ada keterkaitan yang konkrit, video musik Caca Handika yang berjudul ‘Air Mata Bawang’ juga dilaporkan mengalami peningkatan jumlah view di situs Youtube.

Naiknya harga garam diperkirakan terjadi karena minimnya pasokan yang disebabkan faktor cuaca. Hal ini kemudian membuat industri dan usaha kecil yang produksinya membutuhkan garam mengalami kesulitan. Hingga artikel ini terbut, belum diketahui apakah para pengusaha ataupun pemerintah akan membiayai berdirinya pabrik air mata dan keringat agar dapat diproduksi dengan skala industri. (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

Disclaimer Tambahan:

*) Jaret Fajrianto merupakan salah satu karakter utama di GHOSTY’s COMIC. Penggunaan karakter Jaret oleh POS RONDA dalam artikel ini merupakan bentuk homage (penghargaan) kepada Tim GHOSTY’s COMIC.

 

Iklan

Shaka

Other posts by

2 Responses

  • nama

    on September 3, 2017, 09:05:57

    geuleuuuuuuuuhhhhh

    Reply to nama


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS