Iklan
LATEST TWEET

Aksi Bela Aleppo Sepi Peminat, Panitia Akui Kecewa

December 16, 2016       Internasional, Sosial, z_Hot Stuff      
Menjadi puing. Selama lima tahun terakhir, Kota Aleppo di Suriah menjadi salah satu pusat perebutan wilayah antara pihak-pihak yang bertikai dan menyebabkan kehancuran parah serta jatuhnya banyak korban jiwa. Beberapa hari terakhir, pasukan pemerintah Suriah dibantu oleh Rusia melancarkan serangan tahap akhir ke bagian kota Aleppo yang dikuasai oleh pemberontak. Banyak warga, anak-anak, dan relawan kemanusiaan yang terjebak dalam pertempuran tersebut. (photo courtesy cnn.com)

Menjadi puing. Selama lima tahun terakhir, Kota Aleppo di Suriah menjadi salah satu pusat perebutan wilayah antara pihak-pihak yang bertikai dan menyebabkan kehancuran parah serta jatuhnya banyak korban jiwa. Beberapa hari terakhir, pasukan pemerintah Suriah dibantu oleh Rusia melancarkan serangan tahap akhir ke bagian kota Aleppo yang dikuasai oleh pemberontak. Banyak warga, anak-anak, dan relawan kemanusiaan yang terjebak dalam pertempuran tersebut. (photo courtesy cnn.com)

JAKARTA, POS RONDA – Panitia penyelenggara Aksi Bela Aleppo mengaku kecewa karena acara yang akan dijadwalkan untuk hari Minggu (18/12) saat Car Free Day di ruas Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta tersebut hanya mendapatkan sedikit peminat. Hingga hari ini (16/12), hanya ada sekitar 250 orang yang menyatakan diri akan hadir dalam acara aksi itu.

Ketua panitia Aksi Bela Aleppo, Mardikun Sulaiman, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap para relawan kemanusiaan dan warga (termasuk anak-anak) kota Aleppo di Suriah yang terjebak dan menjadi korban dalam pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak serta mengecam peristiwa kekerasan dan peperangan yang terjadi di seluruh dunia.

“Awalnya kami mentargetkan sekitar 10.000 orang untuk ikut dalam aksi ini, apalagi ini untuk alasan kemanusiaan. Namun ternyata yang berminat hanya sekitar 300 orang. Padahal kami sempat optimis, karena orang Indonesia kan biasanya mudah sekali untuk diajak dalam acara-acara gelar massa seperti ini, baik secara sukarela maupun dimobilisasi. Tapi untuk kasus Aleppo ini, sepertinya animonya berbeda,” ujar Mardikun saat diwawancara oleh POS RONDA pagi ini.

Kekecewaan Mardikun cukup beralasan. Mengingat serangan di Aleppo dan kekhawatiran terhadap para penduduk dan relawan yang berada di sana kini merupakan keprihatinan masyarakat global, namun sepertinya penduduk Indonesia lebih bersemangat untuk mengalihkan perhatiannya kepada isu-isu lain. Namun, dia juga memahami karena ada isu-isu yang juga membutuhkan perhatian di Indonesia.

“Tentunya para pengungsi korban gempa di Aceh bisa dikatakan sebagai prioritas dalam negeri pada saat ini. Tapi permasalahannya, itu pun tertutupi di media massa oleh kegaduhan politik di Indonesia. Masyarakat Indonesia dicekoki berbagai macam sentimen, argumen, serta informasi sektarian dan partisan sehingga tidak mampu melihat ada masalah-masalah kemanusiaan yang lebih besar.” paparnya.

Untuk meraih massa, Mardikun bahkan juga memfasilitasi pemesanan penginapan untuk ikut dalam aksi ini. “Bagaimana pun kami harus mengakomodasi peserta. Jadi, untuk peserta aksi yang hanya ingin ikut sebentar untuk selfie kemudian diunggah ke sosial media, kami juga telah menyiapkan paket sekaligus bermalam di hotel-hotel bintang lima dekat dengan lokasi aksi. Tentu saja kami tidak mengambil untung, hanya memfasilitasi untuk pendaftaran akomodasi saja. Ini supaya menarik peserta agar mau bersama-sama menyuarakan isu kemanusiaan. Ada sekitar 20 sampai 25 orang yang minta diurus akomodasinya untuk memudahkan selfie sewaktu aksi.”

Tentu saja, Mardikun mengharapkan para peserta aksi hadir karena memang secara tulus mengharapkan adanya perdamaian, keselamatan, dan persahabatan di seluruh dunia. Dunia yang menurutnya tengah tidak ramah ini membutuhkan ketulusan dari seluruh penduduknya untuk bersikap ramah antara satu sama lain.

“Memang kedengarannya naïf. Tapi membalas kekerasan dengan kekerasan tidak akan ada habisnya dan malah akan melahirkan lingkaran setan. Yang diperlukan masyarakat dunia adalah menyadari bahwa konflik-konflik di berbagai belahan bumi ini seharusnya tidak perlu ada jika kita saling mengenal, memahami, dan membantu satu sama lain dengan tulus, terlepas dari ras, golongan, dan kepercayaan kita masing-masing,” jelasnya menyudahi wawancara.

Serangan tahap akhir pasukan pemerintah Suriah ke bagian kota Aleppo yang dikuasai pemberontak telah berlangsung selama beberapa hari dan menyebabkan kerusakan parah di kota tersebut. Banyak warga dan relawan kemanusiaan yang mengaku terjebak dan tidak memiliki jalan keluar dari Aleppo. Bersamaan dengan serangan tersebut, dilaporkan telah terjadi kejahatan kemanusiaan dengan jumlah korban dalam tingkat yang tinggi.

Berdasarkan laporan terakhir, gencatan senjata diberlakukan untuk memberi kesempatan warga dan relawan yang terjebak untuk keluar dari zona perang. Meski demikian, tidak ada jaminan pasti gencatan senjata akan berlangsung lama mengingat tingginya ketegangan di antara pihak-pihak yang bertikai.

Aleppo telah menjadi salah satu pusat perebutan wilayah antara pasukan pemerintah, pemberontak, milisi Kurdi, dan ekstrimis ISIS sejak konflik di Suriah pecah pada tahun 2011. Selama hampir lima tahun, penduduk kota Aleppo dan beberapa wilayah lain di Suriah yang menjadi titik-titik konflik menjadi korban atau terteror oleh pengeboman dan kontak senjata berkesinambungan. Dalam tiga bulan terakhir, dibantu oleh angkatan bersenjata Rusia, pihak pemerintah mengepung dan merebut sebagian besar kota Aleppo. (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS