Iklan
LATEST TWEET

Bawa Bangkai Tikus ke KPU, Kucing Jakarta Resmi Daftarkan Diri Sebagai Cagub DKI

August 08, 2016       Megapolitan, Politik, z_Hot Stuff      
Kucing Jakarta yang juga merupakan Guberur DKI Jakarta Tandingan, Kapten Pus, resmi mengajukan diri sebagai calon gubernur DKI kemarin malam setelah mengantarkan bangkai tikus ke kantor KPU DKI. (picture by POS RONDA)

Kucing Jakarta yang juga merupakan Guberur DKI Jakarta Tandingan, Kapten Pus, resmi mengajukan diri sebagai calon gubernur DKI kemarin malam setelah mengantarkan bangkai tikus ke kantor KPU DKI. (picture by POS RONDA)

JAKARTA, POS RONDA – Kucing Jakarta yang juga merupakan Gubernur Tandingan DKI Jakarta, Kapten Pus, secara resmi telah mendaftarkan diri untuk ikut bersaing dalam ajang pemilihan gubernur (Pilgub) di Ibukota.

Hadir sendiri dan secara independen ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta kemarin malam (7/8), Kapten Pus menandai keikutsertaannya dengan meletakkan bangkai tikus di depan pintu kantor KPU sebelum kembali kepada aktivitasnya blusukan ke tempat-tempat sempit, memanjat pepohonan, dan berburu tikus.

Juru bicara Kapten Pus, Mia Yulevian, mengatakan bahwa pemberian bangkai tikus tersebut adalah gestur politik yang membuktikan bahwa Kapten Pus serius dalam usahanya mengurangi populasi tikus di Jakarta. Ini juga membuktikan bahwa Kapten Pus adalah sosok kucing yang sopan dan memiliki tata krama dalam berpolitik dan berinteraksi.

“Kapten Pus selalu spesial. Sebagai kucing, beliau memahami sekali seluk-beluk Jakarta dari berbagai macam sudut pandang, baik dari bawah saat blusukan ke gorong-gorong hingga dari atas sewaktu memanjat pohon. Selain itu kita selalu mensosialisasikan bahwa Kapten Pus memiliki jadwal kerja yang jelas, dengan menyediakan 8 jam sehari untuk blusukan dan 16 jam untuk tidur. Kapten Pus adalah paket lengkap yang selalu dicari dalam sosok tiap-tiap calon pemimpin Indonesia,” ujar Mia yang juga merupakan petinggi kultus penyembah kucing, Cats Are Gods.

Untuk memperkuat jalurnya menjadi gubernur, pihak Kapten Pus menyatakan telah mendapatkan dukungan lebih dari satu juta ekor kucing di seluruh wilayah DKI Jakarta. Dukungan tersebut telah didokumentasikan dalam bentuk cap telapak kaki. Mia mengundang pihak KPU untuk melakukan verifikasi cap telapak kaki dengan mendatangi kucing-kucing tersebut satu per satu.

Dukungan tersebut datang dari kucing di berbagai kalangan. Dalam database yang diberikan oleh Tim Sukses Kapten Pus, demografi kucing pendukung berasal dari kucing jalanan, kucing elit, kucing rumahan, kucing kos-kosan, kucing pasar, kucing kantin, kucing kantoran, hingga kucing garong dan kucing-kucingan.

“Ini menunjukkan bahwa Kapten Pus adalah sosok yang bersifat universal dan diterima oleh segala kalangan. Penduduk DKI tidak hanya manusia, tapi juga seluruh mahkluk hidup (kecuali tikus) yang berada di wilayahnya. Kami telah mendapatkan dukungan dari sebagian besar manusia pecinta kucing di Jakarta, dan juga dukungan Dewan Primata Indonesia,” tambahnya dalam konferensi pers di Kantor Strategi Kapten Pus yang bertempat di Jagakarsa, Jakarta Selatan, pagi ini (8/8).

Majunya Kapten Pus sebagai calon non-manusia diharapkan dapat menambah kemeriahan Pilgub DKI Jakarta di tahun 2017. Keikutsertaan kucing tersebut menjadi angin segar bagi para calon pemilih yang ingin melihat adanya calon independen yang bersaing.  Setelah Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama memilih jalur partai politik dan Ichsanuddin Noorsy gagal lolos kualifikasi calon independen, para calon pemilih kesulitan mencari calon independen yang dapat didukung. Saat ini, Kapten Pus bisa menjadi solusi mereka.

Majunya Kapten Pus mendapat tanggapan positif, salah satunya dari budayawan senior Chaer Sabeni. Chaer saat dimintai pendapatnya oleh POS RONDA siang ini mengaku gembira saat Kapten Pus memutuskan untuk maju secara resmi dalam Pilgub. Menurutnya, Jakarta sebagai ibukota negara berbhineka tunggal ika sudah saatnya memiliki calon gubernur yang tidak berasal dari spesies manusia.

“Negara ini isinya macam-macam. Ada manusia, kucing, anjing, monyet, sampai tapir, jadi harus bisa diakomodasi. Seekor kucing sebagai gubernur justru bisa memberikan sudut pandang yang selama ini terlewati oleh gubernur-gubernur manusia,” ujar Chaer melalui pesawat telepon.

Ia juga sepakat bahwa Kapten Pus bisa menjadi solusi kandidat independen. “Kurang independen apa dia? Non-partai, non-manusia! Ini lebih baik dibandingkan yang berkoar-koar independen tapi akhirnya pilih ikut parpol. Dan lebih baik juga daripada kandidat yang maju-mundur sok ogah-ogahan.”

Nada serupa juga hadir dari Ketua Dewan Primata Indonesia, Amung. Simpanse ini menganggap bahwa sudah saatnya spesies non-manusia di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk bersaing memperebutkan jabatan politik. Ia juga menekankan kemenangan Kapten Pus bisa menjadi toggak peristiwa bersejarah sebagai kucing pertama yang menjadi gubernur DKI Jakarta, dan dengan demikian membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam demokrasi di Indonesia. (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

One Respond

  • farid meracuni

    on November 30, 2016, 18:39:46

    Ngelawaknya keren gan… Ninggalin jejak.

    Reply to farid


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS