Iklan
LATEST TWEET

Riset: Cendekiawan Indonesia Terancam Alami Devolusi Menjadi Cendeketiak

June 08, 2016       Pendidikan, z_Hot Stuff      
Devolusi. Karikatur mengenai proses devolusi manusia, dari makhluk berpikir yang sempurna (homo sapien) dan turun kelas menjadi primata tingkat dasar. Lelucon ini sering digunakan dalam menggambarkan situasi umat manusia akhir-akhir ini, namun para peneliti di South Harmon Institute of Technology mengkhawatirkan hal ini terjadi secara nyata pada para cerdik cendekia di Indonesia. (photo source: quotesaddict.com)

Devolusi. Karikatur mengenai proses devolusi manusia, dari makhluk berpikir yang sempurna (homo sapien) dan turun kelas menjadi primata tingkat dasar. Lelucon ini sering digunakan dalam menggambarkan situasi umat manusia akhir-akhir ini, namun para peneliti di South Harmon Institute of Technology mengkhawatirkan hal ini terjadi secara nyata pada para cerdik cendekia di Indonesia. (photo source: quotesaddict.com)

 

JAKARTA, POS RONDA – Kaum cerdik cendekia di Indonesia diperkirakan terancam mengalami proses devolusi menjadi gerombolan cendeketiak. Pernyataan tersebut tercantum dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari South Harmon Institute of Technology yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Kepala tim peneliti Theodora Gallo menyatakan bahwa riset tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi devolusi dalam sikap, pikiran, dan ucapan yang dilakukan oleh kaum cerdik cendekia di Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di Indonesia. Dari seribu individu cendekia Indonesia sebagai sampel dan informan, sepertiganya disinyalir mengalami devolusi, dan angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun. Menariknya, dari mereka yang mengalami devolusi, cukup banyak yang  tengah menempati posisi-posisi penting di berbagai organisasi. Namun, Gallo tidak berkenan mempublikasikan identitas mereka sebagai bagian dari etika akademik.

Titik puncak dari riset tersebut adalah saat tersebarnya pernyataan dari Sekjen ICMI, Jafar Hafsah, yang memberi masukan kepada pemerintah bahwa situs mesin pencari Google dan situs video Youtube layak untuk diblokir, karena kemampuan kedua situs tersebut memberikan jaminan untuk meniadakan konten yang dianggap negatif, seperti kekerasan dan pornografi, masih disangsikan oleh pihaknya. Ia juga meminta agar para inovator Indonesia mengembangkan mesin pencari dan situs yang lebih baik dibandingkan Google ataupun Youtube.

Permasalahannya, dalam dunia yang terkoneksi dengan jaringan telekomunikasi global saat ini, permintaan tersebut sukar untuk dikabulkan. Adapun negara yang mengeluarkan kebijakan untuk memblokir jaringan situs pencari Google dan Youtube antara lain Republik Rakyat China (RRC) dan Korea Utara, yang dipertanyakan status kebebasan berekspresi dan demokrasinya oleh masyarakat internasional. Meskipun pihak RRC berhasil mengembangkan mesin pencari seperti Baidu, diperlukan 16 tahun untuk mencapai statusnya saat ini.

“Pernyataan seperti ini bisa jadi umum bila disampaikan oleh politisi garis keras atau pemerintahan yang fasistik dan totaliter. Namun saat yang mengemukakan adalah seorang cendekiawan, maka seluruh hipotesis kami menjadi terbukti. Sangat disayangkan kaum cerdik cendekia mengalami devolusi seperti itu, dengan pemikiran mengekor kebijakan untuk memblokir mesin pencari internet seperti di China dan Korea Utara, para cendekia ini bagaikan berada di ketiak mereka,” ujar Gallo dalam pernyataan pers yang menyertai publikasi penelitian itu. Dengan hasil temuan ini, mereka terpaksa menciptakan istilah baru, yakni intelligarmpites, yang dapat diterjemahkan ke Bahasa Indonesia sebagai ‘cendeketiak’.

Meskipun dalam pernyataan yang mungkin bersifat pribadi dari Jafar ini terdapat klarifikasi bahwa terdapat alasan kedua yakni mengenai kewajiban pajak Google di Indonesia, namun ia tetap menyatakan konten negatif sebagai alasan utama. Pernyataan itu tidak menyentuh isu tingkat melek media dan kesadaran hidup bermasyarakat, serta hanya mendaur ulang dan mengekor pernyataan-pernyataan yang sudah ada sebelumnya. Hal ini sangat disayangkan oleh Nelson Haritua, direktur Tanah Abang Institute yang menjadi mitra South Harmon Institute of Technology dalam riset tersebut.

“Kami juga menyayangkan pernyataan tersebut, yang seakan membuktikan bahwa kami sebagai cendekiawan menjadi tidak mengerti apapun mengenai dunia internet, kegunaannya, dan tingkat melek media. Mengenai mesin pencari buatan Indonesia, siapa yang tidak kepingin? Tapi itu butuh proses panjang dan kita ‘kan lebih suka segalanya instan, dan lebih suka mengubek-ngubek tempat yang salah,” ujarnya saat dimintai pendapat oleh POS RONDA via pesawat telepon, pagi ini (8/6).

Nelson juga mengatakan bahwa kaum cerdik cendekia membutuhkan mesin pencari internet. “Bukankah kita sebagai akademisi dan cendekiawan juga kini bergantung pada mesin pencari untuk melakukan penelitian dan pengumpulan data lewat internet? Karena sangat mudah, kita tinggal copy dan paste teori dan temuan yang didapat di internet ke dalam karya akademik kita. Kemudian tinggal berharap saja tidak ketahuan kalau plagiat.”

Pemerintah Indonesia sendiri melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) menampik kemungkinan pemblokiran Google dan Youtube, dengan Menkominfo Rudiantara mengatakan bahwa Indonesia tidak ingin meniru kebijakan RRC.

Sementara itu, ketua umum ICMI Jimly Asshiddiqie dan salah satu wakil ketua umum ICMI, Ilham Habibie, justru tidak memandang perlu adanya pemblokiran situs, namun yang harus diperkuat adalah sistem filter yang bisa menyaring konten-konten yang dianggap negatif di internet. (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS