Iklan
LATEST TWEET

Lestarikan Tradisi Kelulusan Pelajar, Museum Seragam Coret Akan Dibuka di Jakarta

April 18, 2016       Pendidikan, Sosial, z_Hot Stuff      
Tradisi para pelajar untuk melakukan aksi corat-coret terhadap seragam sekolah usai menjalani ujian atau setelah lulus tidak hanya mendapatkan kecaman atau keprihatinan, namun juga apresiasi. Paguyuban SAS Jakarta justru menilai bahwa aksi tersebut sebagai bentuk ekspresi seni yang penuh emosi, dan akan mengabadikannya melalui Museum Seragam Coret yang akan didirikan di Jakarta. (photo courtesy MedanBisnisDaily.com)

Tradisi para pelajar untuk melakukan aksi corat-coret terhadap seragam sekolah usai menjalani ujian atau setelah lulus tidak hanya mendapatkan kecaman atau keprihatinan, namun juga apresiasi. Paguyuban SAS Jakarta justru menilai bahwa aksi tersebut sebagai bentuk ekspresi seni yang penuh emosi, dan akan mengabadikannya melalui Museum Seragam Coret yang akan didirikan di Jakarta. (photo courtesy MedanBisnisDaily.com)

JAKARTA, POS RONDA – Maraknya tindakan pelajar sekolah yang merayakan selesainya kegiatan ujian mereka dengan melakukan pencoretan seragam ternyata tidak selalu berdampak negatif. Walau menuai banyak kecaman di media sosial, banyak pula penggiat seni yang melihat hasil kegiatan tersebut – seragam putih abu-abu yang diwarnai dan ditulisi menggunakan cat semprot – sebagai hasil karya seni modern.

Kondisi ini membuat tradisi kelulusan berupa seragam coret akan diabadikan dalam Museum Seragam Coret di Jakarta, yang akan menjadi museum tradisi kelulusan siswa sekolah pertama di dunia. Ide pembangunan museum ini dicetuskan oleh Street Abstract Society Jakarta (SAS Jakarta), yang merupakan sebuah paguyuban para penggiat dan penggemar seni Asia Tenggara yang berbasis di Jakarta.

Public Relations Officer SAS Jakarta, Linda Samaranggo, menyatakan bahwa Museum Seragam Coret bertujuan untuk melestarikan tradisi subkultur para pelajar Indonesia terutama dalam perayaan kelulusan.

“Setiap tahunnya ada ribuan seragam yang dicoret, banyak juga yang hasilnya mirip lukisan impresionis atau abstrak dan bernilai estetika tinggi. Sayangnya (seragam-seragam tersebut) biasanya dibuang setelah beberapa hari. Padahal coretan-coretan dalam suasana kelulusan merupakan ekspresi emosional yang sangat dalam. Jadi daripada mubazir, sekalian saja kami pajang,” ujar Linda dalam acara konferensi pers di Jakarta, Jumat lalu (15/4).

Koleksi seragam nantinya akan didapatkan dari pencarian melalui media sosial serta kunjungan langsung ke sekolah-sekolah setelah pelaksanaan Ujian Nasional setiap tahunnya. Seragam yang dijadikan koleksi idealnya berkualitas baik tanpa kerusakan serta memiliki komposisi dan penggunaan warna cat yang indah. Staf bagian pengadaan kemudian akan bernegosiasi dengan pemilik seragam. 

Menurut Linda, secara garis besar aliran seni coretan seragam dapat dibagi menjadi tiga: graffiti, yaitu coretan berupa nama, kata-kata, atau gambar; abstrak-impresionis, yaitu coretan warna tanpa membentuk gambar atau simbol yang jelas; dan gabungan antara keduanya.  Seragam yang bertuliskan kata-kata atau gambar vulgar yang dianggap tidak cocok untuk konsumsi anak-anak akan dipamerkan di bagian khusus museum.

Meski tergolong tidak mainstream, Linda mengaku bahwa rencana ini didukung oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) DKI Jakarta. Bahkan, menurutnya, pihak Disbudpar melihatnya sebagai potensi besar dalam pendayagunaan seragam coret sebagai salah satu wujud seni asli bangsa Indonesia.

Museum Seragam Coret juga mendapatkan apresiasi dari para penggiat seni. Salah satunya adalah Edi Suprantono, kritikus seni asal Malang, menuliskan pujiannya melalui akun sosial medianya setelah melihat foto-foto pelajar SMA berseragam penuh warna.

“Kreativitas anak muda Indonesia tidak ada batasnya. Dari seragam yang mengekang, mereka bisa membuat karya agung, tidak kalah dengan van Gogh,” ujar Edi melalui status akun Facebook miliknya kemarin (17/4).

Respong positif juga datang dari dari para siswa. Anto Ramadana, pelajar kelas 3 SMA Bhakti Kota sekaligus salah satu pemilik seragam yang dibeli pihak museum untuk masuk ke dalam jajaran koleksi perdana, menyatakan dukungannya .

Nggak nyangka juga seragamnya bakal dibeli dan dipajang. Tadinya bingung juga sih diapain, udah bau piloks. Duitnya juga lumayan, bisa buat beli item di game online,” tanggapnya saat dihubungi oleh POS RONDA pagi ini (18/4).

Museum Seragam Coret ditetapkan berlokasi di wilayah Jakarta Utara dan rencananya akan dibuka beberapa bulan mendatang. Bangunan museim ini akan terdiri dari dua lantai dan memamerkan koleksi ratusan seragam  terpilih yang berasal dari seluruh penjuru Nusantara, mulai dari sekolah negeri, swasta, hingga SMK dan madrasah.

Museum Seragam Coret dilengkapi dengan fasilitas lahan parkir, kamar mandi, dan ruang ibadah. Kelak museum juga akan dilengkapi dengan toko yang menjual berbagai oleh-oleh untuk pengunjung.

Pihak SAS Jakarta selaku pengelola museum berencana untuk merambah pasar internasional dalam satu tahun ke depan dengan menjual beberapa seragam coret untuk dibeli oleh para kolektor di luar negeri. Mereka bahkan meyakini harga seragam coret bisa mencapai ratusan juta rupiah dalam lelang. Pemasukan dari penjualan tersebut akan digunakan untuk pengembangan museum.  (Rakaputra Paputungan)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

3 Responses

  • Sanjie

    on May 1, 2016, 09:36:41

    Kampret, seni macam apa ini :v ,punya nilai estetika juga yak :v

    Reply to Sanjie
  • keong darat

    on May 9, 2016, 03:57:46

    Nama nya juga ABG .. .tp boleh juga tuh museum lumayan nyiptain peluang bisnis broo 😁

    Reply to keong
  • dandelion

    on June 12, 2016, 02:28:12

    Bagus banget niih, makin dibanyakin dong tulisannya biar bisa baca terus tiap hari.. Soalnya makin lama makin banyak kejadian dan berita yang ngaco terutama di Indonesia..

    Reply to dandelion


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS