Iklan
LATEST TWEET

Genjot Sektor Pariwisata, Pelaku Usaha Minta Gerhana Matahari Jadi Agenda Rutin Bulanan

March 11, 2016       Ekonomi & Bisnis, z_Hot Stuff      
Gerhana matahari total seperti yang terlihat di langit Ternate, hari Rabu lalu (9/3). Antusiasme masyarakat dan wisatawan baik lokal maupun internasional sangat besar untuk mengamati peristiwa ini. Ikatan Pengusaha Pariwisata Indonesia (IPPI) meminta kepada pemerintah agar gerhana matahari dijadikan agenda bulanan melalui kontrak kerjasama eksklusif antara Indonesia, bulan, dan matahari. (photo courtesy lapan.go.id)

Gerhana matahari total seperti yang terlihat di langit Ternate, hari Rabu lalu (9/3). Antusiasme masyarakat dan wisatawan baik lokal maupun internasional sangat besar untuk mengamati peristiwa ini. Ikatan Pengusaha Pariwisata Indonesia (IPPI) meminta kepada pemerintah agar gerhana matahari dijadikan agenda bulanan melalui kontrak kerjasama eksklusif antara Indonesia, bulan, dan matahari. (photo courtesy lapan.go.id)

JAKARTA, POS RONDA – Animo masyarakat lokal dan internasional yang sangat besar untuk menyaksikan gerhana matahari total pada hari Rabu lalu (9/3) di Indonesia menghasilkan peningkatan pendapatan yang cukup tajam bagi para pelaku usaha pariwisata lokal di beberapa wilayah. Oleh karena itu, sebagian pelaku usaha pariwisata meminta agar pemerintah mengusahakan gerhana matahari terjadi setiap bulan agar bisa menjadi agenda rutin.

Permintaan ini disampaikan oleh Ikatan Pengusaha Pariwisata Indonesia (IPPI) melalui ketua hariannya, Remi Suprayat, dalam acara konferensi pers di Jakarta pagi ini (11/3). Dalam pernyataannya, ia berharap pemerintah bisa mengusahakan agar matahari dan bulan bisa diajak bekerja sama untuk menciptakan fenomena gerhana matahari setiap bulannya dan membentuk kerjasama eksklusif dengan Indonesia.

“Dengan demikian, maka kami harapkan setiap bulan akan terjadi gerhana matahari dan umbra-nya (wilayah tergelap) hanya adad di wilayah Indonesia saja. Nanti akan dirotasi wilayah mana saja yang dapat menyaksikan gerhana yang paling baik. Dengan peristiwa gerhana matahari total kemarin saja, sebagian anggota kami melaporkan peningkatan penjualan dan pendapatan yang tajam. Anda bisa bayangkan apabila hal ini terjadi setiap bulan, pasti akan sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi lokal,” paparnya.

Kerjasama antara pemerintah dan pelaku usaha dengan matahari dan bulan, menurut Remi, mutlak diperlukan untuk menggenjot sektor pariwisata sebagai unsur utama dalam pertumbuhan ekonomi. Ini dikarenakan sektor usaha lain di Indonesia tidak sepenuhnya dalam kondisi terbaik.

Remi menyoroti masalah rendahnya harga minyak bumi dan larinya beberapa investor asing dari Indonesia. “Kondisi perusahaan minyak bumi dan gas secara global kurang baik, terutama di Indonesia. Padahal pendapatan utama kita berasal dari ekspor migas.Penutupan beberapa pabrik hasil investasi modal asing juga beresiko meningkatkan jumlah pengangguran. Di sini, saya berani mengatakan bahwa hanya industri pariwisata yang masih berkibar di antara kelesuan ekonomi.”

Oleh karena itu, ia menjelaskan lebih lanjut bahwa inovasi di bidang pariwisata sangat diperlukan agar Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, dan Filipina. Indonesia harus bisa menawarkan sesuatu yang unik, salah satunya adalah bekerja sama dengan matahari dan bulan untuk menciptakan kondisi di mana gerhana matahari hanya bisa dilihat dari wilayah nusantara saja. Apabila ini berhasil, maka Indonesia bahkan mampu memiliki daya tarik yang lebih kuat bagi para wisatawan dibandingkan negara-negara Eropa sekalipun.

Ia berharap pemerintah bisa memperhatikan permintaan ini, dan presiden bisa memerintahkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk membentuk tim yang bisa bernegosiasi dengan matahari dan bulan secepat mungkin sebelum ada negara atau pihak lain yang mendapatkan kontrak tersebut.

Untuk membantu kelancaran negosiasi, Remi juga menambahkan bawa IPPI dan dirinya siap bergabung dengan tim dari Kemenpar, dan menyatakan sanggup untuk bertemu langsung dengan bulan dan matahari untuk membicarakan kontrak kerjasama eksklusif itu. Meski demikian, ada keraguan apakah manusia sanggup untuk berbicara dengan satelit bumi dan bintang tata surya itu, terutama matahari yang sangat panas sehingga mustahil bagi manusia untuk mendekat.

“Itu mudah. Kita datang ke matahari waktu malam hari supaya nggak panas,” ujarnya mengakhiri konpers.

Belum diketahui apa reaksi pemerintah terutama Kemenpar mengenai permintaan ini. Saat dimintai tanggapan atas pernyataan Remi dan IPPI, bulan dan matahari memilih untuk bersikap diam menghadapi pertanyaan para wartawan. Kondisi ini disinyalir karena memang bulan dan matahari tidak bisa berbicara dengan bahasa manusia, dan teknologi manusia belum cukup tinggi untuk bisa berbicara dengan bulan dan matahari. (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

One Respond


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS