Iklan
LATEST TWEET

Kesal Dipakai Balap Liar, Buruh Pabrik Lem Klaim Dirinya Pemilik Lamborghini dan Ferrari Maut

December 01, 2015       Kriminalitas & Hukum, z_Hot Stuff      
Kasus balap liar maut yang melibatkan mobil super bermerk Lamborghini dan Ferrari di Surabaya ternyata memiliki kisah lain dibaliknya. Seorang buruh pabrik lem, Mas Modjo, mengaku bahwa kedua mobil tersebut adalah miliknya yang disewakan kepada orang lain. (photo courtesy justwelldriven.com)

Kasus balap liar maut yang melibatkan mobil super bermerk Lamborghini dan Ferrari di Surabaya ternyata memiliki kisah lain dibaliknya. Seorang buruh pabrik lem, Mas Modjo, mengaku bahwa kedua mobil tersebut adalah miliknya yang disewakan kepada orang lain. (photo courtesy justwelldriven.com)

SURABAYA, POS RONDA – Seorang buruh pabrik lem mengklaim dirinya merupakan pemilik dari mobil Lamborgini dan Ferrari yang terlibat aksi balap liar dan kecelakaan yang menyebabkan korban jiwa di Surabaya Selasa lalu (29/11).

Kuncomodjo Resin (29), sang buruh tersebut, mengakui bahwa bahwa Ferrari dan Lamborghini itu ia sewakan demi membiayai mogok nasional buruh beberapa waktu lalu.

“Dia (tersangka, red.) itu sewa katanya untuk pawai helowin orang-orang kaya sejak Oktober lalu. Saya kasihan, kok orang kaya ndak punya Ferrari dan Lamborghini, padahal bapaknya sering saya demo juga sama teman-teman. Ya akhirnya saya kasih,” ungkap Mas Modjo. “E ndilalah, ternyata untuk balap liyar, iki piyetho? J*nc*k tenan!”

Mas Modjo bercerita panjang lebar bagaimana buruh lem seperti dirinya mendapatkan Ferrari dan Lamborghini tersebut. Ia mengaku suatu malam pernah mendapat wangsit dari kakek buyutnya bahwa ia akan dapat rezeki dan kesedihan besar.

Beberapa hari kemudian, ada dua orang berpakaian rapih datang ke rumahnya dan mengabarkan bahwa ayah kandung Mas Modjo yang ternyata salah satu bangsawan dari Timur Tengah, meninggal akibat overdosis obat saat berpesta di Amerika Serikat. Sang bangsawan yang menolak disebut namanya tersebut meninggalkan wasiat dan warisan untuk Mas Modjo, mobil Ferrari dan Lamborghini yang pajaknya sudah dibayarkan selama 50 tahun ke depan.

“Wasiat dari bapak saya, tidak boleh dijual sampai uang pajaknya habis. Makanya sering saya sewakan. Lumayan ‘ngge nambahi biaya hidup, mas. Apa-apa sekarang makin mahal,“ tambah mas Modjo.

Ibunda Mas Modjo, Suniarti, membenarkan perkawinannya dengan seorang keturunan Timur Tengah ketika usianya baru 16 tahun. “Dulu mbok ini kawine kontrak. Bapaknya Modjo ngaku namanya Abud, wonge uelek, persis anakku iki. Ndak pernah tahu atau cerita kalau dia itu ningrat.”

Mas Modjo sendiri tidak pernah mengendarai mobil super miliknya itu karena tidak punya surat izin mengemudi (SIM). Ia bahkan sempat mengatakan enggan punya mobil seperti itu. Namun, mengingat kedua mobil itu adalah warisan dan peninggalan ayahnya, ia tetap mempertahankannya.

“Orang suka omong miring soal buruh punya barang. Punya motor Ninja saja dicaci-maki, apalagi punya Ferrari dan Lamborghini,” lanjutnya.

Mas Modjo sebenarnya merasa takut bila bertemu wartawan, terutama sejak ada media daring yang menyalin rekat berita parodi soal tuntutan buruh dan mengemasnya sebagai kenyataan. Ia mengaku kehilangan kepercayaan kepada media massa di Indonesia.

“Media yang saya percaya cuma dua macam,” kata Mas Modjo. “Penulis dari gerakan buruh dan wartawan POS RONDA. Dari gerakan buruh jelas mewakili kelompok saya langsung. Kalau POS RONDA pancen sejak awal jujur, konsisten tulisan mereka itu guyon. Ya kayak saya ini ‘kan karakter fiktif, jadi bisa dipakai guyon. Sisanya, media lain, saya ndak percaya, Mas. Kakehan (terlalu banyak, red.) provokator.”

Sampai artikel ini diturunkan, mobil Lamborghini milik Mas Modjo masih disita polisi. Sementara itu, Ferrari miliknya masih hilang hingga kini. Ia hanya mengenal tersangka yang mengedarai Lamborghini, tapi tidak kenal dengan orang yang membawa kabur Ferrari-nya.

Mas Modjo berencana untuk menggugat dan meminta ganti rugi atas kedua mobilnya tersebut. Ia sendiri baru menerima uang muka sebesar dua juta rupiah, sementara sisanya belum dibayarkan. Menurut pengakuannya, uang muka itu pun telah habis dipakai untuk biaya pengobatan rekan-rekannya yang diintimidasi preman dan pihak berwenang lainnya ketika melakukan aksi mogok.

Yo ngene ki nasib buruh, Mas. Berjuang demi kesejahteraan, tapi kalau punya barang dihina, ndak punya barang ndak akan ditolong,” tutupnya. (NN)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS