Iklan
LATEST TWEET

Potensi Sumbang Pemasukan Negara, Lapas Narkoba Dapat Dikelola Mirip Taman Safari

November 24, 2015       Ekonomi & Bisnis, Kriminalitas & Hukum, z_Hot Stuff      
Seorang pengusaha asal Jakarta menawarkan konsep hybrid antara lapas narkotika dan suaka margasatwa. Hal ini diyakini mampu menyelesaikan dua hal sekaligus, yakni masalah keamanan lapas dan penambahan pemasukan negara melalui penggunaan fasilitas sebagai tempat wisata. Para penjaga lapas akan berasal dari spesies gorila yang kuat. (photo courtesy wikimedia.org)

Seorang pengusaha asal Jakarta menawarkan konsep hybrid antara lapas narkotika dan suaka margasatwa. Hal ini diyakini mampu menyelesaikan dua hal sekaligus, yakni masalah keamanan lapas dan penambahan pemasukan negara melalui penggunaan fasilitas sebagai tempat wisata. Para penjaga lapas akan berasal dari spesies gorila yang kuat. (photo courtesy wikimedia.org)

JAKARTA, POS RONDA – Niat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso mendirikan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika yang dikelilingi satwa buas terus mendapatkan dukungan dan masukan dari masyarakat. Setelah seorang warga Pati, Jawa Tengah, menyumbangkan seekor buaya miliknya, kini seorang pengusaha asal Jakarta mengusulkan kerjasama dengan BNN untuk menggabungkan konsep Lapas Narkotika dengan Suaka Margasatwa.

Pengusaha tersebut, Satwono Tanrijaya, mengaku melihat peluang yang menarik dalam berbagi pengelolaan lapas itu antara pemerintah dan pihak swasta.

“Saya melihat sebuah peluang sangat baik untuk mempererat kerjasama pemerintah dan swasta dalam tiga bidang sekaligus, yaitu pemberantasan narkoba, pelestarian satwa, dan potensi ekonomi. Kita bisa buat lapas ini seperti Taman Safari, bisa dikunjungi sebagai tempat wisata dan bersifat edukatif,” ujar anggota Ikatan Pengusaha dan Inovator Nasional (IPIN) ini di kediamannya di Jakarta Selatan, kemarin (24/11).

Satwono, yang menyatakan dirinya berpengalaman di bidang tersebut karena telah memegang saham minoritas di belasan kebun binatang dan taman margasatwa di dunia, menawarkan konsep seperti Taman Safari, di mana para wisatawan bisa masuk menggunakan kendaraan untuk melihat-lihat kehidupan para satwa yang bertugas menjaga lapas.

Ia menyebutkan, konsep ini bisa saja diberi nama macam-macam. “Bisa dibilang ini lapas yang dibangun di tengah Taman Safari, atau bisa juga ini Taman Safari yang dibangun di sekeliling lapas. Bagaimana pun, pengunjung akan dapat melihat para satwa buas di habitat aslinya. Sesekali, mungkin Anda dapat melihat seorang bandar narkoba yang kabur dari lapas kemudian dikejar singa atau diburu buaya saat pelariannya berlangsung. Sungguh sebuah panggung hukum rimba yang sangat indah.”

Satwono sendiri mengaku telah dalam proses mempersiapkan lahan yang sesuai untuk fasilitas gabungan lapas dan suaka margasatwa tersebut. Menurutnya, Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan kandidat terbaik, dengan luasnya lahan padang rumput atau sabana tropis. Karakter wilayah yang keindahannya mirip dengan beberapa sabana di Afrika tersebut diperkirakan memiliki tingkat kesesuaian tinggi untuk proyek ini.

Untuk keamanan, penggunaan petugas manusia hanya digunakan untuk memandu para wisatawan yang berkeliling fasilitas namun tidak mencapai gedung penjara. Sementara itu, penjagaan terhadap para tahanan akan ditangani langsung oleh sekelompok primata, terutama dari spesies gorila, sehingga diharapkan tidak ada kolaborasi di antara para tahanan dan penjaga manusia.

“Dalam kasus terburuk, tenaga gorila pasti akan lebih besar daripada manusia. Senang juga ‘kan, membayangkan bandar dan pengedar narkoba terkena bogem mentah gorila setiap hari? Pihak saya tengah menjajaki upaya kerjasama dengan Dewan Primata Indonesia untuk penunjukkan para gorila yang bisa dipercaya,” tambahnya.

Selain itu, pendirian fasilitas ini bisa menjadi sumber pemasukan negara, karena pemerintah melalui BNN atau BUMN tertentu akan memiliki bagian, baik itu saham mayoritas maupun minoritas. Besaran saham masih belum bisa dipastikan karena perbincangan dengan pihak pemerintah masih belum dimulai.

Menurut Satwono, ini bisa menjadi kontribusi yang lebih sehat bagi pemerintah dibandingkan meningkatkan pajak, tarif, ataupun biaya izin. “Kalau seperti ini pemerintah akan dapat uang dari hasil kegiatan ekonomi yang alami. Ada tempat wisata, ada wisatawan, ada uang, ada deviden. Ini lebih baik dibandingkan pemerintah selalu fokus kepada meningkatkan pajak, ataupun menetapkan sertifikat atau izin ini-itu yang membutuhkan biaya besar dari para user, yaitu pengusaha kecil dan masyarakat.”

Mengakhiri wawancara, Ia mengatakan bahwa pihaknya akan segera menyerahkan proposal pembangunan fasilitas unik ini kepada BNN, Kementerian Hukum dan HAM, serta Presiden Joko Widodo langsung. Satwono juga menyebutkan apabila keseluruhan proses berjalan lancar, pembangunan fasilitas ini bisa dimulai paling cepat tahun 2018. (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

 

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS