Iklan
LATEST TWEET

Hindari Kabut Asap, Aktivis Ajak Jutaan Warga Mengungsi ke Jakarta

October 07, 2015       Kesehatan & Lingkungan, Politik, z_Hot Stuff      
Kabut asap yang menerpa Kota Pekanbaru, Riau. Aktivis Masyarakat Anti Kabut Asap (MAKA) mengajak jutaan warga Sumatera dan Kalimantan yang terkena dampak negatif kabut asap untuk mengungsi ke Jakarta dan Pulau Jawa. Hal ini berpotensi menimbulkan krisis pengungsi nasional mengingat sudah tingginya tingkat kepadatan penduduk di Jawa. (photo courtesy tempo.co)

Kabut asap yang menerpa Kota Pekanbaru, Riau. Aktivis Masyarakat Anti Kabut Asap (MAKA) mengajak jutaan warga Sumatera dan Kalimantan yang terkena dampak negatif kabut asap untuk mengungsi ke Jakarta dan Pulau Jawa. Hal ini berpotensi menimbulkan krisis pengungsi nasional mengingat sudah tingginya tingkat kepadatan penduduk di Jawa. (photo courtesy tempo.co)

BANDAR LAMPUNG, POS RONDA – Semakin buruknya penyebaran kabut asap kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan membuat sebagian penduduk mengajak warga masyarakat lainnya untuk mengungsi ke ibukota Indonesia, Jakarta.

Ajakan ini disuarakan oleh Masyarakat Anti Kabut Asap (MAKA) sebagai bentuk keprihatinan terhadap minimnya kemajuan yang diperoleh dari usaha pemerintah daerah maupun pusat dalam mengatasi kebakaran hutan dan penyebaran asap di dua pulau besar tersebut.

“Permasalahannya bukan lagi hanya sekedar perusahaan A atau B melanggar peraturan dengan membakar hutan, tapi kabut asap sudah masuk ke taraf membahayakan jiwa dan menghambat perekonomian daerah. Oleh karena itu kami mengajak warga Sumatera dan Kalimantan yang terkena imbas dari kabut asap untuk ramai-ramai mengungsi ke Jakarta yang aman dari kabut asap. Kalau di sana (Jakarta) adanya kabut polusi kendaraan, sama-sama buruk tapi lebih baik dibandingkan sesak napas bahkan di halaman rumah sendiri.” ujar Yoffie Sambara, ketua MAKA, dalam konferensi pers di Bandar Lampung kemarin (6/7). Kota Bandar Lampung dipilih sebagai lokasi konpers karena relatif lebih aman dari kabut asap dibandingkan dengan kota-kota di berbagai provinsi di utara Lampung.

Ia mengajak jutaan warga Sumatera dan Kalimantan untuk beramai-ramai mendatangi pelabuhan dan terminal-terminal bus untuk melarikan diri dari wilayahnya masing-masing yang saat ini kondisinya praktis tidak layak huni karena kondisi udara yang berbahaya.

Ajakan mengungsi ini terutama ditujukan kepada keluarga yang memiliki anak-anak dan balita, yang memiliki kecenderungan untuk terpapar akibat negatif yang lebih besar dari kabut asap ini. Menurut Yoffie, dengan minimnya kemajuan memerangi kebakaran hutan dan kabut asap, pemerintah daerah dan pusat telah gagal menjalankan kewajiban untuk melindungi rakyatnya, terutama anak-anak.

“Setiap pemerintahan di pusat dan daerah selalu berjanji dan berkoar-koar untuk bisa mengatasi masalah ini dengan mudah dalam kampanyenya, namun dari tahun ke tahun kondisinya selalu sama. Setiap tahunnya, penduduk yang ada dalam usia produktif dirusak kesehatannya karena masalah yang sama. Untuk itu sebaiknya semua mengungsi ke Jakarta atau Pulau Jawa agar potensi mereka tidak sia-sia. Terlebih lagi untuk anak-anak, balita, serta para lansia. Tega sekali rezim demi rezim membiarkan mereka dibunuh pelan-pelan dengan kabut asap. Cukup sudah. Mari kita ramai-ramai mengungsi dan ‘menyerbu’ Jakarta, minta pertanggungjawaban pemerintah pusat karena pemerintah daerah jelas-jelas tidak mampu menanganinya,” paparnya lebih lanjut.

Ia memperkirakan minimal akan ada 6 juta pengungsi yang terpanggil oleh ajakannya. Angka yang besar ini bahkan melebihi perkiraan jumlah pengungsi Syria yang kini berjuang untuk masuk ke Uni Eropa. Dengan angka kepadatan Provinsi DKI Jakarta dan Pulau Jawa yang sudah sangat tinggi, jumlah jutaan pengungsi bisa menimbulkan permasalahan baru baik di bidang kependudukan, sosial-ekonomi, maupun tata ruang.

Yoffie lebih jauh berargumen bahwa warga Sumatera dan Kalimantan yang mau mengungsi ke Jakarta dan Pulau Jawa dapat dimasukkan ke dalam kategori pengungsi berdasarkan definisi badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk masalah pengungsi (UNHCR) apabila dimodifikasi sedikit. Oleh karena itu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Pulau Jawa harus mau menerima pengungsi dari Sumatera dan Kalimantan.

“Jutaan orang itu nantinya bukanlah transmigran, tapi pengungsi. Definisi UNHCR mengenai pengungsi adalah mereka yang tidak dapat kembali ke kampung halaman atau tempat asal karena pemerintah lokalnya tidak dapat memberikan kepastian keamanan atas nyawa mereka. Memang definisi tersebut dasarnya untuk perpindahan lintas negara, tapi kondisinya sekarang tetap sama. Dengan kondisi kabut asap yang demikian, jutaan orang kini tidak punya kepastian atas jaminan kesehatan mereka, bahkan kasus jatuh korban jiwa sudah ada. Maka, wajar apabila warga tidak bisa lagi percaya bahwa pemerintah setempat bisa menjamin kesehatan jiwa dan raga, bahkan nyawa, dari warganya. Apakah jutaan warga negara itu tidak punya hak untuk hidup sehat serta beraktivitas dalam kondisi yang sehat?” Ucapnya mengakhiri konpers tersebut.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah di Pulau Jawa, terutama Pemprov DKI Jakarta, mengenai hal ini. Apabila ajakan mengungsi itu benar-benar diikuti, kemungkinan besar Indonesia akan mengalami krisis pengungsi nasional. (SMG)

 

====

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS