Iklan
LATEST TWEET

Antisipasi Harga Kedelai Naik, Pengusaha Mulai Produksi Tempe dan Tahu Ukuran Mikroskopik

June 19, 2015       Daerah, Ekonomi & Bisnis, z_Hot Stuff      
Meski harga kedelai impor masih stabil, para pengusaha tempe dan kedelai mengaku tidak mau mengambil resiko dengan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Mereka mengkhawatirkan stabilitas harga tersebut tidak berlangsung lama. Untuk itu, bekerja sama dengan para peneliti APPTek, produsen tahu dan tempe mencoba memperkenalkan produk baru berupa tahu dan tempe berukuran mikroskopik. (photo courtesy bisnis.com)

Meski harga kedelai impor masih stabil, para pengusaha tempe dan kedelai mengaku tidak mau mengambil resiko dengan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Mereka mengkhawatirkan stabilitas harga tersebut tidak berlangsung lama. Untuk itu, bekerja sama dengan para peneliti APPTek, produsen tahu dan tempe mencoba memperkenalkan produk baru berupa tahu dan tempe berukuran mikroskopik. (photo courtesy bisnis.com)

BANDUNG, POS RONDA – Kekhawatiran akan naiknya harga kedelai akibat pelemahan nilai rupiah membuat para pengusaha tempe dan tahu menjual produknya dalam ukuran sangat kecil. Langkah diklaim sebagai cara ekstrim setelah secara bertahap mereka memperkecil ukuran produk yang mereka buat.

Bekerja sama dengan Aliansi Peneliti Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Indonesia (APPTek), para produsen tahu dan tempe yang tergabung dalam Paguyuban Produksi Tahu dan Tempe Nusantara (PPTTN) akan mulai memproduksi tempe dan tahu dalam ukuran mikroskopik.

“Kami sangat senang bisa bekerja sama untuk inovasi baru ini. Para peneliti sekarang sudah mulai bekerja untuk dapat memproduksi tahu dan tempe ukuran mikro. Kami sebut mikroskopik, namun bukan berarti hanya bisa dilihat melalui mikroskop. Kami memahami kegelisahan kawan-kawan di PPTN untuk bisa menekan biaya produksi dan memastikan tetap ada tahu dan tempe bagi masyarakat,” papar Ketua APPTek, Bambang Dwi Ansyori, dalam konferensi pers di Bandung pagi ini (19/6).

Dalam produksi awal, jumlahnya akan dibatasi terlebih dahulu untuk melihat umpan balik dari para konsumen. Bambang mengakui, kesulitan yang dapat timbul dari tempe dan tahu mikroskopik ini adalah cara konsumen memakannya. Saat ini, konsumen masih membutuhkan kaca pembesar untuk melihat dan mengambil produk inovatif tersebut dengan pinset. Selain itu, ukurannya tidak menjanjikan rasa kenyang.

Meski demikian, melalui jaringan peneliti dan sumber dana independen, dirinya optimis proyek penelitian tahu dan tempe mikroskopik ini akan menghasilkan produk yang lebih ramah bagi konsumen, serta lebih bernutrisi dibanding sebelumnya. Tujuannya, agar masyarakat bisa mendapatkan tahu dan tempe dengan harga lebih terjangkau, lebih bergizi, dan lebih mudah didapat. Faktor terakhir ini dianggap penting mengingat harga kedelai bisa saja sewaktu-waktu menjadi tidak stabil.

“Rekan-rekan di PPTTN sebenarnya sudah mulai cemas mengenai nilai rupiah. Selama ini kami menggunakan kedelai impor karena harganya lebih murah dari kedelai lokal. Selain itu, kedelai lokal biasanya dijual dalam keadaan kandungan air yang tinggi. Bukannya kami tidak nasionalis, tapi bagaimana pun kami harus tetap pasang harga dan kualitas kompetitif agar kami dan para pekerja bisa makan,” ujar ketua PPTTN, Beni Soelman, dalam acara tersebut.

Terus melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat para produsen tempe dan tahu waspada. Meskipun harga kedelai impor masih stabil, mereka mengambil inisiatif menciptakan produk baru karena tidak yakin harga itu bisa bertahan lebih lama. Dengan membuat tahu dan tempe ukuran mikroskopik, maka biaya bahan baku bisa ditekan hingga waktu yang cukup lama.

Industri tempe dan tahu Indonesia, menurut Beni, sangat tergantung pada pasokan impor. Sayangnya, ini menjadikannya sebagai simalakama. “Produksi kami memang bergantung pada kedelai impor. Kedelai lokal, produksi suplainya kurang banyak sehingga kami sebagai produsen harus berebut yang mutunya bagus, dan akhirnya harga jadi mahal. Harga mahal itu uangnya masuk ke kantong para tengkulak, karena mereka yang ambil kedelai itu dari petani. Jadi, pembelian kedelai lokal pun belum tentu menguntungkan petani kedelai. Petani cuma dapat sedikit, kami rugi bandar, yang untung ya makelar dan tengkulak.”

Ia melanjutkan bahwa pada dasarnya kondisi seperti ini akan membuat industri tahu dan tempe menjadi kesulitan. Karena ketergantungan pada kedelai impor, maka kedelai lokal jadi sepi pembeli dan para petani kedelai akan beralih ke tanaman lain. Kedelai lokal yang bermutu baik sudah pasti akan diekspor dan tidak masuk ke pasar dalam negeri. Minimnya pasokan kedelai lokal tersebut bisa saja dimanfaatkan importir kedelai untuk menaikkan harga kedelai impor.

Beni juga menyayangkan bahwa pemerintah dari dulu hingga kini tidak memiliki rencana yang jelas untuk meningkatkan produksi serta meningkatkan mutu kedelai lokal Indonesia. Ia juga menganggap sekedar menghapus pajak pertambahan nilai dari hasil panen tidak akan efektif, karena permasalahan sebenarnya terletak pada gagalnya pemerintah meminimalisir aktivitas tengkulak, sistem ijon, kurangnya infrastruktur dan akses langsung petani kepada pasar, serta minimnya distribusi bibit kedelai unggulan dan mahalnya teknologi pertanian. (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS