Iklan
LATEST TWEET

Pengusaha Kelereng Minta Produknya Masuk Kategori Batu Akik

May 08, 2015       Ekonomi & Bisnis, z_Hot Stuff      
Kelereng, instrumen permainan tradisional yang kini mulai tergerus oleh perkembangan teknologi. Para pengusaha dan produsen kelereng meminta bantuan pemerintah untuk memasukkan kategori produk tersebut menjadi sama dengan batu akik, agar dapat meningkatkan nilai penjualan dan minat masyarakat. (photo courtesy viva.co.id)

Kelereng, instrumen permainan tradisional yang kini mulai tergerus oleh perkembangan teknologi. Para pengusaha dan produsen kelereng meminta bantuan pemerintah untuk memasukkan kategori produk tersebut menjadi sama dengan batu akik, agar dapat meningkatkan nilai penjualan dan minat masyarakat. (photo courtesy viva.co.id)

JAKARTA, POS RONDA – Para pengusaha yang tergabung dalam Ikatan Produsen Kelereng Indonesia (IPKI) menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah agar produk bola kelereng dimasukkan ke dalam kategori batu akik.

Kelereng, juga dikenal sebagai gundu, adalah bola kecil yang umumnya terbuat dari tanah liat, kaca, atau marmer. Biasanya bola-bola kelereng ini menjadi mainan tradisional anak-anak, namun tidak sedikit pula yang menjadikannya sebagai koleksi.

Ketua IPKI wilayah Jawa Timur, Hengky Suntoyo, mengatakan bahwa para produsen kelereng membutuhkan pengakuan ini untuk meningkatkan penjualan yang terus menurun karena jumlah anak yang bermain kelereng semakin sedikit.

“Selain itu, saya merasa produksi kelereng anggota-anggota kami tidak kalah indah dengan batu akik. Anda bisa bandingkan, bola kelereng biasanya identik dengan warna-warni jeleret yang cantik, dan layak dikoleksi. Bagi kami, sudah saatnya kelereng naik level menjadi sama dengan batu akik,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada pers di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, pagi ini (8/5).

Bersama dengan 12 orang perwakilan IPKI lainnya, Hengky tengah menunggu jadwal bertemu dengan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Ide awal untuk meminta kesamaan kategori dengan batu akik muncul akibat kasus penipuan di Medan beberapa waktu lalu, di mana seseorang membeli permen yang dijual sebagai batu akik. Selain itu, terdapat juga fenomena warga beramai-ramai mengambil batu yang dianggap berharga di kawasan Tomang, Jakarta, namun ternyata merupakan hasil limbah dan pecahan kaca botol bir. Hengky dan rekan-rekannya merasa tersinggung.

“Masa permen bisa dijual sebagai batu akik, lalu bekas pecahan botol bir juga, sementara kelereng tidak? Memang itu penipuan, oleh karena itu kami menempuh jalur resmi untuk menyamakan kategori kelereng dan batu akik. Dengan demikian, IPKI bisa bersaing di pasar dengan nilai yang lebih tinggi. Pastinya kami akan memastikan kualitas kelereng yang baik terutama yang bahan dasarnya marmer. Pastinya tidak bisa dimakan, ya. Malah jangan dimakan, nanti bisa sakit perut.” jelasnya.

Rekan sesama anggota IPKI, Alvan Reinaldo, juga berharap pemerintah mau mendorong industri kelereng Indonesia agar bisa berdiri sama dengan batu akik. Dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan batu akik, dirinya yakin bahwa kelereng bisa menguasai pasar apabila dipasarkan dengan tepat.

“Pada dasarnya kelereng sudah menjadi bagian dari sejarah dunia, bahkan semenjak masa Yunani Kuno. Kita punya bahan bakunya, tapi kapasitas produksi dan penjualan kita masih kalah dengan negara produsen lain seperti Tiongkok ataupun Meksiko. Tapi saya optimis dengan teknik marketing yang tepat seperti orang-orang menjual batu akik, kelereng juga bisa mendapat tempat yang sama. Selama marketingnya bagus, apalagi ditambah pengakuan pemerintah, apa saja bisa dijual mahal kok,” papar perwakilan IPKI dari Jakarta ini menanggapi tantangan yang dihadapi industri kelereng di Indonesia. (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS