Iklan
LATEST TWEET

Kalah Jadi Abu, Menang Jadi Arang: Review Film “Geng Setan Beringin”

March 31, 2015       Hiburan & Seni, z_Hot Stuff      
Poster Film "Geng Setan Beringin".

Poster Film “Geng Setan Beringin”.

 

  • Judul : Geng Setan Beringin (The Banyan Gangsters)
  • Tahun rilis: 2015
  • Sutradara: Jendrik K. Gonggong
  • Pemeran utama: Buto Cakil, Patih Sengkuni, Genderuwo Pohon Mangga
  • Produksi: Politika Pictures
  • Distribusi: Politika Pictures

 

JAKARTA, POS RONDAGeng Setan Beringin, atau dikenal di ranah festival luar negeri sebagai The Banyan Gangsters, merupakan kisah epik mengenai perseteruan para mahkluk halus untuk menguasai pohon beringin terbesar di sebuah wilayah antah-berantah.

Film garapan sutradara Jendrik Gonggong ini tergolong dalam genre horror dan supranatural, yang di Indonesia seringkali identik dengan naskah dangkal yang berusaha ditutupi oleh kemolekan tubuh para aktris pemerannya. Namun, Jendrik beserta para penulis naskah mencoba mendobrak stereotipe ini dengan memasukkan subgenre politik disertai dengan plot-plot rumit yang dapat membuat para penontonnya tidak bisa membedakan antara perilaku para mahkluk halus dan manusia. Mereka berhasil.

Geng Setan Beringin menceritakan perseteruan para penguasa dan pencari kekuasaan, antara tokoh-tokoh utama yakni Setan Abu (diperankan oleh Buto Cakil), Jin Ono (Patih Sengkuni), dan genderuwo bernama Rawe (Genderuwo Pohon Mangga).

Film ini menceritakan kehidupan politik supranatural di dalam sebuah pohon beringin besar yang sudah setua waktu itu sendiri. Dalam perjalanan sejarahnya, beringin besar itu telah berganti-ganti penguasa dengan tidak terhitung. Namun, ada satu hal yang abadi: kekuasaan di pohon itu tidak pernah lekang dari tipu daya para jin dan setan yang ada di dalamnya.

Kisah dibuka dengan sebuah kilas balik di mana pada beberapa tahun yang lalu, salah satu setan terkaya di Jakarta bernama Abu menggunakan kekuatan sumber dayanya untuk mengambil alih tahta beringin dari tuyul sepuh (yang juga salah satu tuyul terkaya) bernama Ala (kameo diperankan Jin Kelelawar).

Pada awalnya, kekuasaan Abu sebagai raja beringin berjalan cukup mulus selama beberapa tahun. Melalui posisinya tersebut, ia dapat mengamankan upeti-upeti besar yang diperolehnya. Abu yang sudah sangat sejahtera, menjadi tambah makmur dan mendapatkan kesetiaan para bawahannya.

Kondisi seketika berubah pada saat Abu makin berambisi untuk memperluas kekuasaannya. Tidak puas dengan pohon beringin terbesar, ia ingin menguasai pohon-pohon lainnya di wilayah itu. Sayangnya, kekuatan Abu tidak cukup berpengaruh untuk menundukkan pohon-pohon lainnya, sehingga ia memutuskan untuk bersekutu dengan sekelompok setan melawan kelompok setan lainnya. Meski telah habis-habisan, pihak Abu akhirnya harus mengaku kalah dalam perang.

Di saat inilah Abu mulai kehilangan kendali. Satu per satu, anak buah Abu menujukkan bahwa mereka tidak kalah picik dan culas dengan para pemimpin seperti Abu dan Ala di masa lalu. Salah satunya adalah jin bernama Ono, yang selama ini selalu setia sebagai menteri, ternyata juga haus kekuasaan dan mengincar posisi tahta beringin.

Berbagai tipu daya yang menjadi kebiasaan perebutan tahta beringin pun berlangsung, maneuver politik menyerang dan bertahan dipertontonkan oleh kedua pihak. Abu yang merasa dikhianati sangat ingin menghabisi Ono, sementara Ono sudah silau dengan pandangannya pada tahta, menghalalkan segala cara termasuk merekrut jasa pentolan genderuwo setempat bernama Rawe yang hanya mau berperang demi harta. Perjanjiannya, Ono meraih tahta, sementara Rawe mendapat harta rampasan.

Keputusan Ono tepat. Kekuatan fisik Rawe dan para genderuwonya membuat onar di seluruh penjuru pohon beringin, dan tidak jarang membuat pertikaian terbuka antara pendukung Abu melawan pendukung Ono. Agresifnya hulubalang Rawe membuat sang lawan kehilangan wilayah satu per satu. Abu mencoba untuk mendapatkan bantuan dari sekutunya, mantan penghuni pohon beringin yang kini menjadi raja di pohon lain, jin bernama Praba (diperankan Buto Browo). Namun, ia tidak bisa membantu banyak karena pohon beringin sudah bukan wilayahnya lagi.

Menjelang akhir cerita, film ini juga menunjukkan bahwa ambisi Ono dan Rawe sebenarnya merupakan perintah dari mantan penghuni beringin lainnya, pocong penguasa pohon lain bernama Baloh (diperankan Buto Brewok) yang memang ingin mendapatkan sekutu di tempat tinggalnya dulu. Ono dan Rawe, yang memang digambarkan berkarakter bodoh dan hanya mengejar materi, ternyata hanya merupakan boneka Baloh. Kondisi menjadi semakin rumit setelah terkuak bahwa Baloh sebenarnya bukan pucuk perintah tertinggi, dan secara mengejutkan merupakan kepanjangan tangan Ala, sang tuyul sepuh yang ingin kembali menguasai pohon beringin tempatnya bertahta dulu.

Film ini kemudian ditutup dengan situasi menggantung dan konflik yang belum terselesaikan, namun adegan di mana keseluruhan pohon beringin terbakar dan tertutup asap menggambarkan situasi yang jelas bahwa perseteruan di kedua kubu malah menghancurkan tahta beringin yang mereka idam-idamkan itu.

Geng Setan Beringin memang bukan film yang mudah untuk ditonton. Rumitnya naskah dan plot yang ada membutuhkan tenaga ekstra untuk menikmatinya. Walaupun begitu, perseteruan antara para jin dan setan ini begitu memukau dan mengingatkan kepada intrik politik dalam serial Game of Thrones, dengan adegan tawuran yang digarap rapi namun brutal sekelas Gangs of New York. Sutradara Jendrik juga sukses mengarahkan para aktor dalam menjiwai peran mereka, terutama Genderuwo Pohon Mangga yang sangat sukses memancarkan sifat Rawe yang bengis dan haus akan harta. Patih Sengkuni dan Buto Cakil juga tampak menjiwai peran masing-masing, membuat penonton menjadi iba sekaligus kesal saat melihat wajah mereka.

Geng Setan Beringin diharapkan akan dapat mewakili perfilman Indonesia dengan gemilang di festival-festival film internasional seperti Venice Film Festival, Cannes, Berlinale, Toronto, dan lain-lain. Film ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang menyukai film politik dengan plot dan naskah yang rumit. (SMG)

 

====

 

DISCLAIMER

 

DISCLAIMER TAMBAHAN: Bagian gambar atau foto yang digunakan di atas adalah karya pemilik aslinya masing-masing. Redaksi POS RONDA hanya menyunting dan menyusun kembali bagian-bagian tersebut untuk dijadikan poster film rekaan bagi keperluan hiburan.

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS