Iklan
LATEST TWEET

Koalisi LSM Lingkungan Minta “Human Free Day” Gantikan “Car Free Day”

March 25, 2015       Kesehatan & Lingkungan, Megapolitan, Politik, z_Hot Stuff      
Salah satu sudut pandang di Bundaran Hotel Indonesia saat Car Free Day (CFD). Kegiatan CFD di Jakarta tergolong sukses dengan banyak peminat, namun akhir-akhir ini terdapat kekhawatiran bahwa acara ini dijadikan ajang pendomplengan politik oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. (photo courtesy viva.co.id)

Salah satu sudut pandang di Bundaran Hotel Indonesia saat Car Free Day (CFD). Kegiatan CFD di Jakarta tergolong sukses dengan banyak peminat, namun akhir-akhir ini terdapat kekhawatiran bahwa acara ini dijadikan ajang pendomplengan politik oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. (photo courtesy viva.co.id)

JAKARTA, POS RONDA – Protes dan penolakan atas penggunaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day atau CFD) di sebagai ajang untuk penggalangan dukungan politik mencapai tingkatan baru. Belasan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di bidang pelestarian lingkungan yang tergabung dalam Kelompok Interorganisasi Masyarakat Alam (KIMA) melakukan unjuk rasa untuk mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk menghapus agenda CFD dan menggantinya dengan Human Free Day (HFD) atau Hari Bebas Manusia.

Koordinator Aksi IMAI, Herman Subyantoro, mengatakan bahwa pihaknya sepakat dengan pihak-pihak yang mempertanyakan makin banyaknya aktivitas penggalangan dukungan politik yang seharusnya tidak terjadi di acara yang berlangsung setiap hari Minggu di sepanjang Jalan Sudirman dan Thamrin itu.

“Kebetulan dalam hal ini kami sepakat dengan Gubernur Ahok bahwa CFD seharusnya tidak digunakan untuk kegiatan politik. Tapi, menurut kami seharusnya CFD dihapuskan dan diganti dengan Human Free Day karena kita, manusia, sebagai spesies yang suka berpolitik dan berkomplot, tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Bisa saja hari ini Pak Gubernur bilang bahwa kegiatan politik di CFD tidak boleh, tapi ternyata besok tiba-tiba boleh kalau memang menurutnya bersifat strategis secara politik. Lebih baik sekalian saja manusia dihilangkan dari acara tersebut,” papar Herman di sela-sela orasi para anggota KIMA di area Bundaran Hotel Indonesia pagi ini (25/3).

HFD, menurutnya, akan menjadikan acara mingguan tersebut lebih murni tanpa ada kehadiran manusia dan lebih berdampak positif kepada lingkungan. “HFD kami tujukan untuk mengistirahatkan udara di sepanjang jalan ini dari aroma manusia dan kendaraan yang merusaknya. Manusia dan hasil kreasinya yang kebablasan-lah yang membuat lingkungan hidup menjadi terancam. Dengan HFD, kita berikan jam-jam itu kepada pepohonan dan hewan-hewan liar di Jakarta untuk menikmati ketiadaan manusia beserta bawaan politik dan komersialnya. Biarkan para anjing dan kucing liar, tupai dan musang berlari bebas di jalanan besar tanpa harus takut pada manusia. As a species, we owe them that much.”

Aksi yang diikuti oleh lebih dari 100 orang pengunjuk rasa ini mendapatkan dukungan dari beberapa anggota Dewan Primata Indonesia (DPI), yang berisikan perwakilan para primata di seluruh Indonesia. Oglok, salah satu anggota Fraksi Siamang di DPI yang hadir pada aksi tersebut, mengatakan bahwa manusia harus memberi kesempatan kepada spesies lain untuk ikut menikmati Kota Jakarta.

Di tempat terpisah, meskipun menghargai ide para pengunjuk rasa dari KIMA dan beberapa anggota DPI, Gubernur Tandingan DKI Jakarta Kapten Pus tidak sepenuhnya setuju dengan konsep HFD. Menurutnya, sejak awal adanya CFD tidak hanya untuk mengurangi tingkat polusi kendaraan bermotor, namun juga berfungsi sebagai sarana ajakan bagi masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum, serta tempat bagi penduduk Jakarta untuk bersosialisasi sebagai sebuah komunitas.

“Saya sepakat bahwa saat ini CFD rentan dengan penggalangan politik yang tidak bertanggung jawab, nyan-nyan miaw. Namun CFD tidak perlu dihapuskan dan diganti HFD, justru konsepnya harus disempurnakan menjadi ajang di mana komunitas dan keluarga manusia bisa berinteraksi secara harmonis dengan alam, meski dalam latar perkotaan di Jakarta. Konsep yang tepat adalah melibatkan andil masyarakat dalam menciptakan lebih banyak prasarana hijau dan taman-taman kota yang luas, nyan-nyan miaw,” ujar Kapten Pus memberikan tanggapan pada POS RONDA saat blusukan membasmi tikus di Tanah Abang, siang ini.

Mengenai aktivitas politik, Kapten Pus mengatakan dirinya juga sepakat dengan usulan adanya taman demokrasi, di mana warga masyarakat bisa mendaftarkan diri dan mengantri untuk bisa berorasi ataupun menggelar pidato politik perseorangan ataupun komunitas.

Untuk mencegah agar fasilitas tersebut tidak disalahgunakan oleh organisasi-organisasi atau komunitas politik yang besar, taman demokrasi yang dimaksud harus diperuntukkan bagi individual non-partisan sehingga bisa memberikan kesempatan berbicara bagi masyarakat yang memang kesehariannya tidak berkecimpung di dunia politik praktis. Fasilitas seperti ini, disebut sebagai Speakers’ Corner di dunia internasional, dapat ditemukan di kota-kota di Inggris Raya, Australia, Kanada, Belanda, Trinidad-Tobago, dan beberapa negara lainnya.

Car Free Day di Jakarta dimulai sejak tahun 2007 sebagai kegiatan bulanan. Pada bulan Mei 2012, CFD menjadi kegiatan mingguan di mana sepanjang jalan utama dari area Senayan melewati Sudirman-Thamrin hingga Monumen Nasional (Monas) ditutup sementara untuk kendaraan bermotor dari pukul 06.00 hingga 11.00 setiap hari Minggu. (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS