Iklan
LATEST TWEET

Sering Runtuh dan Ambruk, Pejabat: “Jembatan Jangan Malas, Harus Bisa Menahan Diri”

March 17, 2015       Daerah, Politik, Sosial, z_Hot Stuff      
Jembatan gantung seperti ini sering menjadi denyut nadi kehidupan warga pedesaan dan kampung di berbagai pelosok Indonesia. Tidak jarang, meski dalam kondisi yang tidak baik, jembatan-jembatan ini tetap digunakan karena warga belum memiliki alternatif lain. Saat jembatan seperti ini ambruk (kadang juga memakan korban jiwa), praktis kegiatan ekonomi dan sehari-hari menjadi terhenti. (photo courtesy beritasatu.com)

Jembatan gantung seperti ini sering menjadi denyut nadi kehidupan warga pedesaan dan kampung di berbagai pelosok Indonesia. Tidak jarang, meski dalam kondisi yang tidak baik, jembatan-jembatan ini tetap digunakan karena warga belum memiliki alternatif lain. Saat jembatan seperti ini ambruk (kadang juga memakan korban jiwa), praktis kegiatan ekonomi dan sehari-hari menjadi terhenti. (photo courtesy beritasatu.com)

TANGERANG, POS RONDAPutus dan ambruknya jembatan gantung yang menjadi penghubung antara Desa Tambak dan Pejagan di Kabupaten Lebak, Banten, diperkirakan terjadi karena kondisi jembatan yang sudah tua, lapuk, dan kelebihan beban.

Saat kejadian berlangsung, terdapat 44 murid sekolah dasar dan dua pengendara motor yang tengah menyeberang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun Kepala Sub-bidang Hubungan Penyeberangan Antardesa Pemda Lebak, Ramudin Saputra, mengatakan kepada pers bahwa kesalahan sebagian besar terletak pada sang jembatan sendiri yang tidak bisa menahan diri untuk putus dan ambruk semaunya.

“Ini memang ada kesalahan dalam diri jembatan itu. Dia tidak mampu menahan diri untuk tiba-tiba putus dan runtuh. Sebagai jembatan, sudah tugasnya untuk menahan beban, jadi apapun yang terjadi seharusnya dia bisa tahan,” ujar Ramudin menjawab pertanyaan pers di lokasi jembatan roboh, kemarin (16/3).

Menurutnya, Pemda Lebak akan meminta pertanggungjawaban jembatan tersebut karena dianggap melalaikan tugas dan runtuh semaunya. Ia sendiri mengaku geram terhadap para jembatan-jembatan gantung tua yang tampak sudah reot ataupun rapuh, karena jembatan-jembatan tersebut merupakan jembatan malas yang tidak mampu memelihara dirinya sendiri agar tetap kokoh.

Sebagai infrastruktur yang dibangun oleh anggaran pemerintah, Ramudin beranggapan bahwa jembatan-jembatan seharusnya tidak menyia-nyiakan dana itu. “Mereka (jembatan) dibangun dan dirawat dari anggaran pemerintah, jadi seharusnya mereka tidak mengecewakan kami dengan runtuh semaunya. Mengenai beban berlebih, ya itu memang tugas jembatan, bukan? Soal kuat atau tidak, ya harus kuat. Kalau jembatan bisa seenaknya putus dan rubuh, mau dikemanakan muka pemerintah?”

Meski demikian, informasi yang didapat dari warga dan perangkat desa menyebutkan bahwa jembatan tersebut dibangun pada tahun 1991 atas swadaya masyarakat, dan tali baja yang digunakan tidak pernah diperbaharui karena sulitnya mendapatkan material tersebut. Jembatan ini juga tidak masuk ke dalam agenda perbaikan karena telah menjadi bagian dari rencana pembangunan Waduk Karian.

Keterangan lain dikemukakan oleh Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, yang menyebutkan bahwa jembatan gantung tua tersebut runtuh karena warga tidak berhati-hati dalam menyeberang, terutama para murid sekolah.

Pernyataan ini dinilai kontroversial karena banyak pihak yang menilai sang bupati cenderung menyalahkan tingkah laku anak-anak yang menyeberang jembatan gantung tersebut.

“Saya sampaikan, jembatan kalau ditumpangi banyak orang ‘kan bebannya berat. Ini kemarin jembatannya sudah tua dilalui 46 orang. Misal anak SD 30 kg aja satunya, kondisi bersamaan ada berapa ton? Belum lagi ada kendaraan. Harusnya bergantian. Kadang anak itu bukan hanya menyeberang, tapi jembatannya digoyang-goyang, mengakibatkan kecelakaan,” kata Iti di lokasi seperti dikutip oleh Detik.Com.

Iti sendiri mengakui bahwa kini pihaknya telah mencairkan dana sebesar Rp 200 juta untuk perbaikan darurat jembatan tersebut. Di saat yang bersamaan, Iti juga mengkritik pihak Pemerintah Provinsi Banten yang dianggap selalu mengesampingkan permintaan anggaran tambahan untuk memperbaiki infrastruktur yang sudah tua. Berdasarkan keterangan Iti, terdapat 360 dari total 900 unit jembatan gantung di wilayahnya dalam keadaan rusak.

Menteri Pendidikan Dasar Anies Baswedan dan Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono dikabarkan telah meninjau lokasi kejadian. Saat ini, penyeberangan antara kedua desa dilayani oleh perahu-perahu karet milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS