Iklan
LATEST TWEET

Asosiasi Pedagang Siapkan Gelar “Recommended Seller” Untuk Menteri Rini

February 23, 2015       Ekonomi & Bisnis, Politik, z_Hot Stuff      
Menteri BUMN Rini Soemarno. Rencananya untuk merestrukturisasi BUMN-BUMN dan anak perusahaannya dengan opsi penjualan mendapatkan apresiasi dari APPSI yang akan memberikannya gelar "Recommended Seller". (photo courtesy Tempo.co)

Menteri BUMN Rini Soemarno. Rencananya untuk merestrukturisasi BUMN-BUMN dan anak perusahaannya dengan opsi penjualan mendapatkan apresiasi dari APPSI yang akan memberikannya gelar “Recommended Seller”. (photo courtesy Tempo.co)

JAKARTA, POS RONDA  – Wacana yang dikeluarkan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno mengenai restrukturisasi manajemen dan penjualan aset BUMN mendapat tanggapan dari Asosiasi Penjual, Pedagang, dan Sales Indonesia (APPSI).

Presiden APPSI, Gunawan Salbi, mengatakan bahwa pihaknya telah siap untuk memberikan gelar ‘Recommended Seller’ kepada Menteri Rini apabila upaya tersebut jadi terlaksana. Recommended Seller merupakan gelar tidak resmi bagi para pedagang atau penjual yang dianggap memberikan pelayanan yang baik saat menawarkan barang dagangannya ke klien atau pelanggan.

“Sebagai seorang pedagang sebetulnya saya iri kepada Ibu Rini. Saya punya beberapa gerai dealer, barang jualan saya tentu saja mobil dan kendaraan lain. Tapi Ibu Rini berbeda, dagangannya adalah perusahaan, BUMN pula. Ini contoh pedagang kelas super elite. Bila benar terlaksana, ini akan menjadi prestasi besar, rekor nasional, dan kami akan sangat senang memberikan gelar Recommended Seller,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada pers di Jakarta, pagi ini (23/2).

Gunawan mengaku pihaknya telah mencermati rencana dan program Rini sebagai Menteri BUMN, dengan rencana restrukturisasi dan penyesuaian untuk anak perusahaan BUMN yang bidang usahanya tidak sesuai dengan perusahaan induk.

Saat ini terdapat sekitar 700 anak perusahaan BUMN di Indonesia. Kemungkinan besar, Menteri Rini akan mengajukan opsi penjualan terhadap sebagian dari perusahaan-perusahaan tersebut. Rini sendiri mengaku tengah mengkaji keberadaan 70 rumah sakit yang dimiliki BUMN.

Kemungkinan penjualan skala besar inilah yang membuat Gunawan bersemangat. “Membayangkannya saja bulu kuduk saya sudah berdiri. Ini ibarat impian setiap penjual dan pedagang, bisa menjual dengan skala seperti itu. Kalau dari 700 perusahaan, sepuluh persennya saja sudah 70. Ibu Rini bisa menjadi sales executive paling sukses sepanjang sejarah Indonesia. Beliau bisa menjadi contoh bagi generasi penerusnya di bidang penjualan.”

Salah satu titik fokus dalam opsi penjualan adalah PT Krakatau Tirta Industri, yang merupakan anak perusahaan dari BUMN ternama, PT Krakatau Steel. Menanggap bahwa Krakatau Tirta bergerak di bidang produksi air mineral dan terpaut jauh dengan bidang perusahaan induknya di bidang produksi baja, Rini menanggap keberadaan anak perusahaan tersebut tidak cocok dengan keberadaan Krakatau Steel.

Berdasarkan penelusuran POS RONDA, Krakatau Tirta sebenarnya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan air untuk keperluan industri ringan dan berat di wilayah Cilegon, tidak sekedar air minum. Dengan demikian, sebenarnya produk ataupun jasa yang ditawarkan perusahaan ini masih sesuai dengan kebutuhan Krakatau Steel sebagai industri berat.

Ekonom Universitas Jayabangsa Indonesia (UJI), Carika Liem, juga menganggap wacana penjualan anak perusahaan BUMN yang berbeda inti usaha dengan induknya sebagai langkah yang kurang bijak.

Menurut Carika, pasti ada alasan kenapa anak perusahaan didirikan. Biasanya, memang ada kebutuhan dirasakan oleh perusahaan induk. Kebutuhan tersebut bermacam-macam, mulai dari penghematan biaya suplai bahan baku, perawatan aset, hingga fasilitas penunjang kinerja karyawan dan perusahaan seperti penginapan ataupun rumah sakit.

“Meski berbeda inti usaha, kalau menguntungkan dan sudah well-established, kenapa tidak? Ini kan juga menguntungkan bagi perusahaan induk. Seandainya pemerintah ingin agar BUMN punya forward ataupun backward acquisition yang satu bidang atau berhubungan, tinggal direorganisasi ulang saja. Jadi untuk industri berat, dimasukkan ke BUMN holding industri berat, pariwisata ke holding pariwisata, dan seterusnya. Tidak perlu dijual,” papar Carika saat dimintai pendapat oleh POS RONDA di Kampus UJI, Jumat lalu (20/2).

Selain itu, Ia juga menanyakan perihal dana APBN yang akan digunakan sebagai suntikan dana ke perusahaan-perusahaan pelat merah. “Kemarin APBN disesuaikan, salah satunya untuk suntikan dana BUMN. Kalau memang ada suntikan dana untuk mendukung BUMN, kenapa harus jual aset dan anak perusahaan? Menurut saya, di sini ada yang tidak sinkron dari kebijakan-kebijakan Menteri Rini.” (SMG)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS