Iklan
LATEST TWEET

Solusi Banjir, Kapten Pus: Pemprov Tanam Pohon dan Perbanyak Trotoar Layang

February 11, 2015       Megapolitan, Politik, z_Hot Stuff      
Kapten Pus, Gubernur Tandingan DKI Jakarta, menyarankan kepada Pemprov di bawah Pimpinan Basuki Tjahaja Purnama untuk belajar banyak dari banjir hari Senin lalu (9/2). Selain itu, ia juga menyarankan agar Pemprov memperbanyak penanaman pohon dan pembangunan trotoar layang untuk membantu para kucing, pejalan kaki dan kaum difabel untuk menghindari banjir. (photo courtesy jakartacoconuts.co)

Kapten Pus, Gubernur Tandingan DKI Jakarta, menyarankan kepada Pemprov di bawah Pimpinan Basuki Tjahaja Purnama untuk belajar banyak dari banjir hari Senin lalu (9/2). Selain itu, ia juga menyarankan agar Pemprov memperbanyak penanaman pohon dan pembangunan trotoar layang untuk membantu para kucing, pejalan kaki dan kaum difabel untuk menghindari banjir. (photo courtesy jakartacoconuts.co)

JAKARTA, POS RONDA – Dua hari setelah banjir besar di hari Senin (9/2), Gubernur Tandingan DKI Jakarta Kapten Pus akhirnya angkat bicara. Di tengah-tengah kegiatan blusukan dan perburuan tikus di Kapuk Muara, Penjaringan, pagi ini (11/2), sosok kucing calico tersebut mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah pimpinan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok harus mengambil pelajaran dari peristiwa banjir tersebut.

“Bang Ahok bisa saja bilang bahwa penyebab banjir adalah ini dan itu, tapi setiap kali banjir ya penyebabnya adalah ini-itu yang selalu dibilang olehnya. Tidak ada perbaikan atau pelajaran yang diambil dari setiap banjir,” ujar Kapten Pus. “Memang masyarakat juga berperan dalam menyebabkan banjir dan masalah-masalah turunannya, misalnya dengan masih membuang sampah sembarangan dan mendirikan bangunan secara serampangan, nyan-nyan miaw.”

Meski demikian, berbagai kendala dan penyebab tersebut seharusnya sudah masuk ke dalam pertimbangan prosedur standar penanganan dan pencegahan banjir yang seharusnya dimiliki oleh Pemprov.

“Memang sebagian penduduk masih punya sifat seperti itu, tapi itu seharusnya masuk perhitungan Pemprov. Lalu untuk kasus pemadaman oleh PLN, seharusnya Pemprov telah bersiap sebelumnya dengan membeli generator listrik lebih banyak. Logikanya, anggaran Pemprov yang besar dan sulit terserap itu harusnya bisa dibelikan genset. Logikanya lagi, masa iya waduk-waduk penting hanya diberikan genset berjumlah minimal untuk cadangan? Contingency plan Pemprov rupanya minim sekali, nyan-nyan miaw,” paparnya.

Kapten Pus kemudian merujuk kepada banyaknya potensi ekonomi dan sosial yang hilang karena banjir di hari Senin itu. Banyak ruas jalan tidak dapat dilewati, dan lebih banyak lagi pengguna jalan terutama pejalan kaki yang harus rela naik gerobak atau berbasah-basahan untuk menyeberang jalan ataupun menuju ke lokasi-lokasi tujuan.

Untuk itu, ia mengusulkan agar Pemprov lebih banyak menanam pohon serta memperbanyak trotoar layang yang setinggi minimal 3 meter di atas trotoar atas tanah. Dengan cara seperti itu, maka warga Jakarta punya lebih banyak pilihan untuk melintas kota di saat banjir, baik dengan cara lompat dari pohon ke pohon ataupun berjalan di trotoar layang.

“Jadi pada saat banjir, warga bisa memilih. Kalau yang suka lompat dari pohon ke pohon seperti para kucing dan saya, bisa gunakan pohonnya, nyan-nyan miaw. Bisa ngungsi juga di atas pohon. Untuk pejalan kaki, bisa gunakan trotoar layang. Untuk contohnya, coba bayangkan footbridge seperti Helix Bridge, Millenium Bridge, atau Pont des Arts, tapi bukan di atas air melainkan di atas trotoar-trotoar yang ada sekarang. Gedung-gedung bertingkat harus punya pintu masuk lain yang berada di lantai dua atau tiga, terhubung dengan trotoar layang ini, nyan-nyan miaw,” usul Kapten Pus.

Sang kucing juga menegaskan bahwa setiap kebijakan akan menimbulkan sebab dan akibat, yang juga harus masuk ke dalam langkah pencegahan jika ada akibat negatif. Apabila konsep trotoar layang dapat diperbanyak, harus tetap ada pengawasan supaya hak-hak pedestrian dalam menggunakannya tetap terjaga. Demikian pula dengan akses kepada kaum difabel. Pembangunan trotoar layang tidak boleh menafikkan keberadaan dan kebutuhan mereka. Di akhir pernyataannya, Kapten Pus kembali menekankan pentingnya kerjasama antara mahkluk hidup baik itu manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan, serta pemerintah agar Jakarta kembali menjadi kota dengan “A Mew Hope”, sesuai slogan andalannya.

Hingga artikel ini diturunkan, belum ada respon dari Pemprov maupun DPRD DKI. Meski demikian, usulan Kapten Pus mendapatkan tanggapan positif di media sosial, terutama dalam menyebutkan hak pejalan kaki dan difabel. (SHM)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS