Iklan
LATEST TWEET

[Nah Lho, Kok?] Maling Teriak Maling, Desa Maling Geger

January 28, 2015       Kriminalitas & Hukum, Politik      
(picture from slametux.blogdetik.com)

(picture from slametux.blogdetik.com)

NAH LHO, KOK? (POS RONDA) – Maling memang paling jago kalau teriak maling. Apa yang terjadi kalau satu desa isinya maling semua? Sampai kiamat ya jelas ramai teriak maling-malingan. Inilah kisah yang terjadi di Desa Malingan, Kabupaten Tegalkora, Jawa Tengah. Rupanya, warga desa ini memang solidaritasnya tinggi. Profesi maling bukan cuma milik satu-dua orang belaka, melainkan seluruh penduduknya. Oleh karena itu, sudah dari zaman kuda gigit besi desa ini diberi nama Malingan.

Alkisah, ada mantan maling bernama Somad. Tobat karena keseringan mendengar lagu-lagu Rhoma Irama, ia lantas mencoba untuk mengajak warga lain mengikuti jejaknya. Awalnya Somad berhasil, dan satu-dua tahun kemudian pengikut tobatnya makin banyak.

Tapi sebagaimana masa bulan madu, yang manis-manis pasti berakhir seperti toples gula kehabisan isinya. Ini bermula saat Somad ingin mengajak salah satu pentolan preman setempat bernama Gugun untuk bertobat. Memang dasar desa isi maling, rupanya tobat dan berkelakuan baik itu melenceng dari pakem nenek moyang. Gugun tersinggung, lalu malah menyerang Somad. Untung saja hulubalang Somad yang sigap menggetok kepala Gugun sampai pingsan dan menyeretnya ke markas paguyuban tobat.

Kabar semaputnya Gugun sampai ke gerombolannya, Geng Perut Buncit. Murka layaknya Rahwana, pentolan geng Waguso memutuskan untuk membalas dendam. Getok balas getok, culik balas culik. Demikianlah tradisi Desa Malingan dalam benak Waguso.

Seketika pengikut Somad yang bernama Yanto menghilang. Rupanya, Yanto diculik oleh anak buah Waguso. Satu guru satu ilmu, kepala bandot ketemu kepala kambing, sama-sama bau prengus, sama-sama keras batoknya. Somad yang tidak terima menghimpun para hulubalangnya untuk mendesak Geng Perut Buncit mengembalikan Yanto, sementara Waguso tidak mau tunduk dan menyiapkan anak buahnya untuk melawan.

Saat keadaan genting, eng ing eng… Muncul Pak Kepala Desa, Jono, yang senang bekerja. Pak Kades nyentrik dan doyan nyengir ini rupanya ingin melerai pertikaian Somad dan Waguso. Sayang, niatnya jadi pahlawan gagal total karena ceramah Pak Kades yang nggak jelas.

Sudah tahu satu desa isinya maling, malah diceramahi supaya masing-masing taat hukum. Hukum yang dianut, ya apalagi selain hukum rimba. Apalagi usut punya usut, dulu Somad dan Gugun rupanya punya andil membantu Jono waktu pemilihan kades. Keduanya belum dapat jatah dari Jono hingga saat ini, pasti sakitnya tuh di sini. Jadi, mana mau mereka angguk-angguk manut sama Pak Kades yang ternyata bukan merpati yang selalu menepati janji?

Karena didesak Somad dan hulubalangnya, Waguso melepaskan Yanto. Tapi seperti sinetron, cerita tak berakhir begitu saja. Satu demi satu bawahan Somad jadi sasaran. Yanto dipaksa keluar dari paguyuban tobat, sementara Pandi dan Dzul diancam culik. Jadilah dunia permalingan tambah geger karena para begal dan mantan begal bertikai, saling tuding, saling maling.

Mungkin memang sudah hukum karma, jikalau satu desa ribut, desa lain bersorak-sorak. Sewaktu geger, ndilalah kok Pak Ripot, maling unggulan dari desa sebelah, menyatroni Desa Malingan dan menjarah rumah-rumah penduduk. Karena masih gegeran sendiri, tak ada yang sadar dan Pak Ripot bisa kabur dengan aman sentosa, sementara warga Desa Malingan akhirnya hanya bisa gigit jari waktu sadar rumahnya jadi kapal pecah.

Makanya, maling jangan jadi profesi. Maling teriak maling, akhirnya malah dimaling orang lain lagi. Malu, ‘kan? (Shaka M)

 

===

 

DISCLAIMER

 

*Artikel ini adalah sebuah tribute untuk rubrik “Nah Ini Dia” di Harian POS KOTA.

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS