Iklan
LATEST TWEET

Penduduk Desa Kazakhstan Direlokasi Akibat Penyakit Tidur, Anggota DPR-RI Dikhawatirkan Terlibat

January 08, 2015       Internasional, Kesehatan & Lingkungan, Politik, z_Editor's Choice, z_Hot Stuff      
Tambang uranium yang terletak di dekat Desa Kalachi, Kazakhstan. Meski telah ditinggalkan selama lebih dari dua dekade, terdapat teori bahwa radiasi dari tambang ini telah menyebabkan penyakit tidur yang terjadi di desa itu. Namun, berdasarkan laporan, tingkat radiasi di udara, tanah, dan sumber air desa ternyata normal. (photo courtesy of Russia Today)

Tambang uranium yang terletak di dekat Desa Kalachi, Kazakhstan. Meski telah ditinggalkan selama lebih dari dua dekade, terdapat teori bahwa radiasi dari tambang ini telah menyebabkan penyakit tidur yang terjadi di desa itu. Namun, berdasarkan laporan, tingkat radiasi di udara, tanah, dan sumber air desa ternyata normal. (photo courtesy of Russia Today)

ASTANA, POS RONDA – Lebih dari separuh populasi Desa Kalachi yang terletak di bagian utara Republik Kazakhstan dilaporkan tengah dalam proses direlokasi menuju tempat lain akibat ‘penyakit tidur’ yang misterius.

Seperti yang dilansir oleh BBC Monitoring, penduduk Kalachi mengalami penyakit yang tidak dapat dijelaskan sejak dua tahun lalu. Baik orang dewasa maupun anak-anak dihinggapi kondisi di mana mereka dapat seketika tertidur hingga berhari-hari. Lebih dari 100 kasus telah dilaporkan, dan seringkali disertai dengan kehilangan ingatan serta halusinasi. Desa Kalachi bahkan mendapat julukan ‘Sleepy Hollow’ akibat fenomena itu.

“Kalau dibangunkan, sebenarnya dia ingin bangun tapi seperti tidak bisa membuka mata. Jadinya hanya tidur dan tidur.” ungkap Igor Samusenko, seorang penduduk yang anaknya menjadi korban penyakit tidur, seperti dilaporkan dalam laporan BBC Monitoring tersebut.

Tim dokter dan peneliti belum mampu menjawab apa yang terjadi dengan warga desa. Terdapat opini bahwa penduduk desa terkena hipnosis massal, namun teori yang paling populer adalah Kalachi terpapar radiasi dari tambang uranium yang sudah ditinggalkan dua dekade lalu, yang terletak tidak jauh dari desa itu. Meski demikian, kadar radiasi di udara, tanah, maupun sumber air desa dilaporkan berada dalam tingkat normal.

Di antara berbagai alternatif penyebab ‘penyakit tidur’ tersebut, pihak otoritas setempat mengajukan kemungkinan bahwa fenomena yang terjadi di Kalachi ini berkaitan erat dengan keterlibatan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Republik Indonesia (DPR-RI).

Teori ini muncul dari laporan warga Kalachi kepada tim dokter dan peneliti, yang bertanya apakah dalam dua tahun terakhir ini terdapat kegiatan yang tidak biasa di desa itu. Warga tersebut menceritakan bahwa Kalachi kedatangan tamu yang merupakan anggota DPR dari Indonesia sekitar tahun 2013. Anggota DPR yang belum diketahui identitasnya tersebut tampaknya datang untuk studi banding dan berjalan-jalan mengelilingi desa. Sejak itu pula fenomena ini dimulai.

Waktu dalam keterangan warga tersebut rupanya bertepatan dengan kunjungan para pejabat Indonesia. Pada bulan September 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongannya mengunjungi negeri itu sebagai bagian dari lawatannya ke tiga negara yaitu Kazahkstan, Polandia, dan Rusia.

Namun, beberapa bulan sebelumnya, para anggota DPR-RI dari Komisi I dan Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) melakukan kunjungan kerja ke Kazakhstan guna melakukan studi banding dan membahas kerjasama antara kedua negara.

Tidak diketahui secara rinci jadwal para anggota DPR di Kazakhstan pada saat itu, namun dikhawatirkan minimal salah satu dari rombongan tersebut mengunjungi Desa Kalachi secara tidak terjadwal. Anggota DPR tersebut diperkirakan merupakan inang dari virus ‘penyakit tidur’, dan kemudian menulari para penduduk desa.

“Jika melihat dari waktu yang diperkirakan, ini cocok sekali. Mungkin saja seorang dari mereka pergi ke Kalachi dan menularkan virus penyakit tidur itu. Mohon maaf, tapi reputasi anggota DPR Indonesia sering tertidur saat rapat sudah sampai ke Kazakhstan, jadi kemungkinan tersebut tidak bisa kami anulir.” jelas Sergey Sagdiyev, seorang anggota tim peneliti kasus Kalachi kepada koresponden POS RONDA di Astana, pagi ini (8/1).

Pihak berwenang Kazakhstan menyatakan akan menindaklanjuti hasil laporan ini dan melacaknya, meski cukup sulit mengingat anggota DPR-RI yang dimaksud belum tentu masih menjabat pada parlemen periode ini.

Teori lain menyebutkan bahwa penyakit tidur ditularkan pada saat ada anggota DPR-RI yang mengunjungi Kalachi pada tahun 2013. Dikhawatirkan, anggota DPR tersebut merupakan inang virus Trypasotidura malesisangatis, sumber penyakit tidur yang secara unik biasa ditemukan di dalam tubuh anggota parlemen di Indonesia. (photo courtesy sisidesa.com)

Teori lain menyebutkan bahwa penyakit tidur ditularkan pada saat ada anggota DPR-RI yang mengunjungi Kalachi pada tahun 2013. Dikhawatirkan, anggota DPR tersebut merupakan inang virus Trypasotidura malesisangatis, sumber penyakit tidur yang secara unik biasa ditemukan di dalam tubuh anggota parlemen di Indonesia. (photo courtesy sisidesa.com)

 

Virus Trypasotidura Malesisangatis

Di Indonesia, pakar psikiatri politik Prof. Nugroho Subekti Asmorowiloto, PhD mengaku memiliki teori yang bisa menjawab fenomena tersebut. Ia menyebutkan bahwa memang ada kemungkinan anggota DPR dari Indonesia menjadi awal dari ‘penyakit tidur’ di Kalachi.

Menurut Nugroho, penyakit tidur ini berbeda dengan penyakit tidur akibat lalat tse-tse yang banyak terjadi di Afrika. Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa jenis virusnya pun berbeda.

“Penyakit tidur di Afrika disebabkan oleh Trypasonoma brucei gambiense, yang sering ditularkan dari lalat tse-tse ke manusia. Dalam kasus di Kalachi, kondisinya adalah ditularkan dari manusia inang ke manusia lain. Ini memang kasus unik, karena dari hasil penelitian saya selama di sini (Indonesia), anggota parlemen di segala tingkatan sebagian besar memiliki unsur virus Trypasotidura malesisangatis.” paparnya saat memberi keterangan pada POS RONDA.

Virus ini, menurut Nugroho, mudah tumbuh pada organisme penampung yang berprofesi sebagai politisi, terutama di bidang legislatif namun khusus di Indonesia. Setelah berkembang biak pada inang, maka pada saat tertentu virus tersebut akan menyebar dan menularkan penyakit tidur ke manusia lainnya.

“Penduduk desa Kalachi hanya ketiban sial. Kita tidak pernah tahu kapan Trypasotidura akan memutuskan untuk menular, dan itu kemungkinan terjadi saat ada anggota DPR yang berkunjung ke sana.” jelas Nugroho lebih lanjut.

Sayangnya, penyakit tidur yang berasal dari virus ini belum diketemukan obatnya. Meski Nugroho mengaku tim-nya juga tengah melakukan riset untuk pembuatan obat dan penawarnya, belum dapat dipastikan kapan penelitian itu akan menunjukkan hasil yang memuaskan. (Sha01)

 

====

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS