Iklan
LATEST TWEET

Setelah Gula, Indonesia Segera Impor Semut

January 06, 2015       Ekonomi & Bisnis, Internasional, Sosial, z_Hot Stuff      
Semut, komoditas baru yang akan diimpor oleh pemerintah Indonesia untuk menyeimbangkan harga gula secara alami. Dengan membanjirnya semut, diharapkan konsumsi gula akan meningkat sehingga petani tebu dan produsen gula lokal bisa menikmati harga yang lebih seimbang. (photo courtesy theguardian.co.uk)

Semut, komoditas baru yang akan diimpor oleh pemerintah Indonesia untuk menyeimbangkan harga gula secara alami. Dengan membanjirnya semut, diharapkan konsumsi gula akan meningkat sehingga petani tebu dan produsen gula lokal bisa menikmati harga yang lebih seimbang. (photo courtesy theguardian.co.uk)

JAKARTA, POS RONDA – Menyusul meningkatnya arus masuk impor gula mentah (raw sugar)  ke Indonesia, pemerintah disinyalir akan menyusun kebijakan untuk meningkatkan arus impor semut dari luar negeri. Kebijakan ini diharapkan akan mampu menyeimbangkan harga gula serta meningkatkan daya jual gula lokal di pasaran.

Pada bulan Desember lalu, wakil presiden Jusuf Kalla menyatakan meski pemerintah nantinya akan membatasi impor gula, untuk saat ini hal tersebut tidak dimungkinkan karena produksi gula dalam negeri masih belum mencukupi. Kebutuhan gula nasional mencapai 4,5 juta ton sementara produksi dalam negeri hanya 2,8 juta ton. Meski demikian, impor gula akan berpengaruh negatif terhadap harga yang akan diterima oleh para petani tebu dan produsen gula lokal. Oleh karena itu, impor semut menjadi solusi dalam menyeimbangkan harga gula.

Menurut staf ahli Kementerian Perdagangan (Kemendag) Very Romiawan, impor semut diperlukan untuk menjaga agar tingkat permintaan gula tetap tinggi, dan dengan sendirinya tetap mempertahankan tingkat harga yang menguntungkan bagi petani tebu lokal.

“Kita tentu ingat peribahasa, ada gula ada semut. Maka hal itu kami terjemahkan dalam kebijakan untuk menyelamatkan para petani  dan pekerja tebu di tanah air. Kami tidak bisa menghentikan impor gula mentah karena memang kebutuhan gula dalam negeri tinggi. Tapi untuk menjaga harga gula lokal, kami datangkan semut impor yang memang makanannya gula.” papar Very  saat memberikan keterangan pers di kantor Kemendag, pagi ini (6/1).

Semut-semut tersebut akan didatangkan dalam jumlah jutaan ekor secara bertahap dari berbagai negara, di antaranya Angola, Madagaskar, India, Australia, dan Argentina. Selain memberikan insentif terhadap importir swasta, Kemendag juga akan bekerja sama dengan Kementerian BUMN (KemenBUMN) untuk memastikan bahwa arus suplai semut dari negara-negara sahabat akan mengalir dengan lancar.

Very menjelaskan bahwa kerjasama dengan KemenBUMN akan melibatkan pembentukan badan usaha baru yang kemungkinan besar akan menjadi anak usaha bagi PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), BUMN yang memang bertugas menjadi kantor dagang utama Indonesia dan bergerak di bidang ekspor, impor, dan distribusi.

“Badan usaha baru itu rencananya akan diberi nama Formica Indonesia Trading, Redistributions, and Logistics (FITRAL) ditunjuk secara resmi untuk fokus mengurusi impor dan distribusi semut, dan nantinya akan berbasis di Singapura untuk mempermudah akses dan jangkauan kepada distributor-distributor semut internasional. Dari distributor internasional, semut dibeli oleh FITRAL, kemudian ke PT PPI, kemudian ke distributor lokal, lalu dilepas ke pasaran.” ujarnya

Ia mengaku bahwa alur ini akan meningkatkan harga semut impor saat masuk ke Indonesia. Meski demikian, Very berdalih bahwa ini diperlukan untuk menciptakan sistem kontrol yang baik agar memastikan semut impor dari pemerintah lebih berkualitas. Untuk harga semut yang lebih murah, menurutnya, akan diserahkan kepada para importir swasta.

Mengenai distribusinya di dalam negeri, terdapat dua metode. Metode pertama adalah dengan memastikan sebagian dari semut-semut itu dijual kepada para pecinta satwa sebagai hewan peliharaan, sementara metode kedua adalah dengan melepas mereka untuk mencari makanan secara liar di wilayah perumahan dan pasar sehingga bisa membentuk mekanisme harga pasaran gula secara alami.

“Dengan dua metode ini, maka diharapkan harga gula akan menjadi seimbang secara alami dan para petani tebu lokal dapat diuntungkan.” harap Very.

Kegiatan impor ini akan dimulai pada akhir bulan Januari 2015. Saat ditanya mengenai kepastian keberhasilan penyeimbangan harga, ia sendiri mengaku tidak sepenuhnya percaya diri dan meminta masyarakat berdoa untuk keberhasilan kebijakan ini. (Sha01)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS