Iklan
LATEST TWEET

Solusi Jam Karet, Ilmuwan Indonesia Kembangkan Alat Teleportasi

November 25, 2014       Pendidikan, Politik, Sosial      
Fenomena keterlambatan sering terjadi di Indonesia, biasa disebut dengan 'jam karet'. Tidak hanya masyarakat biasa, para pejabat juga tidak asing dengan fenomena tersebut. Seorang ilmuwan di Bandung memimpin tim untuk menciptakan prototipe alat teleportasi, yang diharapkan bisa meminimalisir dampak dari fenomena jam karet. (photo courtesy guardian.co.uk)

Fenomena keterlambatan sering terjadi di Indonesia, biasa disebut dengan ‘jam karet’. Tidak hanya masyarakat biasa, para pejabat juga tidak asing dengan fenomena tersebut. Seorang ilmuwan di Bandung memimpin tim untuk menciptakan prototipe alat teleportasi, yang diharapkan bisa meminimalisir dampak dari fenomena jam karet. (photo courtesy guardian.co.uk)

BANDUNG, INDONESIA – Sejumlah ilmuwan, peneliti, dan mahasiswa di Advanced Engineering School of Bandung (AESB) kini tengah berusaha mengembangkan pembuatan alat teleportasi. Paling lambat dalam sepuluh tahun, diperkirakan prototipe alat tersebut akan dirampungkan. Indonesia akan memiliki alat teleportasi seperti yang biasa dilihat dalam serial Star Trek atau Pintu Ke Mana Saja ala Doraemon.

Optimisme tersebut dikemukakan oleh Prof. Yana Sulana, pimpinan tim yang bertugas mengembangkan prototipe itu. Ia juga menjanjikan bahwa alat teleportasi ini juga akan meringankan beban transportasi di Indonesia yang akan semakin padat satu dasawarsa ke depan.

Meski demikian, yang menjadi pencetus ide bagi Yana untuk berusaha mengembangkan alat ini bukanlah beban transportasi yang makin menumpuk, melainkan budaya jam karet yang sering terjadi di Indonesia.

“Sewaktu saya mengajar, mahasiswa saya sering sekali terlambat. Kemudian sewaktu ada acara kampus, biasanya dimulai terlambat karena para pejabat seperti rektor dan dekan juga datang telat. Rekan-rekan sejawat saya di berbagai instansi pemerintah juga bercerita bagaimana acara-acara dan agenda-agenda yang sudah dijadwalkan sering tertunda karena para pejabat telat datang. Dengan adanya alat ini, saya harap bisa mengurangi budaya jam karet pada masyarakat kita.” papar Yana di salah satu ruang laboratorium AESB pagi ini (25/11).

Sering terlambatnya para pejabat dalam menaati jadwal agenda dan acara sering terjadi di Indonesia. Contoh terbaru adalah saat peresmian jalur kereta api perintis Sidoarjo-Mojokerto, yang tertunda akibat sang Bupati Sidoarjo terlambat hadir. Beberapa bulan lalu, sejumlah pejabat pemerintah Kota Madiun juga datang terlambat saat akan dilantik.

Meskipun sang pejabat bisa saja berdalih akibat banyaknya kesibukan atau terhambat infrastruktur yang tidak memadai, seharusnya kondisi seperti ini sudah dijadwalkan dan dipersiapkan sebaik mungkin agar tidak ada agenda yang terhambat. Seringnya kejadian ini terjadi menjadi sorotan masyarakat yang merasa gerah dengan ketidakdisiplinan aparat pemerintah, meskipun masyarakat sendiri juga tidak luput dari kelakuan jam karet.

“Apabila sudah selesai, saya akan mengajukan agar alat teleportasi diujicobakan dulu di kantor-kantor milik pemerintah, terutama untuk para pejabat. Ini bisa meminimalisir alasan untuk datang terlambat pada tugas yang sudah diagendakan. Apabila sukses, maka kami berniat untuk memproduksinya secara masal untuk kebutuhan publik yang lebih luas.” ujar Yana.

Lalu seperti apa bentuk prototipe alat teleportasi ini nantinya? Yana menjelaskan bahwa timnya masih memutar otak mencari bentuk yang paling cocok dengan dinamika teori fisika yang berkaitan dengan fenomena teleportasi. Ia mengaku telah memilih banyak opsi bentuk dari bak mandi, daun pintu, lemari baju, kandang ayam, hingga boks telepon umum. Ia tidak mau bercerita lebih jauh mengenai komponen-komponen di dalamnya, yang dikategorikan sebagai rahasia penelitian.

Namun, yang menjadi perhatian utama adalah faktor keamanan bagi para pengguna alat teleportasi itu. Menurut Yana, yang tersulit adalah memecah dan menyatukan kembali sel-sel mahkluk hidup pengguna alat pada saat mencapai tempat tujuan. Apabila hal ini tidak dilakukan dengan sempurna, maka bisa saja terjadi kesalahan saat penyatuan sel kembali.

Safety. Unsur safety itulah yang paling penting bagi kami. Apalagi ini akan digunakan oleh para pejabat dan masyarakat luas. Apabila kami mengacaukannya, bentuk badan dan organ tubuh mungkin tidak akan sama saat anda masuk dan keluar dari alat teleportasi ini. Kita tentu tidak mau ‘kan ada pejabat yang otaknya pindah ke dengkul? Atau kalaupun sudah di dengkul, lalu malah hilang, jadinya kan lebih parah.” ujarnya dengan wajah serius.

Yana mengakui bahwa banyak tantangan dalam mengembangkan alat ini. Walaupun begitu, ia mengaku optimis bahwa timnya bisa bekerja sesuai dengan tenggat waktu yang ada dan tidak akan terlambat dalam pembuatan prototipe. (Sha01).

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS