Iklan
LATEST TWEET

Kendalikan Harga, Kementan Siapkan Sandal Jepit Sebagai Pengganti Cabai

November 24, 2014       Ekonomi & Bisnis, Politik, Sosial      
Sandal jepit. Barang yang biasanya dipakai untuk alas kaki ini ternyata memiliki fungsi lain sebagai komoditas pengganti cabai. Berdasarkan hasil litbang Kementerian Pertanian, rasa panas dan pedas yang dihasilkan oleh sandal jepit bisa mencapai tingkat yang sama dengan cabai. (photo courtesy berdikarinews.com)

Sandal jepit. Barang yang biasanya dipakai untuk alas kaki ini ternyata memiliki fungsi lain sebagai komoditas pengganti cabai. Berdasarkan hasil litbang Kementerian Pertanian, rasa panas dan pedas yang dihasilkan oleh sandal jepit bisa mencapai tingkat yang sama dengan cabai. (photo courtesy berdikarinews.com)

JAKARTA, POS RONDA – Meroketnya harga pasaran berbagai jenis cabai mengikuti naiknya harga BBM membuat sebagian masyarakat mengeluh. Di beberapa daerah, harga cabai naik dua hingga tiga kali lipat, bahkan ada yang mencapai lebih dari Rp 100.000 per kilogram. Para penjual di pasar kota Gorontalo terpaksa menaikkan harga dari Rp 95.000 menjadi Rp 120.000 per kilo. Tidak hanya karena naiknya harga BBM, sebagian penjual juga menganggap naiknya harga cabai ini akibat kemarau berkepanjangan di beberapa daerah yang membuat komoditas pelengkap kuliner ini menjadi berkurang jumlah panennya.

Menghadapi fenomena ini, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) tidak tinggal diam dan segera bertindak untuk mengendalikan harga. Selain akan mulai membangun lumbung-lumbung baru untuk menyimpan hasil panen di berbagai desa, departemen yang kantornya berlokasi di wilayah Ragunan, Jakarta Selatan, tersebut juga mengeluarkan kebijakan untuk bekerja sama dengan BULOG dan Kementerian Perdagangan untuk menyediakan sandal jepit di pasar-pasar sebagai barang subtitusi atas komoditas cabai.

Keputusan tersebut disampaikan oleh Eddy Tanawirya, Ditjen Komoditas Subtitusi Kementan, dalam konferensi pers pagi ini (24/11) di Gedung Kementerian Pertanian, Jakarta. Dalam pernyataannya tersebut, Eddy juga menekankan bahwa sandal jepit adalah komoditas yang paling tepat untuk dijadikan subtitusi cabai apapun jenisnya.

“Berdasarkan hasil litbang yang telah kami lakukan, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sandal jepit memang cocok untuk dijadikan subtitusi cabai. Kami menemukan bahwa skala Scoville sandal jepit bisa mencapai tingkat yang sama dengan cabai. Memang ini sedikit radikal, tapi kami percaya bahwa litbang kami akurat.” ujar Eddy.

Ia kemudian menjelaskan bagaimana sandal jepit bisa menjadi pengganti salah satu komoditas pertanian favorit Indonesia itu. Eddy memulai dengan memakan cemilan yang sudah disediakan di mejanya, dan seketika langsung memukulkan sebuah sandal jepit ke mulut dan bibirnya.

“Jadi caranya mudah, setelah anda makan satu suap langsung pukulkan sandal jepit ke mulut anda. Kami jamin rasanya sama panas dan sama pedas dengan makan cabai. Jika kurang pedas, pukulkan lebih keras lagi. Dari hasil percobaan kami, bahkan mulut dan bibir bisa berwarna sangat merah, persis seperti memakan cabai yang sangat pedas.” jelasnya.

Eddy kemudian mempersilahkan para wartawan yang berada di ruangan konferensi pers untuk mencoba bereskperimen menggunakan sandal jepit sebagai pengganti cabai. Namun, antusiasme yang ada cukup rendah karena para mereka kurang tertarik mencobanya. Hanya ada satu orang yang mau mencoba.

“Lumayan sih pedasnya. Tapi sakitnya tuh di sini.” komentar wartawan tersebut sambil menunjuk mulutnya.

Meski demikian, Eddy bersikukuh dengan menambahkan argumen bahwa sandal jepit bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Maka, masyarakat cukup membeli satu sandal jepit yang bisa digunakan untuk seluruh keluarga hingga waktu satu tahun atau lebih. Menurutnya, ini bisa menghemat pengeluaran keluarga terutama yang berada dalam kategori ekonomi lemah.

“Kami paham bahwa tetap ada perbedaan di mana cabai bisa masuk ke mulut dan tenggorokan, sementara sandal jepit tidak. Akan tetapi rasa panas dan pedas di mulut itu sama. Saya rasa masyarakat harus bisa melakukan revolusi mental dengan berpikir cabai dan sandal jepit itu memiliki efek yang sama.” papar Eddy.

Mengenai kerjasama dengan lembaga lain, Ia mengatakan bahwa Kementan akan mengandalkan Kemendag untuk permasalahan suplai sandal jepit baik dari dalam negeri maupun impor, sementara BULOG akan bertugas untuk bidang distribusi ke masyarakat melalui pasar-pasar tradisional. Operasi ini akan dilakukan sesegera mungkin.

Selain itu, Kementan sudah menyiapkan tiga jenis sandal jepit berdasarkan tebal alasnya. Terdapat alas sandal jepit yang tipis, sedang, dan tebal. Semakin tebal alas tersebut, makin panas dan pedas pula yang akan dirasakan oleh mulut dan bibir konsumen. Berdasarkan keterangan Eddy, penyediaan variasi ketebalan alas ini dimaksudkan agar masyarakat bisa memilih sendiri kebutuhannya masing-masing. (Sha01)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

One Respond

  • ares

    on December 16, 2014, 00:41:14

    Sebenarnya banyak solusi untuk menghadapi setiap permasalahan. Hanya saja masyarakat kurang cerdik dan lebih banyak mengeluh daripada mencari solusi.
    Alternatif sendal jepit ini bagus sekali.. brilliant!!
    Selain sendal jepit harganya tidak terlalu mahal ini juga bisa dipakai berkali-kali!
    Mungkin untuk restoran bintang lima bisa menggunkan sepatu bot atau wedges…

    Reply to ares


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS