Iklan
LATEST TWEET

Respon Kenaikan BBM, Industri Otomotif Siapkan Mobil ‘Flintstones’ Untuk Indonesia

November 20, 2014       Ekonomi & Bisnis, Internasional, z_Hot Stuff      
Prototipe mobil ala Flintstones yang disiapkan oleh Victio dalam acara konferensi pers di Singapura, kemarin (19/11). Kendaraan ini tidak membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) sehingga pemiliknya tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra. Victio mengklaim bahwa produk terbarunya ini ideal untuk Indonesia, yang baru saja menaikkan harga BBM secara nasional. (photo courtesy holisticwellnessnetwork.com)

Prototipe mobil ala Flintstones yang disiapkan oleh Victio dalam acara konferensi pers di Singapura, kemarin (19/11). Kendaraan ini tidak membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) sehingga pemiliknya tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra. Victio mengklaim bahwa produk terbarunya ini ideal untuk Indonesia, yang baru saja menaikkan harga BBM secara nasional. (photo courtesy holisticwellnessnetwork.com)

SINGAPURA, POS RONDA – Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia ternyata membuka peluang baru bagi para produsen kendaraan di luar negeri. Setelah merintis SUV varian 4×6 dan 6×4 dengan bahan baku kaleng kerupuk dan biskuit yang didaur ulang, perusahaan mobil asal Eropa, Victio Motions, kembali merambah pasar Indonesia dengan merencanakan pembuatan mobil ala kartun Flintstones, yang tidak menggunakan bahan bakar selain tenaga kaki.

Rencana tersebut dikemukakan oleh Direktur Pemasaran Victio untuk wilayah Asia, Rupert Choi. Ia mengatakan bahwa mobil terbaru ini akan diterima masyarakat Indonesia yang menginginkan harga kendaraan yang murah, ramah lingkungan, dan tidak membutuhkan pengeluaran ekstra untuk bensin.

“Tipe mobil ‘Flintstones’ ini sesuai dengan visi kami untuk mobil murah yang ramah lingkungan. Pengguna mobil bisa menjadi lebih sehat karena kendaraan ini menggunakan tenaga kaki untuk bergerak. Di saat yang bersamaan juga tidak memerlukan bensin, sehingga bisa mengurangi pengeluaran masyarakat. Sekali lempar dua burung, dengan mobil ini anda bisa lebih sehat sekaligus sejahtera.” papar Choi dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Marina Bay Sands, Singapura, kemarin (19/11).

Menurut Choi, Indonesia akan menjadi pasar perdana bagi mobil yang hingga kini masih belum diberi nama tersebut. Pemilihan Indonesia disebabkan oleh kondisi naiknya harga BBM yang baru saja ditetapkan oleh pemerintah sehari sebelumnya. Maka, sudah pasti muncul segmen masyarakat yang menghendaki kendaraan tanpa bensin.

Namun, dia juga mengaku bahwa dalam kondisi harga minyak dunia yang tengah turun saat ini, hanya Indonesia yang menaikkan harga bahan bakar sehingga ideal untuk dijadikan pasar perdana. Negara-negara di Afrika bisa menjadi pilihan, namun pangsa pasar untuk kelas menengah di Indonesia memang jauh lebih menggiurkan untuk dibanjiri pilihan mobil murah dan tanpa bensin.

“Memang melihat dari kondisinya, Indonesia adalah pasar ideal untuk produk ini. Sebagai kekuatan ekonomi dan pasar terbesar di Asia Tenggara, tidak ada tempat yang lebih baik lagi untuk meluncurkan mobil tanpa bahan bakar ini. Kendaraan ini akan diproduksi menggunakan bahan-bahan yang berasal dari Indonesia, sehingga juga akan membantu pertumbuhan ekonomi di Indonesia.” jelas Choi.

Meski demikian, lokasi produksi akan tetap dilakukan di pabrik-pabrik Victio yang berlokasi di Thailand, Vietnam, dan Myanmar. Setelah proses produksi nanti selesai, maka kantor di Singapura akan mengambil alih urusan pemasaran dan penjualannya ke Indonesia.

Choi menambahkan bahwa akan ada beberapa varian menyangkut produk terbaru Victio ini. Varian pertama membutuhkan kaki pengemudi dan penumpang untuk ikut berjalan di aspal, sementara varian kedua akan menggunakan pedal sebagai penggeraknya. Proses produksi diperkirakan akan dimulai pada kwartal awal 2015.

“Victio optimis bahwa produk kami ini akan diterima dengan hangat oleh publik di Indonesia. Kami menargetkan penjualan awal sebanyak 1 juta unit.” ujar Choi.

Konsep kendaraan beroda empat dengan tenaga manusia sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Di Yogyakarta dan Pangandaran, telah terdapat mobil gowes yang menggunakan pedal sebagai instrumen penggerak. Namun, selama ini keberadaan mobil gowes masih diperuntukkan kepada dunia pariwisata dan tidak diproduksi secara masal sebagai kebutuhan transportasi sehari-hari. (Sha01)

 

====

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS