Iklan
LATEST TWEET

Takut Mahasiswa Jadi Pejabat Suka Ngutang, Kantin Kampus Ramai-ramai Tutup

October 15, 2014       Ekonomi & Bisnis, Pendidikan, Politik      
Pemandangan ramai di kantin kampus seperti ini mungkin tidak lama lagi akan menjadi kenangan. Akibat kantin kantor DPRD di beberapa kota bangkrut akibat para anggota dewan yang menunggak bayar makan dan minum, para pengusaha makanan khawatir bahwa mahasiswa yang suka menghutang di kantin akan tumbuh menjadi pejabat yang serupa. Tidak mau terhimpit oleh beban moral karena membiarkan mahasiswa menghutang, para pengusaha kedai, warung, dan kios makanan di areal kampus di Indonesia ramai-ramai memutuskan untuk gulung tikar. (photo courtesy manshurzikri.wordpress.com)

Pemandangan ramai di kantin kampus seperti ini mungkin tidak lama lagi akan menjadi kenangan. Akibat kantin kantor DPRD di beberapa kota bangkrut akibat para anggota dewan yang menunggak bayar makan dan minum, para pengusaha makanan khawatir bahwa mahasiswa yang suka menghutang di kantin akan tumbuh menjadi pejabat yang serupa. Tidak mau terhimpit oleh beban moral karena membiarkan mahasiswa menghutang, para pengusaha kedai, warung, dan kios makanan di areal kampus di Indonesia ramai-ramai memutuskan untuk gulung tikar. (photo courtesy manshurzikri.wordpress.com)

JAKARTA, POS RONDA – Peristiwa tutupnya kantin di gedung DPRD Kota Makassar akibat para anggota legislatif yang menunggak pembayaran makan dan minum menuai keprihatinan dari berbagai pihak. Para pemilik kantin mengaku bangkrut, tidak lagi sanggup membayar biaya operasional usaha miliknya karena tidak ada modal yang tersisa. Berdasarkan catatan media massa, kejadian serupa juga terjadi di kantor DPRD Kabupaten Bantul pada tahun 2013.

Khawatir hal ini kembali terulang, para pengusaha kedai, warung, dan pemilik kios di berbagai kantin kampus dan universitas di Tanah Air memilih untuk gulung tikar dan banting setir ke bidang atau tempat lain. Menariknya, keputusan menutup kedai, warung, dan kios makanan mereka tidak didasari oleh kurangnya modal.

Mereka takut mahasiswa yang biasa menyambangi kedai dan kios mereka nantinya akan menjadi pejabat yang doyan berhutang. Ini disebabkan para mahasiswa dan anggota legislatif rupanya punya kebiasaan yang sama, yaitu berhutang di kantin.

“Para anggota kami yang kebetulan berusaha di areal kampus tidak mau menanggung beban moral. Mereka khawatir para mahasiswa yang suka berhutang di warung dan kios nantinya menjadi para pejabat yang suka ngutang di kantor pemerintahan sampai kantinnya gulung tikar,” ujar Rusman Mawirdi, ketua Persatuan Pengusaha Kantin Nasional (PPKN), wadah yang menaungi para pengusaha kedai,warung, dan kios makanan di seluruh Indonesia.

Dalam perbincangan yang dilakukan bersama POS RONDA pagi ini (15/10), Rusman mengaku telah mencoba meyakinkan para anggotanya untuk tetap berjualan di wilayah kampus. Bagaimanapun, para mahasiswa dan pelajar tetap membutuhkan produk dan jasa mereka sebagai penjual makanan.

Namun, mereka tetap teguh pada pendiriannya untuk menutup usaha mereka dan pindah ke tempat lain. Sebagian besar masih akan berjualan makanan, namun ada pula yang tetap berada di kampus namun banting setir menjadi usaha fotokopi yang juga sangat banyak pelanggannya di kalangan mahasiswa.

“Tentunya kami sebagai asosiasi tidak mau itu terjadi. Dalam waktu dekat, kami akan adakan dialog antara anggota kami dengan para mahasiswa dan kampus-kampus yang bersangkutan. Kemungkinan besar kami akan meminta aturan berupa larangan menghutang di kantin. Kenyataan harus dihadapi, bahwa kami sebagai penjual makanan tidak mau mengajari anak-anak itu untuk jadi pejabat yang suka ngutang,” papar Rusman.

Sementara itu di tempat terpisah, anggota DPRD DKI Jakarta Alamir Syahtan menyatakan tidak ada yang aneh dengan berhutang di kantin. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh rekan-rekannya di Kota Makassar dan Kabupaten Bantul bukanlah kesalahan.

Ia mengatakan bahwa seringkali besaran uang yang dibawa olehnya dan para rekan-rekan sesama anggota legislatif terlalu besar sehingga tidak ada kembalian. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk berhutang dulu, meskipun ia mengaku seringkali lupa.

“Kalau saya sedang ingat, saya pasti bayar kok. Tapi harus paham juga bahwa kita-kita ini di dewan juga manusia, sering lupa. Lagipula kalau mau bikin usaha harus siap modal, dong. Masa dihutangin gitu aja langsung tutup?” ujar Alamir heran.

Saat dimintai pendapat mengenai pengusaha makanan di kantin-kantin kampus yang memilih untuk tutup karena takut para mahasiswa menjadi pejabat yang suka berhutang, ia hanya tertawa dan menganggap para pedagang tersebut sesat pikir.

“Harusnya dilihat dari sudut pandang begini, kalau mereka dari masih mahasiswa sampai waktu jadi pejabat juga doyang ngutang, itu namanya konsisten. Harus dihargai dan diacungi jempol. Tidak mudah untuk jadi konsisten di masa-masa seperti ini. Itu bentuk totalitas perjuangan. Seharusnya yang mau ngutang ya biarkan saja ngutang. Siapa tau mereka bisa jadi seperti kita-kita ini, jadi pejabat legislatif,” papar Alamir sambil tertawa-tawa. (Sha01)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS