Iklan
LATEST TWEET

Tulis Gerhana Bulan Sebagai Penyebab Kiamat, Kredibilitas Wartawan Dipertanyakan

October 10, 2014       Ekonomi & Bisnis, Pendidikan, Sosial      
(photo courtesy: kingmuirpress.com)

(photo courtesy: kingmuirpress.com)

JAKARTA, POS RONDA – Gerhana bulan yang terjadi pada hari Rabu lalu (8/10) menyisakan sebuah cerita di mana seorang wartawan dan redaktur surat kabar akhirnya mendapat peringatan tegas dari Aliansi Wartawan Kepulauan (AWAK) setelah melansir berita yang menyatakan peristiwa tersebut sebagai pertanda hancurnya peradaban dunia.

GJ (nama asli dirahasiakan), sang wartawan yang bekerja untuk Harian Swara Kata, menulis artikel berita dengan tajuk “Gerhana Bulan Berdarah Penyebab IHSG Anjlok dan Bumi Kiamat” yang diterbitkan kemarin (9/10). Dalam artikel tersebut, disebutkan bahwa gerhana bulan yang terjadi pada hari Rabu malam menyebabkan banyak kepanikan keesokan harinya. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), naiknya nilai dolar AS terhadap rupiah, serta hilangnya pajak negara diberitakan terkait dengan peristiwa gerhana bulan itu.

Lebih jauh lagi, artikel tersebut juga menyebutkan bahwa gerhana bulan tersebut juga bisa menyebarkan wabah Ebola kepada orang-orang yang berusaha melihatnya serta orang-orang terdekat mereka. GJ bahkan juga menulis agar pemerintah Indonesia menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menghancurkan bulan demi mencegah kejahatan dan hancurnya peradaban bumi.

Tak pelak, artikel itu menimbulkan kepanikan bagi mereka yang membacanya. Padahal, gerhana bulan dengan naik-turunnya IHSG dan harga dolar AS sama sekali tidak berkaitan. Demikian pula dengan penyebaran wabah ebola.

GJ membela diri dengan mengatakan bahwa ia harus menciptakan artikel yang isinya bersifat bombastis untuk memenuhi tuntutan harian surat kabar tempatnya bekerja. Bila tidak, ia mengaku diancam akan dipotong gajinya karena dianggap tidak memberikan kontribusi dalam meningkatkan jumlah peredaran eksemplar versi cetak dan jumlah klik versi daring.

“Kalau tidak bombastis, saya tidak dapat bonus tambahan bulan ini. Saya juga merasa senang apabila artikel saya bisa membuat banyak orang bereaksi. Lagipula narasumber saya valid, saya selalu minta informasi dari Ki Joko Jomblo yang biasa memberi saya wangsit.” ujar GJ saat dimintai pertanggungjawabannya oleh komite etik AWAK pagi ini (10/10).

Alasan yang kurang lebih sama juga dikemukakan oleh redaktur Swara Kata, PM (juga dirahasiakan), yang mengatakan bahwa dengan semakin ketatnya persaingan media massa saat ini, maka yang harus diutamakan olehnya adalah cara untuk menarik pembaca, dan terpaksa menurunkan prioritas jurnalisme ke urutan bawah. Oleh karena itulah ia meloloskan artikel GJ yang isinya tidak akurat dengan kejadian yang sebenarnya.

“Harian kami ini ‘kan tidak besar, jadi kami harus mencoba segala cara untuk bertahan. Bahkan media yang besar juga sering bikin plintiran isu dan masalah. Mereka main goreng sini, goreng sana. Kenapa kami tidak boleh? Ini namanya diskriminasi.” ujar PM setengah memprotes. “Kalau tidak begitu kami sudah tutup dari dulu. Yang penting sekarang adalah bertahan dan mendapatkan keuntungan dari sponsor dan iklan. Jurnalisme itu urusan nomor sekian.”

Komite etik akhirnya memutuskan untuk memberikan peringatan tegas kepada GJ dan PM, serta menegaskan agar mereka tidak mengulangi kesalahannya lagi. Kepala komite etik AWAK Radian Lunggana mengaku pihaknya tidak dapat memberikan sanksi lebih berat karena bersimpati terhadap alasan yang diberikan oleh kedua individu yang disidang.

Menurutnya, apa yang dikatakan oleh GJ dan PM ada benarnya. Di tengah persaingan media yang begitu ketat, ia mengakui adanya penurunan kualitas pemberitaan.

“Karena kita di AWAK sama-sama pekerja media, kita paham apa yang mereka lalui. Kita berikan peringatan tegas karena mereka tampak menyesali perbuatannya. Lagipula kalau tidak kita kasih sanksi nanti nggak enak juga ‘kan dilihat masyarakat,” papar Radian. (Sha01)

 

====

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS