Iklan
LATEST TWEET

Lebih Dipercaya, Satire Akan Gantikan Media Jurnalistik Kuasai Bumi

September 24, 2014       Ekonomi & Bisnis, z_Hot Stuff      
Tampilan artikel dari nationalreport.com yang sempat memperdaya beberapa media jurnalistik, termasuk di Indonesia. Ini bukan pertama kalinya peristiwa seperti ini terjadi, di mana media jurnalistik online tidak melakukan analisis mendalam mengenai sumber berita yang mereka gunakan. (photo courtesy welivesecurity.com)

Tampilan artikel dari nationalreport.com yang sempat memperdaya beberapa media jurnalistik, termasuk di Indonesia. Ini bukan pertama kalinya peristiwa seperti ini terjadi, di mana media jurnalistik online tidak melakukan analisis mendalam mengenai sumber berita yang mereka gunakan. (photo courtesy welivesecurity.com)

JAKARTA, POS RONDA – Artikel berita parodi yang dilansir oleh situs media satire Amerika Serikat, National Report (nationalreport.com), ternyata memperdaya cukup banyak media jurnalistik yang menerbitkan ulang berita tersebut sebagai berita nyata.

Dalam artikelnya, nationalreport.com menulis bahwa Facebook akan menghentikan layanan cuma-cuma dan menggantinya dengan layanan berbayar mulai tanggal 1 November tahun ini. Facebook – dalam tulisan tersebut – menyatakan bahwa biaya operasional yang terlalu besar memaksa mereka untuk membebankan tarif kepada para pengguna sebesar 3 dolar AS per bulan.

Artikel itu menyebutkan bahwa salah satu penyebab beban pengeluaran Facebook meningkat karena banyaknya foto kucing yang diunggah oleh para pengguna, sebuah alasan yang tentu saja terlihat konyol dan fiktif untuk perusahaan sekelas Facebook.

Situs International Business Times Australia (au.ibtimes.com) sempat menerbitkan ulang artikel tersebut, namun kemudian mencabutnya setelah mengetahui bahwa itu merupakan parodi. Demikian pula dengan Standard Digital (standardmedia.co.ke).

Di Indonesia, tribunnews.com juga menerbitkan artikel serupa dan bahkan mengutip artikel dari National Report, untuk kemudian membantahnya sendiri dengan artikel yang menyatakan bahwa kabar dari National Report sebagai hoax, namun tidak menghapus artikel yang lama. Beberapa media online Indonesia mengutip dari tribunnews, dan menambah panjang daftar penyebaran artikel parodi itu.

Pengamat media asal Jepang yang berdomisili di Indonesia, Keisuke Tamura, menilai bahwa kejadian ini menunjukkan bahwa media satire bisa lebih dipercaya bahkan oleh media-media jurnalistik sendiri. Mengutip teori evolusi dan survival of the fittest, Tamura dengan berani meramalkan bahwa lama-kelamaan media satire dan parodi akan menggantikan media jurnalistik dalam menguasai bumi.

“Seperti dahulu kala di mana manusia-manusia gua akhirnya punah karena tidak bisa bersaing dengan Homo sapiens, hal yang sama akan terjadi dengan media jurnalistik arus utama. Terutama sekali apabila mereka tidak dapat beradaptasi. Utamanya adalah foto kucing. Foto kucing saya ramalkan akan jadi lebih berharga dibandingkan foto-foto pemenang Pulitzer sekalipun. Jadi bila media jurnalistik ingin bertahan, saya sarankan perbanyak foto kucing-kucing lucu di situs mereka.” ungkap Tamura saat diwawancara oleh POS RONDA di kediamannya di Jakarta Selatan, pagi ini (24/9).

Sebuah meme di mayantara yang mempertanyakan semakin tipisnya perbedaan antara artikel berita nyata dengan parodi dan satire. (photo courtesy memegenerator.net)

Sebuah meme di mayantara yang mempertanyakan semakin tipisnya perbedaan antara artikel berita nyata dengan parodi dan satire. (photo courtesy memegenerator.net)

Kelebihan media satire dan parodi adalah kemampuan mereka untuk melihat sisi komedi dari sebuah peristiwa, meskipun tidak selamanya lucu. Oleh karena itu, publik sebagai pembaca akan merasa terhibur dibandingkan membaca atau menonton media jurnalistik arus utama.

Entah dikarenakan situasi dunia yang memang sedang kelam atau prinsip bad news is good news, menurut Tamura cukup banyak pembaca yang terserang depresi akibat membaca koran atau menonton televisi.

“Ini sifatnya akademik dan ilmiah. Dari hasil survei global yang saya lakukan, ternyata hanya 20 persen pemirsa atau pembaca yang puas dengan tema berita di media jurnalistik. Sebanyak 60 persen mengaku khawatir, 15 persen menangis setelah membaca atau menonton, dan 5 persen sisanya pingsan karena tidak kuat. ” paparnya.

Tamura kemudian mengeluarkan survei pembanding untuk media satire dan parodi. Hasilnya, 50 persen pemirsa atau pembaca puas dengan tema dan isinya. Sebanyak 20 persen tidak paham dengan isinya, 15 persen tidak bisa membedakan antara parodi dengan kenyataan, 10 persen tidak punya selera humor, dan sisa 5 persen hilang diculik alien.

Namun, tingkat kepuasan untuk media jurnalistik cenderung berkurang, sementara untuk media satire meningkat. Trend ini diperkirakan akan berlangsung hingga lima tahun ke depan dan akan menanjak di tahun ke-enam. Dengan data-data inilah Tamura bisa meramalkan bahwa media satire dan parodi akhirnya akan menguasai bumi, menggantikan media jurnalistik yang kalah berevolusi.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh media massa arus utama untuk merencanakan berubah haluan dari jurnalistik menjadi satire dan parodi. Judul-judul artikel mulai dibuat bombastis dan menggelikan, demikian pula dengan isi beritanya. Tamura menganggap ini hanyalah satu fase dari perubahan itu.

 “Tapi saya sedikit khawatir dengan lima persen orang yang diculik alien tadi. Apakah itu berhubungan dengan kecenderungan media parodi akan menguasai dunia? Saya tidak tahu.” ujar Tamura. (Sha01)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS