Iklan
LATEST TWEET

Naskah Putusan Terlalu Tebal, MK Nyaris Ajukan Adu Suit Jari Sebagai Penentu

August 22, 2014       Pemilu 2014, Politik      
Adu suit jari nyaris menjadi hasil keputusan MK untuk penyelesaian sengketa pilpres. Hal ini sempat terjadi karena naskah hasil putusan terlalu tebal dan berisi lebih dari 4000 halaman. Meski demikian, adu suit jari tidak jadi dilakukan karena kekhawatiran akan menjadi keputusan yang kontroversial. (photo taken from Kaskus.co.id)

Adu suit jari nyaris menjadi hasil keputusan MK untuk penyelesaian sengketa pilpres. Hal ini sempat terjadi karena naskah hasil putusan terlalu tebal dan berisi lebih dari 4000 halaman. Meski demikian, adu suit jari tidak jadi dilakukan karena kekhawatiran akan menjadi keputusan yang kontroversial. (photo taken from Kaskus.co.id)

JAKARTA, POS RONDA – Keputusan akhir Mahkamah Konstitusi (MK) berkenaan dengan sengketa pemilihan presiden kemarin (21/8) ternyata nyaris ditentukan dengan pengajuan alternatif untuk menyelesaikan permohonan gugatan dengan adu suit jari.

Sejak sehari sebelum tenggat waktu penentuan, para hakim MK dikabarkan terlibat perdebatan sengit mengenai keputusan akhir yang akan diambil oleh MK. Berdasarkan seorang narasumber tidak terpercaya yang tidak ingin disebutkan identitasnya, perdebatan tersebut berawal dari naskah putusan yang tebalnya berjumlah 4.392 halaman. Tebalnya naskah putusan tersebut membuat para hakim MK ragu untuk membacakannya pada sidang hari terakhir.

“Saya tidak menyalahkan kekhawatiran mereka. Siapa coba yang kuat membacakan secara lantang 4.000 halaman dalam satu hari meski bergantian? Itu jelas-jelas momok. Pastinya mereka takut akan mengalami kelelahan kronis, keriting lidah, dan radang tenggorokan, sehingga sempat ada debat sengit untuk menentukan keputusan dalam bentuk lain.” ujar sang narasumber saat diwawancarai pagi ini (22/8) oleh POS RONDA.

Perdebatan ini, menurutnya, juga salah satu faktor yang menyebabkan pembacaan putusan terlambat kurang lebih 30 menit dari rencana awal. Memang, sidang pembacaan putusan pilpres baru dilaksanakan pada pukul 14.30 WIB, terlambat dari rencana awal yaitu pukul 14.00 WIB. Ketua MK Hamdan Zoelva sendiri beralasan keterlambatan tersebut diakibatkan permasalahan teknis yaitu penggandaan naskah dokumen putusan yang memakan waktu cukup lama.

Dalam perdebatan di antara hakim MK, alternatif-alternatif penentu putusan pun muncul. Meski sang narasumber tidak menyebutkan nama, terlontar ide-ide unik seperti melempar koin, tebak angka dadu, menanyakan pada Jelangkung, hingga ide yang cukup inovatif untuk mengirim hasil putusan melalui pos ataupun surat elektronik langsung kepada pihak pemohon, yaitu pihak Prabowo-Hatta, pihak termohon, yaitu pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU), serta pihak terkait, yaitu pihak Jokowi-JK.

“Hingga pada akhirnya, sempat ada keputusan untuk mengadakan adu suit jari antara pihak pemohon dan termohon. Jadi putusan akhir dikembalikan ke pihak yang bersengketa agar adil. Bila yang menang pihak pemohon, pemilu diulang, dan apabila termohon menang, gugatan ditolak. Menang kalah, tergantung nasib. Adil, toh?” papar sang narasumber.

Suasana sidang gugatan pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK). Pada akhirnya, para hakim MK kembali ke rencana awal untuk membacakan putusan sesuai dengan naskah yang telah dirangkum menjadi lebih ringkas. (photo courtesy aktualpost.com)

Suasana sidang gugatan pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK). Pada akhirnya, para hakim MK kembali ke rencana awal untuk membacakan putusan sesuai dengan naskah yang telah dirangkum menjadi lebih ringkas. (photo courtesy aktualpost.com)

Namun, di detik-detik terakhir para hakim MK mengevaluasi kembali keputusan untuk adu suit jari. Keputusan tersebut pastinya akan dianggap kontroversial bagi semua pihak. Pihak pemohon dan termohon juga belum tentu akan dapat menerimanya. Apabila keputusan ini dipaksakan, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan di masyarakat, seperti konflik yang malah makin berkepanjangan, bukan mereda.

Narasumber melanjutkan, bahwa para hakim MK kemudian memutuskan untuk kembali ke putusan awal setebal ribuan halaman tersebut. Namun perdebatan belum berhenti, karena masing-masing hakim ingin mendapat porsi pembacaan yang lebih sedikit. Pemikiran lain yang muncul adalah apabila putusan tersebut dibacakan seluruhnya, sidang tidak akan dapat selesai bahkan dalam waktu tiga hari tanpa berhenti sekalipun.

“Bayangkan saja. Kalau 4.000 halaman dibacakan seluruhnya, mau sampai kapan selesainya? Bisa-bisa para hakim dan peserta sidang jadi Bang Thoyib berjamaah, nggak pulang-pulang ke rumah!” kelakar sang narasumber.

Pada akhirnya, disepakati bahwa dari total 4.392 halaman putusan, yang dibacakan dalam sidang hanya sebanyak 300 halaman yang telah merangkum keseluruhan isinya. Dengan kompromi ini, para hakim MK, berdasarkan kisah narasumber, bisa bernafas lebih lega. Jalannya sidang di dalam gedung MK berlangsung dengan tertib. Terdapat insiden antara para pengunjuk rasa dengan pihak keamanan di luar gedung, namun tidak bersifat fatal.

Melalui putusan tersebut, MK menyatakan menolak seluruh gugatan yang diajukan oleh pihak pemohon (Prabowo-Hatta), tanpa adanya dissenting opinion. Dalam putusan disebutkan bahwa MK menilai bahwa tudingan kecurangan tidak terbukti, dan dengan demikian tidak mengakui adanya kecurangan dalam pilpres tahun 2014. Dengan keputusan ini, maka pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla tetap merupakan pasangan presiden dan wakil presiden terpilih yang akan dilantik bulan Oktober mendatang. Sidang pembacaan putusan MK itu sendiri baru berakhir pada sekitar pukul 21.00 WIB kemarin malam. (Fld99)

====

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS