Iklan
LATEST TWEET

Selamatkan Lahan Pertanian, Peneliti Kembangkan Teknologi Sawah Anti-Theft

Alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan perumahan dan industri semakin tidak terelakkan dengan tumbuhnya populasi di Indonesia. Fenomena ini merupakan tantangan terhadap upaya menciptakan ketahanan pangan di tanah air. APPTek yang berisikan para peneliti Indonesia bekerja sama untuk menghasilkan teknologi yang bisa mempertahankan lahan pertanian dari alih fungsi. (photo courtesy ekuatorial.com)

Alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan perumahan dan industri semakin tidak terelakkan dengan tumbuhnya populasi di Indonesia. Fenomena ini merupakan tantangan terhadap upaya menciptakan ketahanan pangan di tanah air. APPTek yang berisikan para peneliti Indonesia bekerja sama untuk menghasilkan teknologi yang bisa mempertahankan lahan pertanian dari alih fungsi. (photo courtesy ekuatorial.com)

JAKARTA, POS RONDA – Para peneliti yang tergabung dalam Aliansi Peneliti Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Indonesia (APPTek) saat ini tengah bekerja sama untuk mengembangkan teknologi yang dapat mencegah terjadinya alih fungsi lahan pertanian. Ketua APPTek, Bambang Dwi Ansyori, menyatakan bahwa kerjasama dalam aliansi ini merupakan bentuk kepedulian mereka terhadap kondisi pertanian nasional.

Sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan, isu pangan akan menjadi permasalahan utama dalam kehidupan manusia. Pertumbuhan penduduk yang semakin besar secara otomatis akan meningkatkan kebutuhan pangan. Namun, upaya menjaga keberlangsungan pangan saat ini belum maksimal.

Berbagai persoalan klasik sektor pertanian masih menghadang peningkatan produktivitas pangan nasional. Salah satu persoalan tersebut adalah konversi lahan pertanian yang mencapai 100.000 hektar setiap tahunnya. Lahan pertanian banyak yang saat ini beralih fungsi menjadi perumahan, tempat wisata, dan pusat perbelanjaan.  Dengan jumlah penduduk sebesar 240 juta jiwa dengan pertumbuhan sebesar 1,49 persen per tahun, kebutuhan konversi lahan di Indonesia cenderung meningkat.

Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, maka akan mengancam keberlangsungan pertanian nasional yang berujung pada kerentanan ketersediaan pangan. Untuk itulah, menurut Bambang, menjaga keberlangsungan produksi pangan seharusnya menjadi prioritas utama dunia, termasuk Indonesia.

“Lahan pertanian yang harusnya makin bertambah, malah saat ini berkurang drastis karena mengalami konversi lahan. Pemerintah harus bertindak untuk mengatasi kondisi ini,” ujar Bambang dalam acara seminar mengenai ketahanan pangan di Gedung Departemen Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Jumat lalu (15/8).

APPTek menawarkan penggunaan teknologi anti-theft pertanian. Teknologi ini merupakan microchip yang ditanamkan di lahan pertanian seperti sawah, ladang, dan perkebunan. Satu microchip dapat menjangkau hingga 20 hektar lahan dengan masa hidup diperkirakan mencapai 1000 tahun. Paket ini juga lengkap dengan robot orang-orangan sawah yang bekerja secara otomatis menggunakan tenaga surya.

Cara kerja anti-theft pertanian ini sangat mudah. Bambang menjelaskan, dalam jangka waktu 3 x 24 jam sejak microchip itu ditanamkan, maka lahan pertanian tersebut tidak akan lagi dapat dikonversi. Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligent (AI) yang ada dalam microchip tersebut akan mencegah kegiatan apapun yang ada di lahan tersebut selain aktivitas pertanian.

“Lahan pertanian dengan sendirinya akan menolak untuk diubah menjadi perumahan maupun pusat perbelanjaan. Begitu ada kegiatan selain aktivitas pertanian, tanah akan bergejolak dan mengembalikan fungsinya sebagai lahan pertanian secara otomatis. Begitu ada bangunan yang mulai terbangun, lahan akan kembali melakukan refresh sehingga bangunan tersebut hilang dan lahan kembali bisa ditanami. Jadi, mau tidak mau, lahan tersebut akan tetap menjadi lahan pertanian. Apabila ada pihak yang tetap ingin memaksakan alih lahan, maka robot orang-orangan sawah akan bertugas untuk langsung maju mengusir mereka.” Bambang memaparkan.

Prototipe robot orang-orangan sawah hasil inovasi APPTek. Masih belum operasional hingga saat ini, robot bertenaga surya ini diharapkan bisa melengkapi microchip anti-theft lahan pertanian yang tengah dikembangkan. (photo taken from flickr.com)

Prototipe robot orang-orangan sawah hasil inovasi APPTek. Masih belum operasional hingga saat ini, robot bertenaga surya ini diharapkan bisa melengkapi microchip anti-theft lahan pertanian yang tengah dikembangkan. (photo taken from flickr.com)

Teknologi ini dinamakan anti-theft karena memang memiliki fungsi yang sama dengan sistem anti pencurian. Bambang mengatakan, tujuan pengembangan teknologi ini yaitu untuk mencegah “tercurinya” lahan pertanian yang kemudian digunakan untuk kebutuhan di luar pertanian.

“Semua calon presiden memang menjanjikan akan meningkatkan lahan pertanian, tapi kami di APPTek dan para petani tidak mudah percaya begitu saja dengan ucapan mereka. Untuk menjamin lahan pertanian tidak akan berkurang, maka kami memerlukan teknologi seperti itu. Dengan demikian, pemerintah di masa mendatang tidak akan bisa berbuat apapun untuk mengalihfungsikan lahan pertanian hanya demi kepentingan beberapa kelompok saja. Paling tidak negara ini punya jaminan ketersediaan lahan pertanian hingga 1000 tahun ke depan sesuai dengan masa hidup microchip tersebut,” kata Bambang.

Meskipun masih dalam tahap pengembangan, Bambang optimis teknologi ini akan selesai dalam waktu dekat. Teknologi ini memang memerlukan biaya riset yang sangat besar sehingga hingga kini pemerintah belum dapat mendanainya.

“Kami tidak menyalahkan pemerintah yang belum memberikan dana untuk riset ini. Kami memahami dana riset pemerintah sangat kecil. Lha, wong, peneliti saja gajinya kecil, bagaimana bisa memberikan dana besar untuk riset yang mahal semacam ini?” Bambang berkelakar.

Lantas darimana APPTek mendanai pengembangan teknologi ini? Bambang menjelaskan bahwa asosiasinya memiliki banyak para profesional yang memiliki keahlian tinggi. Para profesional inilah yang ikut mengembangkan anti-theft pertanian.

 “Peneliti relawan kami banyak. Ada yang ahli di bidang komputer, pertanian, kehutanan, biologi, fisika, geologi, sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Semua peneliti relawan kami saling bersinergi untuk membangun suatu teknologi yang akan digunakan bersama.” tambahnya.

Ia juga menyatakan bahwa seharusnya penelitian di Indonesia berlangsung demikian, di mana para peneliti dan lembaga penelitian pemerintah saling bekerja sama untuk menggunakan kemampuan masing-masing demi suksesnya tujuan bersama.

APPTek menyarankan agar pemerintah bisa menyempurnakan koordinasi penelitian dan pengembangan teknologi pertanian serta inovasinya. Koordinasi tersebut juga dalam sistem perekonomian Dengan cara tersebut, para petani akan dapat hidup dengan sejahtera. (photo courtesy kontan.co.id)

APPTek menyarankan agar pemerintah bisa menyempurnakan koordinasi penelitian dan pengembangan teknologi pertanian serta inovasinya. Koordinasi tersebut juga dalam sistem perekonomian Dengan cara tersebut, para petani akan dapat hidup dengan sejahtera. (photo courtesy kontan.co.id)

Dalam kaitannya dengan program nasional, Bambang dengan bangga mengatakan fokus APPTek dalam meningkatkan teknologi ketersediaan pangan sebenarnya sesuai dengan visi Hari Kebangkitan Teknologi Nasional tahun 2014 yang dilangsungkan oleh Kementerian Ristek dan Teknologi bulan Juni lalu: inovasi di bidang pangan, energi, dan air, untuk daya saing bangsa.

“Tapi jangan salah paham. Microchip yang kami kembangkan ini tidak serta merta menyelesaikan masalah pangan. Masih banyak pekerjaan rumah pemerintah untuk itu, dan yang paling penting adalah diikuti dengan komitmen untuk memaksimalkan produktivitas pertanian. Indonesia harus lebih banyak berinvestasi di bidang ilmu pengetahuan dan  teknologi pertanian,” ujar Bambang.

Dirinya juga beranggapan bahwa semua lini penelitian dan teknologi Indonesia seharusnya dikaitkan dengan pertanian. Misalnya, mengembangkan satelit yang dapat digunakan oleh para petani dalam memantau dan memprediksi masa tanam dan masa panen, mengembangkan bibit yang mampu berkali-kali panen dalam setahun, memberikan insentif penelitian kepada peneliti teknologi pertanian dan peternakan, serta membuat sistem perekonomian yang bersahabat bagi para petani.

“Dengan cara tersebut, maka bidang pertanian di Indonesia akan maju. Petani bisa sejahtera, dan anak-anak bisa bangga menjadi petani. Melalui perkembangan dan inovasi teknologi, akan terbuka kesempatan bagi enterpreneur muda untuk terjun di bidang pertanian.  Pada akhirnya, bidang pertanian bisa menjadi penopang utama perekonomian Indonesia secara konkrit. Kita bisa mencontoh negara-negara yang berbasis agrikultur tapi masyarakatnya tetap sejahtera, salah satunya Selandia Baru,” papar Bambang mengakhiri wawancara. (Meg)

 

====

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

3 Responses

  • leo putra

    on September 18, 2014, 10:10:21

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Selamatkan Lahan Pertanian, Peneliti Kembangkan Teknologi Sawah Anti-Theft.
    memang, sawah harus dilindungi dari ancaman yang dapat merugikan pengurus dan menjaga lahan pertanian tetap ada.
    oleh karena itu saya sangat tertarik dengan topik anda, saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Ekonomi Pertanian yang bisa anda kunjungi di Ekonomi Pertanian

    Reply to leo
  • marselianadwi

    on June 23, 2016, 01:14:27

    makasih postnya keren.., ditunggu post selanjutnya

    Reply to marselianadwi
  • DANY MOCHTAR

    on January 13, 2017, 06:56:18

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Teknologi Pertanian.
    Dengan membaca artikel anda, pemahaman saya tentang hal tersebut menjadi bertambah.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di Pertanian

    Reply to DANY


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS