Iklan
LATEST TWEET

Perusahaan MLM Siapkan Program Kaderisasi Khusus Anak-anak dan Remaja

August 12, 2014       Ekonomi & Bisnis, Kriminalitas & Hukum, Pendidikan, Sosial, z_Editor's Choice      
Skema klasik sebuah jaringan pemasaran bertingkat atau multi-level marketing (MLM), di mana seorang agen atau anggota bisa memiliki satu kaki atau lebih untuk memperlancar proses distribusi produknya. Telah beredar banyak varian skema, namun intinya tidak jauh berbeda dari skema klasik. (photo courtesy pureleverage.com)

Skema klasik sebuah jaringan pemasaran bertingkat atau multi-level marketing (MLM), di mana seorang agen atau anggota bisa memiliki satu kaki atau lebih untuk memperlancar proses distribusi produknya. Telah beredar banyak varian skema, namun intinya tidak jauh berbeda dari skema klasik. (photo courtesy pureleverage.com)

JAKARTA, POS RONDA – Perusahaan yang bergerak di bidang penjualan langsung, PT Prosper Victorian Gemilang (PVG), menyatakan bahwa pihaknya telah mempersiapkan program khusus untuk kaderisasi agen berusia kanak-kanak dan remaja dari 10 hingga 16 tahun.

Langkah ini dilakukan untuk menjaring potensi penjualan langsung yang selama ini jarang terjamah, yaitu segmen anak-anak. Dalam konferensi pers yang dilangsungkan hari Senin kemarin (11/8), Direktur PT PVG,  Leo Sudirmadirja, mengatakan bahwa pelatihan ini ditujukan untuk mengenalkan anak-anak kepada dunia penjualan langsung dan produk-produknya.

Melalui program pelatihan dan kaderisasi, anak-anak tersebut akan diajarkan bagaimana cara menjual produk-produk perusahaannya serta membentuk jaringan dengan merekrut anggota-anggota baru untuk dijadikan agen penjualan yang diposisikan di bawah mereka.

“Pihak kami memang ingin selalu memprioritaskan anak-anak dan remaja, karena mereka yang akan menjadi tulang punggung penjualan kami di masa depan. Oleh karena itu kami persiapkan dari sekarang. Mereka bisa belajar bagaimana cara mencari downli… maksud kami, agen-agen dan anggota baru untuk memperluas jaringannya. Kami akan latih mereka secara intensif, jadi pada akhirnya bahkan penguin atau kucing pun bisa mereka ajak masuk jaringan.” ujar Leo sambil tertawa.

Menurutnya, penjualan langsung yang dilakukan oleh pihaknya unik karena seorang agen bisa mencari dan membawahi  agen-agen lainnya dalam hubungan yang biasa disebut sebagai upline dan downline. Semakin ke bawah, maka jumlah agen akan semakin besar sehingga terciptalah kaki penjualan yang kuat.

Meski sangat mirip dengan skema pemasaran bertingkat atau multi-level marketing (MLM), Leo menolak pihaknya disebut mempraktekkan hal tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan pihaknya lebih tepat disebut relasi layer vertikal, dan relasi para agen bukanlah sebagai upline dan downline, tapi disebut prolink dan sublink.

Saat ditanya mengenai perbedaannya, ia menjawab bahwa dasar mekanismenya sama dengan pemasaran bertingkat, tapi lebih unik dan modern karena istilah-istilahnya diperbaharui.

“Jadi jangan samakan kami dengan MLM-MLM lain. Kami menggunakan istilah-istilah baru sehingga semua terlihat lebih segar. Kami juga akan fokus untuk merekrut anak-anak dan remaja karena kami lebih fokus untuk masa depan ketimbang saat ini.” tambah Leo.

Ia meyakini bahwa generasi muda akan tertarik untuk bergabung dengan perusahaan dan skema pemasarannya karena banyak insentif menarik, di antaranya rumah mewah, mobil mewah, kapal pesiar, hingga pesawat terbang pribadi, apabila kontribusi mereka telah mencapai tahapan tertentu.

Gambaran rumah dan mobil mewah, yang biasanya dijadikan salah satu insentif reward dalam sebuah jaringan pemasaran bertingkat, termasuk juga oleh PT Prosper Victorian Gemilang (PVG). Sayangnya, tidak jarang pula insentif ini disalahgunakan sebagai bentuk iming-iming penipuan oleh jaringan yang tidak bertanggung jawab. (photo courtesy tk-99.com)

Gambaran rumah dan mobil mewah, yang biasanya dijadikan salah satu insentif reward dalam sebuah jaringan pemasaran bertingkat, termasuk juga oleh PT Prosper Victorian Gemilang (PVG). Sayangnya, tidak jarang pula insentif ini disalahgunakan sebagai bentuk iming-iming penipuan oleh jaringan yang tidak bertanggung jawab. (photo courtesy tk-99.com)

Meski demikian, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai kriteria kontribusi yang dimaksud. Leo berdalih informasi tersebut hanya dibagikan kepada para anggota atau agen, sehingga masyarakat yang ingin tahu harus bergabung terlebih dahulu dengan pilihan biaya dari 1 hingga 3 juta rupiah tergantung dari tingkatan awal yang diinginkan.

“Saya rasa itu sangat murah jika dibandingkan dengan kebebasan finansial atau reward berupa rumah dan mobil mewah nantinya. Anggap saja investasi minimal, hasil maksimal.” paparnya.

Mengenai produk yang didistribusikan oleh perusahaannya, Leo menganggap bahwa itu tidaklah penting. Yang terpenting adalah perluasan jaringan yang dilakukan oleh para agennya, terutama generasi muda yang nantinya akan bergabung.

“Produk itu tidaklah penting. Tapi kalau memang harus saya jawab, produk perusahaan kami beragam dari obat-obatan, pupuk untuk pertanian, hingga racun serangga. Hebatnya adalah, seluruh produk menggunakan resep dasar dan bahan yang sama: resep universal rahasia yang sudah terbukti selama puluhan ribu tahun oleh para raja dalam sejarah. Saya tidak bisa cerita lebih lanjut karena itu rahasia perusahaan.” imbuhnya.

Rencana PVG mendapatkan kritik dari aktivis Pusat Kajian Konsumen Indonesia (PUSKONI), Chris Siagian, yang menyatakan bahwa  upaya untuk merekrut anak-anak dan remaja di bawah umur sebagai agen, meski dengan dalih kaderisasi dan pelatihan, cacat secara moral maupun hukum.

Chris juga mengatakan bahwa berdasarkan Undang-undang No 13 tahun 2000 tentang Ketenagakerjaan, pengusaha dilarang mempekerjakan anak di bawah umur. Pengecualian bisa dilakukan dengan usia minimum sang anak 15 tahun, dengan catatan tidak mengganggu perkembangan fisik, mental, dan sosial, serta tidak mengganggu waktu dan kegiatan bersekolah.

Selain itu, masih ada berbagai macam persyaratan lain seperti izin orang tua, jumlah jam kerja maksimal, hingga bentuk pekerjaan yang tidak membahayakan, memperbudak, ataupun sejenisnya.

“Dalam piagam dan perjanjian kelembagaan internasional seperti ILO dan UNICEF, pekerja anak sudah tidak diperbolehkan. Indonesia juga sudah mengatur itu dalam UU Ketenagakerjaan. Tugas seorang anak dan remaja ya bermain, bersekolah, dan bersosialisasi.  Tidak untuk dilatih intensif untuk menjadi agen-agen MLM. Apalagi ini rencananya dari anak sekecil umur 10 tahun. Jelas-jelas melanggar hukum.” kecam Chris.

Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) umumnya berada dalam rentang usia yang diinginkan oleh PT PVG untuk dijadikan kader dan agen pemasaran di masa depan. Menurut PUSKONI dan aktivis Chris Siagian, apa yang direncanakan oleh PVG cacat secara moral dan hukum karena akan melibatkan pekerja anak di bawah umur. (photo courtesy tribunnews.com)

Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) umumnya berada dalam rentang usia yang diinginkan oleh PT PVG untuk dijadikan kader dan agen pemasaran di masa depan. Menurut PUSKONI dan aktivis Chris Siagian, apa yang direncanakan oleh PVG cacat secara moral dan hukum karena akan melibatkan pekerja anak di bawah umur. (photo courtesy tribunnews.com)

Dalam kasus ini, Chris menyarankan kepada para orang tua agar bisa bekerja sama dengan anaknya masing-masing agar tidak terjerumus kepada praktek-praktek berpotensi menghasilkan penipuan (scam)dan melanggar hukum.

Mengenai perusahaan dengan sistem pemasaran bertingkat, dirinya juga mengajak agar masyarakat menganalisis dan mencari tahu dulu dari berbagai sumber yang berbeda, bahkan bertolak belakang, untuk mengetahui fakta-fakta di balik sebuah jaringan MLM sebelum bergabung.

“Masyarakat bisa mencari tahu dari reputasi perusahaannya, terutama apabila berasal dari luar negeri. Itu pun juga harus giat mencari tahu kondisi terkini di negara asalnya, seperti apakah ada masalah dengan hukum, kemudian sehat atau tidak laporan keuangannya, dan sebagainya, karena itu akan berpengaruh terhadap perilaku jaringan tersebut kepada para anggotanya. Sudah ada internet, sudah ada sosial media dan forum-forum online. Namun jangan mudah percaya. Dengan bersikap kritis terhadap suatu kabar atau klaim, fasilitas-fasilitas itu bisa digunakan untuk menyaring informasi yang kita butuhkan.” papar Chris.

Selain itu, Chris juga menyarankan agar para calon anggota jaringan pemasaran bertingkat untuk ikut aktif dalam mengikuti dan berdiskusi dengan komunitas-komunitas pengawas praktek kerja MLM di Indonesia agar bisa memperoleh informasi yang mendalam dan berimbang mengenai cara dan operasi kerja sebuah jaringan. (Sha01)

 

 

*Artikel ini dedikasikan oleh penulis untuk seorang kawan yang telah berpulang. Semoga keluarga dan teman-teman yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran. Rest in Peace, Chris Siagian.

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS