Iklan
LATEST TWEET

Tinjauan Mudik 2014: Angka Kecelakaan Turun, 9 Jembatan Tercatat Kabur

August 04, 2014       Daerah, Ekonomi & Bisnis, Kriminalitas & Hukum, Sosial      
Suasana arus balik di salah satu jalur mudik utama. Jumlah kendaraan dan pemudik yang bertambah membuat kemacetan semakin parah dan beban yang diterima oleh sarana jalan raya dan jembatan menjadi semakin berat. (photo courtesy Kompas.Com)

Suasana arus balik di salah satu jalur mudik utama. Jumlah kendaraan dan pemudik yang bertambah membuat kemacetan semakin parah dan beban yang diterima oleh sarana jalan raya dan jembatan menjadi semakin berat. (photo courtesy Kompas.Com)

JAKARTA, POS RONDA – Angka kecelakaan dalam proses mudik dan arus balik tahun 2014 diperkirakan turun hingga 15 persen sebagai bagian dari kerja keras jajaran kepolisian dan pihak-pihak terkait, seperti yang dinyatakan dalam evaluasi Indonesia Police Watch (IPW) kemarin (3/8). Namun, kondisi kemacetan dinilai lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya dikarenakan jumlah kendaraan mudik yang meningkat. Lebih dari 100 juta kendaraan bermotor memadati jalur mudik dan kembali, naik hingga 11 persen dari  tahun sebelumnya.

Meski demikian,temuan terbaru dari Masyarakat Transportasi dan Infrastruktur Nusantara (MASTIN) mengungkapkan bahwa kemacetan yang meningkat juga disebabkan oleh jembatan-jembatan di sepanjang jalur mudik alternatif yang kabur dari beban arus balik. Dari 9 jembatan yang tercatat melarikan diri, 8 diantaranya masih buron.

“Rupanya para jembatan tersebut merasa terbebani dengan meningkatnya jumlah pemudik dan kendaraan bermotor yang menyertainya. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk kabur dan meninggalkan posisi mereka sebagai jembatan. Beberapa telah melarikan diri sebelum arus mudik mencapai puncaknya, sementara sebagian lagi pada saat arus balik akan dimulai.” ujar Kepala Peneliti MASTIN, Hiramus Mulyo, saat memaparkan hasil temuannya di Jakarta siang ini (4/8).

Kaburnya sembilan jembatan tersebut menyebabkan banyak jalur-jalur mudik dan arus balik alternatif tidak dapat digunakan, dan para pemudik terpaksa menggunakan jalur utama. Penumpukan volume pemudik dan kendaraan di jalur-jalur utama itulah yang menyebabkan kemacetan menjadi lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Hiramus, pihak berwenang telah mengetahui soal ini namun hanya melakukan pengalihan arus dan tidak menyebarluaskan kabar kaburnya jembatan agar tidak terjadi kepanikan massa.

Berkurangnya angka kecelakaan saat mudik meskipun jumlah kendaraan bertambah membuat kinerja pihak Kepolisian diapresiasi oleh banyak pihak. Meski demikian, kemacetan masih menjadi momok utama, ditambah lagi dengan permasalahan baru berupa kaburnya beberapa jembatan penghubung jalur-jalur alternatif mudik. (photo courtesy Tempo.co)

Berkurangnya angka kecelakaan saat mudik meskipun jumlah kendaraan bertambah membuat kinerja pihak Kepolisian diapresiasi oleh banyak pihak. Meski demikian, kemacetan masih menjadi momok utama, ditambah lagi dengan permasalahan baru berupa kaburnya beberapa jembatan penghubung jalur-jalur alternatif mudik. (photo courtesy Tempo.co)

Sebuah jembatan yang tercatat melarikan diri akhirnya telah ditemukan bersembunyi di sebuah hutan lebat di sebuah lokasi di Provinsi Jawa Barat. Jembatan A – bukan nama sebenarnya – biasanya berfungsi untuk menghubungkan lalu lintas dari Desa Sukapanen dan Desa Condong Gede di Kabupaten Rabangan, Jawa Tengah. Jalur tersebut merupakan salah satu alternatif bagi para pemudik di  lintas selatan Jawa. Jembatan A kini telah dikembalikan ke Rabangan untuk diamankan pihak kepolisian dan dimintai keterangan.

Kapolres Rabangan AKBP Suwono sebelumnya telah menjelaskan kepada pihak media bahwa memang motif dari Jembatan A untuk melarikan diri adalah akibat beban lalu lintas yang terlalu berat serta rentang waktu yang sangat singkat antara selesainya perbaikan jembatan dengan dimulainya arus mudik.

“Jembatan A dalam keterangannya hari ini menyatakan bahwa dia merasa tidak dihargai sebagai sebuah jembatan, terutama oleh Dinas PU. Ini karena setiap tahun dirinya diperbaiki namun perbaikannya baru selesai pada saat arus mudik akan dimulai, sehingga Jembatan A tidak sempat menikmati hasil perbaikan dirinya sendiri karena langsung dibebani oleh arus mudik. Intinya, bisa dikatakan Jembatan A sebenarnya tengah ngambek.” ujar Suwono di kantor Polres Rabangan pagi ini.

Ia juga memperkirakan jembatan-jembatan lain yang masih buron juga memiliki motif yang sama. Akan tetapi, dirinya mengaku belum tahu harus menjerat Jembatan A tersebut dengan pasal hukum atau tidak, mengingat kejadian seperti ini tidak diatur dalam peraturan maupun undang-undang.

Suwono hanya memastikan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Polres lainnya untuk melacak keberadaan jembatan yang masih buron. Mengingat Jembatan A ditemukan di provinsi yang berbeda dengan tempat seharusnya berada, maka jembatan-jembatan lainnya bisa saja bersembunyi di mana pun.

Kondisi Jembatan Comal yang sempat ambles saat diperbaiki dua minggu yang lalu (21/7). Di saat kepolisian mendapatkan apresiasi, Kementerian dan Dinas Pekerjaan Umum tetap mendapatkan kritikan atas manajemen perbaikan infrastruktur yang dinilai tidak maksimal. (photo courtesy Suara.com)

Kondisi Jembatan Comal yang sempat ambles saat diperbaiki dua minggu yang lalu (21/7). Di saat kepolisian mendapatkan apresiasi, Kementerian dan Dinas Pekerjaan Umum tetap mendapatkan kritikan atas manajemen perbaikan infrastruktur yang dinilai tidak maksimal. (photo courtesy Suara.com)

MASTIN melalui Hiramus juga menyepakati bahwa sebagian tanggung jawab ada di pihak Kementerian dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) yang selalu memperbaiki infrastruktur jalur mudik pada menit-menit terakhir, atau bahkan belum selesai pada saat arus mudik mulai ramai. Dalam hal ini, Hiramus menyarankan seharusnya Kementerian dan Dinas PU bisa lebih memahami perasaan para jembatan yang juga berjasa untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas.

“Didandani dengan cepat agar terlihat bagus padahal seringkali hanya asal tambal, untuk kemudian langsung dibebani dengan para pemudik dan kendaraannya yang semakin banyak. Dinas PU harus sadar bahwa mereka itu jembatan, taruhannya nyawa dan kepentingan orang banyak.” kecamnya.

Sampai artikel ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Kementerian maupun Dinas PU mengenai kaburnya para jembatan tersebut. (Sha01)

 

===

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS