Iklan
LATEST TWEET

Anggota DPR: Saya Bolos Karena Tak Paham Isu yang Dirapatkan

July 16, 2014       Politik, z_Hot Stuff      
Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Senayan. Di gedung inilah, para anggota DPR memiliki tugas untuk mewakili konsituennya masing-masing serta membahas berbagai macam isu, permasalahan, dan legislasi untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. (photo courtesy acehterkini.com)

Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Senayan. Di gedung inilah, para anggota DPR memiliki tugas untuk mewakili konsituennya masing-masing serta membahas berbagai macam isu, permasalahan, dan legislasi untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. (photo courtesy acehterkini.com)

JAKARTA, POS RONDA – Salah satu dari sekian banyak tugas anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) adalah mengikuti rapat-rapat pembahasan legislasi dan undang-undang yang diadakan baik di tingkat komisi, fraksi, maupun paripurna. Dalam kenyataannya, anggota DPR sering diberitakan dan dikabarkan tidak menghadiri rapat-rapat tersebut karena berbagai macam alasan.

Dari jumlah total 560 anggota DPR, sering didapati kejadian bahwa peserta rapat paripurna tidak diikuti oleh ratusan anggota. Contohnya adalah rapat paripurna pada 20 Mei 2014 yang hanya dihadiri 305 orang, dan terakhir pada tanggal 10 Juli 2014 di mana 272 anggota tidak hadir dalam rapat. Akibatnya, beberapa rapat paripurna tidak menghasilkan apapun karena tidak memenuhi kuorum untuk menghasilkan keputusan.

Sadin Layana, anggota DPR yang bertugas di Komisi XII, menjelaskan kepada POS RONDA bahwa dirinya termasuk salah satu dari wakil rakyat yang jarang mengikuti rapat komisi, fraksi, maupun paripurna.

“Saya memang sering tidak hadir dalam rapat pembahasan undang-undang ataupun rapat komisi.  Karena saya tidak mengerti pokok permasalahan yang dibahas dalam rapat. Daripada saya mempermalukan diri saya karena terlihat tidak mengerti, ya lebih baik saya tidak masuk ruang rapat.” ujarnya saat diwawancarai di salah satu kedai kopi di Gedung DPR/MPR, Senayan, pagi ini (16/7).

Sadin ditempatkan di Komisi XII atas perintah partainya, dan sebagai seorang anggota partai dirinya harus tunduk kepada keputusan itu meskipun tidak memahami bidang yang ditangani oleh komisi.

“Awalnya saya senang-senang saja karena masuk komisi. Dari namanya saja sudah enak didengar, kan? Komisi, komisi, komisi. Rasanya jadi lebih sejahtera. Tapi ternyata harus berpikir pakai otak, sementara saya tidak suka mikir. Berat jadinya.” papar Sadin.

Kursi kosong di ruang rapat paripurna DPR saat sesi istirahat. Sayangnya, dalam sesi rapat aktif sekalipun, cukup banyak kejadian di mana kursi-kursi tersebut tidak terisi secara penuh. Fenomena ini merupakan salah satu penyebab turunnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap para anggota DPR. (photo courtesy cahayareformasi.com)

Kursi kosong di ruang rapat paripurna DPR saat sesi istirahat. Sayangnya, dalam sesi rapat aktif sekalipun, cukup banyak kejadian di mana kursi-kursi tersebut tidak terisi secara penuh. Fenomena ini merupakan salah satu penyebab turunnya rasa kepercayaan masyarakat terhadap para anggota DPR. (photo courtesy cahayareformasi.com)

Ia menegaskan bahwa banyak rekan-rekan lainnya di DPR yang memiliki pemikiran serupa. Mereka tidak paham mengenai tugas dan isu yang diusung masing-masing komisi sehingga memilih untuk membolos dari rapat.

Selain dari minimalnya pengetahuan mereka mengenai bidang yang ditangani komisi, para anggota DPR ternyata juga merasa serba salah apabila mengikuti rapat yang juga dihadiri oleh puluhan wartawan atau jurnalis media massa. Menurut Sadin,  mereka grogi karena apa pun yang dilakukan oleh mereka berpotensi untuk dimuat di media massa, dan tidak selalu dalam artian yang positif.

“Teman-teman saya pada takut dengan media karena jadinya salah kaprah. Jelas rapat-rapat itu kan membosankan, jadi pasti ada yang tidur apalagi yang sudah tua. Tapi pasti nanti difoto kemudian dipermasalahkan. Browsing pakai tablet biar tidak bosan, nanti dibilang buka situs porno. Bicara apa saja agar terlihat aktif, malah dibilang pencitraan. Daripada pada salah paham dan dibilang bodoh ya akhirnya kita memilih untuk tidak hadir.” jelas Sadin.

Dimintai komentar di kampus Universitas Panca Dharma Indonesia (UPDI) siang ini, pengamat politik Winston Rumorang berkomentar bahwa fenomena ini merupakan hasil dari sistem kepartaian dan pemilihan umum yang tidak sempurna. Maka, cukup banyak orang-orang yang terpilih untuk menduduki jabatan sebagai anggota DPR sebenarnya tidak memiliki kompetensi yang memadai.

Keadaan ini, menurut Winston, akhirnya menghasilkan apa yang dilihat masyarakat terhadap para wakilnya di DPR, yang kini reputasinya semakin buruk karena kata ‘malas’, ‘tidak peduli’, dan ‘korupsi’ semakin identik disematkan kepada mereka.

“Jadi memang harus ada perbaikan di seluruh  lini, baik dari partai politik itu sendiri, hingga sistem pemilihan umum, sampai dengan masyarakat juga. Ya, masyarakat juga harus aktif dalam memonitor para wakilnya di DPR. Jangan hanya ramai pada saat waktu pemilu atau pilpres. Justru di DPR inilah peraturan-peraturan dan undang-undang akan ramai didebatkan dan disahkan.” tegasnya. (PR-10/Sha01 )

 

====

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS