Iklan
LATEST TWEET

Editorial: Mendukung Toleransi (dan Demokrasi)

July 07, 2014       Pemilu 2014, Pendidikan, Politik      

JokPrab_globalindonesianvoicecom

“Journalism should be more like science. As far as possible, facts should be verifiable. If journalists want long-term credibility for their profession, they have to go in that direction. Have more respect for readers.

– Julian Assange –

Redaksi mohon maaf bila mengecewakan, tapi tulisan ini memang bukan satire ataupun parodi.

Sayangnya, tidak ada yang dapat dijadikan parodi apabila nilai toleransi yang merupakan inti dari kemuliaan bangsa Indonesia tengah berada di ujung tanduk akibat ulah media jurnalistik arus utama di negeri sendiri.

POS RONDA adalah media satire, bukan jurnalistik. Kami sendiri memang bukan jurnalis. Apa yang kami sajikan bagi para Pembaca yang budiman juga jauh dari definisi jurnalisme. Tapi sebagai penikmat berita jurnalistik, kami merupakan pengagum dari nilai-nilai dan etika jurnalisme yang sayangnya mulai menghilang di Indonesia dan tergantikan oleh korporatisme media.

Korporatisme media yang mementingkan rating, jumlah eksemplar, dan views, pada akhirnya memakan korban yang bernama toleransi. Keberpihakan media jurnalistik terhadap salah satu pasangan kandidat presiden, baik itu Prabowo Subianto – Hatta Rajasa maupun Joko Widodo – Jusuf Kalla, kemudian dipergunakan untuk melawan satu sama lain.

Kami paham keberpihakan media terhadap kandidat adalah lazim dalam politik. Namun menjadi tidak lazim ketika kampanye hitam yang dialamatkan bagi kedua kandidat menjadi semakin kuat dan dilegitimasi oleh media jurnalistik yang seharusnya berpatokan pada sumber-sumber yang dapat diverifikasi kebenaran dan validitasnya.

Tudingan fasis, komunis, diktator, boneka, intoleran, lemah, bertubi-tubi ditujukan kepada para kandidat meski tidak jelas kebenarannya. Ini diperparah dengan banyaknya jumlah clicking monkeys – mereka yang suka menyebarkan informasi tidak jelas – yang menempatkan dirinya sebagai pendukung masing-masing kandidat di media sosial. Namun, mengutip dari tulisan Rusdi Mathari, “…tapi celakanya para wartawan sering menjadi kumpulan monyet semacam itu. Mereka menulis apa saja yang dipungut dari sumber apa saja dan tidak jelas. Sebagian menulis tanpa malu dengan tak mencantumkan asal-usul sumbernya.

Ini berakibat munculnya konflik baik di media sosial maupun akar rumput. Para pendukung kandidat menjadi tidak toleran atas apa yang disampaikan oleh pendukung lainnya. Senjata argumen mereka adalah artikel-artikel berita yang diterbitkan oleh media pendukungnya masing-masing yang sangat jelas tendensi biasnya, namun validitas kebenaran dan sumbernya diragukan. Hasilnya adalah debat kusir yang didasari oleh artikel-artikel kosong yang berisi ‘katanya, gosipnya, dan kalau tidak salah’.

Jurnalisme yang dikuasai oleh korporatisme media dan dihiasi oleh para clicking monkeys, pada akhirnya kehilangan esensi dan berubah menjadi ‘jurnalisme katanya’.

Puncaknya adalah saat harian ternama di Indonesia dalam editorialnya memutuskan secara terbuka menyatakan public endorsement (dukungan) terhadap salah satu kandidat. Bukan dukungannya yang kami sesalkan karena itu hak sebagai entitas media. Yang kami sesalkan adalah alasan dan framing yang dikemukakan oleh harian tersebut.

Dalam editorial yang dimaksud, mereka jelas-jelas mengatakan menjunjung tinggi pluralisme, hak asasi, civil society, dan reformasi.  Tapi ini menjadi aneh saat mereka secara implisit menuding para pemilih capres tertentu mendukung nilai-nilai politis yang buruk. Padahal, perbedaan pilihan dalam politik adalah bagian dari hak asasi, pluralisme, civil society, dan dihormati dalam semangat reformasi.

Media jurnalistik arus utama menjadi terbelah dengan paradigma kandidat yang mereka dukung adalah representasi kebaikan, sedangkan lawannya adalah perwujudan kejahatan. Jurnalisme yang seharusnya menjadi corong bagi masyarakat untuk menerima semangat kebenaran telah diputarbalikkan menjadi senjata yang menanamkan kebingungan, ketakutan, dan teror.

Media arus utama menciptakan kesan bahwa seolah-olah nasib demokrasi dan Indonesia hanya akan ditentukan oleh kemenangan Prabowo ATAU Jokowi. Padahal, seperti yang dikatakan oleh seorang anggota tim redaksional kami, demokrasi dan Indonesia dalam konteks pilpres ini adalah Prabowo DAN Jokowi.

Pemikiran inilah yang melandasi sikap Redaksi dalam pernyataan di laman Facebook POS RONDA kemarin, bahwa kami tidak melakukan dukungan terbuka kepada salah satu kandidat. Sekali lagi, kami yakin dan percaya bahwa para Pembaca telah memilih pilihannya masing-masing dengan pemikiran yang mandiri tanpa perlu dipengaruhi oleh endorsement apapun dari media manapun. Endorsement yang dilakukan oleh Redaksi hanyalah meminta agar para Pembaca sebisa mungkin tidak golput.

Melalui editorial ini Redaksi ingin melakukan endorsement yang lebih besar, yaitu terhadap nilai-nilai toleransi dan demokrasi. Mengutip perkataan Thomas Jefferson kepada William Hamilton, “I never considered a difference of opinion in politics, in religion, in philosophy, as cause for withdrawing from a friend.”

Redaksi bersama dengan para Pembaca tentu mengharapkan Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik, lebih kuat, lebih cerdas, sejahtera, adil, dan makmur. Untuk itulah Indonesia membutuhkan persatuan rakyatnya, yang bisa diraih dengan rasa toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan pilihan politik, kepercayaan, budaya, dan sosial. Tidak untuk dipecah-belah, tidak untuk dilemahkan dengan ‘jurnalisme katanya’.

Salam Bhineka Tunggal Ika. Salam Demokrasi. Salam Satir.

– REDAKSI POS RONDA – 

Iklan

Shaka

Other posts by

One Respond

  • supriadi

    on July 9, 2014, 23:46:18

    hehehehe….sebenernya klo uda menang gini jokowi uda terlihat lah demokrasi kita di Indonesia..jgn sampe dibuat keruh karena segelintir org yg haus kekuasaan.

    btw, uda ada yg ikut daftar berkenalan.com – https://berkenalan.com kah? itu jejaring sosial baru lokal punya ya, bisa buat kartu nama online trs minta dan beri kartu nama kepada teman2 online jg?

    Reply to supriadi


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS