Iklan
LATEST TWEET

Jelang Pilpres, Media Jurnalistik Berubah Menjadi Parodi

July 05, 2014       Ekonomi & Bisnis, Pemilu 2014, Politik      
Media massa dan politik. Menjelang pelaksanaan pemilihan presiden Republik Indonesia 2014, banyak media jurnalistik mainstream yang mulai beralih menjadi media satire dan parodi. Banyak alasan yang mendasari keputusan tersebut, namun faktor terbesar adalah kepentingan pemilik media dan keuntungan finansial. (photo courtesy wrightresult.com)

Media massa dan politik. Menjelang pelaksanaan pemilihan presiden Republik Indonesia 2014, banyak media jurnalistik mainstream yang mulai beralih menjadi media satire dan parodi. Banyak alasan yang mendasari keputusan tersebut, namun faktor terbesar adalah kepentingan pemilik media dan keuntungan finansial. (photo courtesy wrightresult.com)

JAKARTA, POS RONDA – Maraknya kampanye pemilihan presiden serta menariknya kedua kandidat calon presiden (capres) membuat media berita mainstream bersaing dalam merambah ranah satire dan parodi. Hal ini nampak dari banyaknya artikel atau liputan berita di media mainstream yang memiliki sifat yang sama dengan media satire, yakni diragukan kebenarannya dari segi logika maupun metode liputan dan penyampaiannya.

Media jurnalistik mainstream tersebut umumnya beroperasi dengan basis teknologi media siar, cetak, ataupun internet, seperti TV One, Metro TV, Republika, The Jakarta Post, SINDO, TEMPO, Jawa Pos, detik.com, merdeka.com, kompas.com, tribunnews.com, inilah.com, dan sebagainya.

Tema satire dan parodi yang diangkat oleh media berita mainstream antara lain menyebutkan bahwa kedua capres, Prabowo Subianto dan Joko Widodo, memiliki kecenderungan sikap fasis atau komunis. Isu satire dan parodi seperti ‘kebocoran anggaran’, ‘utang pribadi’,  ‘capres boneka’, ‘pencitraan’, serta kampanye hitam yang dilakukan oleh masing-masing kubu menjadi andalan media-media massa tersebut.

Tentu saja, para penikmat jurnalisme mainstream yang telah melek media dipastikan tidak menanggapi serius berita satire dan parodi tersebut, yang jelas diragukan kebenarannya. Meski demikian, kekhawatiran mengenai etika jurnalistik mengemuka karena media-media mainstream tersebut tidak menaruh pernyataan disclaimer atau mengakui bahwa berita-berita yang mereka sampaikan adalah satire dan parodi.

Media jurnalistik mainstream di Indonesia. Sebagian besar kini telah beralih menjadi media satire dan parodi, namun lupa untuk mencantumkan disclaimer atau pernyataan bahwa berita mereka adalah satire dan parodi belaka. (photo courtesy combine.or.id)

Media jurnalistik mainstream di Indonesia. Sebagian besar kini telah beralih menjadi media satire dan parodi, namun lupa untuk mencantumkan disclaimer atau pernyataan bahwa berita mereka adalah satire dan parodi belaka. (photo courtesy combine.or.id)

“Ini sebetulnya merupakan preseden buruk, terutama bagi media yang sejak awal bergerak di ranah satire dan parodi. Mengingat media satire modern tergolong masih hijau di Indonesia, kini kami terdesak karena media mainstream dengan kekuatan korporasinya ikut bermain di ranah tersebut.” keluh pemimpin redaksi POS RONDA, Shaka Mahottama, saat diwawancarai di kantor redaksi POS RONDA, kemarin (4/7).

Menurut Shaka, media mainstream telah mengikuti gaya penulisan dan liputan media satire dan parodi. Narasumber yang sama-sama tidak jelas latar belakangnya, minimnya klarifikasi, pengangkatan dan pemelintiran isu yang berlebihan, serta manipulasi foto, gambar, dan adegan tayangan, membuat batasan antara media jurnalistik mainstream dan media parodi menjadi kabur.

Masuknya media mainstream ke ranah satire memang bukan hal baru. Di Amerika Serikat contohnya, The Huffington Post dan The New Yorker juga telah melakukan hal yang sama. Perbedaannya adalah, artikel satire dan parodi diberikan rubrik tersendiri yang terpisah dari berita dan feature jurnalistik, sehingga para pembaca dan penikmat media bisa dengan mudah membedakan keduanya.

“Kini tipis sekali perbedaan antara artikel-artikel kami dengan berita-berita mereka. Ini kan jelas bahwa media mainstream mulai menjejak masuk ke ranah satire, tapi mereka tidak mau mengaku. Seharusnya biarlah bahasan satire dan parodi menjadi porsi media satire, sementara mereka tetap pada track-nya di bidang jurnalisme.” paparnya.

Sebuah meme di dunia maya yang berisi kritik terhadap media jurnalistik modern, yang dianggap mulai meninggalkan prinsip-prinsip dan dasar etika jurnalisme. (photo courtesy cheezburger.com)

Sebuah meme di dunia maya yang berisi kritik terhadap media jurnalistik modern, yang dianggap mulai meninggalkan prinsip-prinsip dan dasar etika jurnalisme. (photo courtesy cheezburger.com)

Berpindahnya fokus dari jurnalisme ke satire dapat dimengerti. Para pemilik media menjalankan media seperti bisnis lainnya, yaitu untuk mencari laba sebesar-besarnya.

Shaka menjelaskan lebih lanjut bahwa judul-judul berita bombastis dan isinya yang satire memang mampu meraih perhatian khalayak yang lebih luas. Ini dibutuhkan untuk meraih rating, jumlah eksemplar, atau jumlah views dan klik yang tinggi. Angka yang tinggi inilah yang nantinya akan disodorkan kepada pihak ketiga yaitu pengiklan. Semakin tinggi angkanya, semakin besar ketertarikan pengiklan untuk mepromosikan produknya di media tersebut.

“Dalam prosesnya, ini membuat para reporter bergeser tugasnya dari jurnalis menjadi pekerja media biasa, seperti kami, yang tidak terikat oleh prinsip-prinsip dan etika jurnalisme murni. Rating tinggi dan keuntungan itu memang menggiurkan dan kami sangat mengerti itu. Apalagi sebentar lagi Lebaran, jadi wajar saja apabila mereka ingin meraih pemasukan ekstra. Perbedaannya dengan mereka, POS RONDA sampai saat ini masih mencari pemasukan dari iklan.” ujar Shaka sambil tertawa.

Hal yang sama juga disampaikan oleh pengamat media dari Indonesian Political Media Studies (IPMES) I Gusti Astatanu. Menurut Gusti, media memang tidak bebas nilai. Terdapat para pengusaha media yang punya kepentingan dari berjalannya media itu sendiri. Seperti halnya badan usaha biasa, para pengusaha tersebut menjalankan media untuk meraih keuntungan. Berita mendukung atau menjelekkan capres tertentu juga merupakan bagian dari kepentingan pemilik media.

Headline di sebuah tabloid di Irlandia yang mengangkat isu kolaborasi media massa dan pelaku politik. Tidak hanya di Indonesia, media massa dan politik sering sekali membentuk kombinasi yang kuat demi kepentingan bisnis dan kekuasaan. (photo courtesy indymedia.ie)

Headline di sebuah harian di Irlandia yang mengangkat isu kolaborasi media massa dan pelaku politik. Tidak hanya di Indonesia, media massa dan politik sering sekali membentuk kombinasi yang kuat demi kepentingan bisnis dan kekuasaan. (photo courtesy indymedia.ie)

Saat ini, media di Indonesia jumlahnya sangat banyak dan saling bersaing untuk memberitakan secara cepat. Gusti mengingatkan bahwa persaingan ini menjadi jebakan bagi media itu sendiri, terutama media jurnalistik. Di satu sisi mereka dituntut untuk menyajikan informasi secara cepat, namun di sisi lain mereka seharusnya melakukan crosscheck terlebih dahulu.

“Sayangnya, persaingan menjadi yang tercepat ditambah dengan menjadi partisan capres tertentu membuat mereka hanya menjadi paralon dan tidak melakukan crosscheck. Kemudian, karena itu membutuhkan waktu dan upaya yang lebih, maka mereka memutuskan untuk membuang jurnalisme dan menurunkan berita-berita satire dan parodi. Mengapa? Karena cukup memainkan imajinasi saja.” jelas Gusti saat diminati pendapatnya pagi ini (5/7).

Gusti mengakhiri pendapatnya dengan memperkuat kritik bahwa seharusnya media jurnalistik mainstream menyertakan disclaimer atau menyatakan secara jujur mengakui bahwa isi berita mereka adalah satire dan parodi. (Sha01)

 

====

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

One Respond


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS