Iklan
LATEST TWEET

Marak Beredar Tabloid OBOR, “Cabe-cabean” Ubah Istilah Jadi “Obor-oboran”

June 30, 2014       Pemilu 2014, Politik, Sosial, z_Featured      
Munculnya tabloid-tabloid yang menggunakan nama OBOR mewarnai carut-marutnya proses kampanye pemilihan presiden Republik Indonesia 2014. Ini membuat sekelompok remaja berinisiatif mengubah istilah 'cabe-cabean' menjadi 'obor-oboran'. (photo courtesy hqwide.com)

Munculnya tabloid-tabloid yang menggunakan nama OBOR mewarnai carut-marutnya proses kampanye pemilihan presiden Republik Indonesia 2014. Ini membuat sekelompok remaja berinisiatif mengubah istilah ‘cabe-cabean’ menjadi ‘obor-oboran’.
(photo courtesy hqwide.com)

JAKARTA, POS RONDA – Sejumlah remaja perempuan yang mengaku sebagai ‘cabe-cabean’ mengambil inisiatif dan mendeklarasikan perubahan istilah menjadi ‘obor-oboran’. Juru bicara kelompok remaja tersebut, Melodina Chintya Violenzia, menyatakan perubahan itu diakukan murni karena keinginan mereka untuk melabeli diri dengan istilah yang lebih populer.

Istilah ‘obor-oboran’ dipilih terkait dengan kepopuleran kata ‘obor’ yang tengah naik daun akibat kampanye pemilihan presiden (pilpres), di mana terdapat persebaran tabloid bernama OBOR RAKYAT dan OBOR RAHMATAN LIL’ALAMIN. Kedua tabloid yang isinya saling bertentangan tersebut kini banyak beredar di masyarakat dan mewarnai carut-marutnya kampanye kandidat pilpres tahun ini.

OBOR RAKYAT berisikan tulisan-tulisan yang dianggap mendiskreditkan salah satu kandidat presiden dan diedarkan di pesantren-pesantren, sementara OBOR RAHMATAN berisikan tulisan-tulisan sebaliknya, yang menyanjung kandidat presiden yang dimaksud dengan mengutip opini dan pernyataan beberapa tokoh pemuka agama.

“Iya, jadi kalau kita pakai terus kata ‘cabe-cabean’ sudah terlalu mainstream, tidak ada bedanya dengan yang lain. Oleh karena itu kami pakai ‘obor-oboran’, karena lebih populer di mata orang-orang. Lihat saja tabloid OBRAK (Obor Rakyat) dan OBRAH (Obor Rahmatan), dicari-cari orang. Rupanya kata ‘obor’ diasosiasikan dengan sifat dinamis, berapi-api, dan bergairah. Kami suka itu.” jelas Melodina dalam pernyataannya yang dilakukan di Taman Suropati, Menteng, pagi ini (30/6).

Saat ditanyai pendapat mengenai isi dari kedua tabloid yang menggunakan nama OBOR tersebut, Melodina dan teman-temannya mengaku tidak peduli dan tidak terlalu memikirkan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Menurutnya. isi kedua tabloid tersebut sama-sama tidak berkualitas dan hanya muncul sebagai bahan kampanye yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Dua tabloid itu ‘kan muncul mendadak dan cuma bikin orang musuhan. Isi keduanya juga belum tentu benar, yang satu jelek-jelekin capres, yang satu lagi catut nama-nama kyai, disuruh bayar juga padahal bahan kampanye. Media kawakan saja sekarang tidak bisa dipercaya lagi, apalagi ini. Niat amat ya bikin begituan, woles aja keleeeus.” ujar Melodina.

Tabloid OBOR RAKYAT dan OBOR RAHMATAN LIL'ALAMIN. Kedua tabloid ini berisikan tulisan yang saling kontradiktif satu sama lain. Sebagai bagian dari propaganda kampanye, tentu saja keduanya digunakan untuk mencuci dan mengocok otak masyarakat yang belum melek media. (photo taken from kompasiana.com)

Tabloid OBOR RAKYAT dan OBOR RAHMATAN LIL’ALAMIN. Kedua tabloid ini berisikan tulisan yang saling kontradiktif satu sama lain. Sebagai bagian dari propaganda kampanye, tentu saja keduanya digunakan untuk mencuci dan mengocok otak masyarakat yang belum melek media. (photo taken from kompasiana.com)

Perubahan istilah menjadi ‘obor-oboran’ diharapkan oleh Melodina agar menjadi momentum perubahan. Selama ini, ‘cabe-cabean’ selalu identik dengan kesan negatif. Melodina dan kawan-kawannya ingin merubah stigma tersebut dengan mengemban istilah ‘obor-oboran’ pada diri mereka.

Dengan istilah ini, mereka ingin berjuang untuk menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang mencerahkan dan mencerdaskan orang lain, memberikan inspirasi dan semangat berapi-api kepada mereka yang membutuhkan. Melodina menyebutnya sebagai Revolusi Obor, bertindak nyata memberi semangat di akar rumput, tidak seperti istilah ‘revolusi mental’ dan ‘revolusi bocor’ yang lebih banyak diributkan di media massa yang sudah menjadi corong suara masing-masing kandidat.

Pakar komunikasi politik Universitas Jayabangsa Indonesia (UJI), Yekti Hasroel Santoso, menyetujui pendapat para remaja bahwa media massa baik elektronik maupun cetak semakin tidak dapat dipercaya seiring dengan mendekatnya Hari-H tanggal 9 Juli nanti. Permasalahannya, banyak masyarakat yang masih belum melek media atau tidak mendapatkan pendidikan yang baik mengenai media massa.

“Sayangnya, dalam hal ini termasuk cukup banyak juga jurnalis dan redaktur yang tidak lagi bebas nilai dan tidak independen. Saya mungkin bisa maklum karena mereka mencari pemasukan tambahan untuk menghadapi Hari Lebaran. Pada akhirnya, kita harus mengandalkan Hukum Gossen dan kesabaran psikologis masyarakat yang akhirnya akan muak dengan pemberitaan yang berlebihan.” keluhnya.

Hadirnya tabloid OBOR RAKYAT dan OBOR RAHMATAN, menurut Yekti, adalah bagian dari propaganda dalam masa kampanye. Isinya pun tidak perlu ditanggapi serius. Bahkan, Yekti menyarankan tidak membaca keduanya sebagai usaha untuk menjaga kesehatan pikiran dan jiwa.

“Orang yang terganggu kesehatan pikiran dan jiwa, akan terganggu pula kemampuan komunikasinya secara baik. Hasilnya muncul dua tabloid tersebut, menggunakan nama yang hampir sama karena sudah kehabisan ide dan tujuannya hanya untuk melawan propaganda pihak lainnya. Jadi menurut saya, justru dua tabloid itu yang bisa disebut ‘obor-oboran’, atau obor mainan setengah jadi.” pungkas Yekti. (Sha01)

====

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

One Respond

  • pakjumadi

    on July 21, 2014, 00:28:13

    alhaamdullah saya menang
    lagi 4D 4824 sah sgp
    hari minggu rabu saya dpat 213jt
    semua berkat ki nugroho O823.1920.8865
    yang punya room terima kasih
    atas tumpangannya semoga sukses selalu

    Reply to pakjumadi


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS