Iklan
LATEST TWEET

Kritik Debat Capres, Aktivis Serukan Tepuk Tangan Bagian dari HAM

June 11, 2014       Pendidikan, Politik      
Moderator acara debat capres Zainal Arifin Mochtar. Berusaha membuat suasana acara kondusif dengan memperingatkan penonton berkali-kali agar tidak bertepuk tangan, Zainal justru menjadi sasaran kritik dan olok-olok di media sosial. (photo courtesy via kompasiana.com)

Moderator acara debat capres Zainal Arifin Mochtar. Berusaha membuat suasana acara kondusif dengan memperingatkan penonton berkali-kali agar tidak bertepuk tangan, Zainal justru menjadi sasaran kritik dan olok-olok di media sosial. (photo courtesy via kompasiana.com)

JAKARTA, POS RONDA – Puluhan aktivis yang tergabung dalam lembaga Asosiasi Kaum Universal untuk Hak Asasi Manusia (AKUHAM) menyerukan kegiatan tepuk tangan sebagai bagian dari hak mendasar kemanusiaan dan karena itu pelarangannya termasuk pelanggaran HAM.

Domina Tumilaar, ketua koordinator aksi AKUHAM, berorasi mengenai topik tersebut dalam sebuah unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia (HI) kemarin (10/6).

“Tepuk tangan melambangkan berbagai hal dalam kehidupan manusia. Kegembiraan, kebahagiaan, dukungan, rasa berbagi, dan spontanitas. Itu adalah hal-hal yang menjadikan manusia dan kehidupannya bernilai. Saya tekankan sekali lagi, tepuk tangan adalah hak dasar yang seharusnya juga dimiliki manusia dan dilindungi oleh negara dan masyarakat.” ujar Domina disambut riuh penuh persetujuan dari para pengunjuk rasa lainnya.

Setelah selesai berorasi di Bundaran HI, sekitar pukul 13.00 WIB rombongan pengunjuk rasa melakukan long march di Jalan Imam Bonjol menuju Taman Suropati, Menteng, melewati gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat.

Para aktivis dan pengunjuk rasa dari AKUHAM saat berjalan dari Bundarah HI menuju Kantor KPU Pusat. Mereka mengkritik penyelenggaraan acara KPU yang mengekang hak dasar penonton untuk bertepuk tangan. Bagi AKUHAM, tepuk tangan adalah bentuk terkecil dari demokrasi untuk menyetujui atau menunjukkan dukungan kepada seseorang. (photo courtesy pikiran-rakyat.com)

Para aktivis dan pengunjuk rasa dari AKUHAM saat berjalan dari Bundarah HI menuju Kantor KPU Pusat. Mereka mengkritik penyelenggaraan acara KPU yang mengekang hak dasar penonton untuk bertepuk tangan. Bagi AKUHAM, tepuk tangan adalah bentuk terkecil dari demokrasi untuk menyetujui atau menunjukkan dukungan kepada seseorang. (photo courtesy pikiran-rakyat.com)

Dalam long march tersebut, kepada POS RONDA Domina mengatakan bahwa aksi kali ini merupakan bentuk protes kepada kesewenang-wenangan yang terjadi dalam acara Debat Calon Presiden (capres) yang berlangsung hari senin lalu (9/6). Dalam acara agenda KPU yang diselenggarakan di Balai Sarbini tersebut, moderator Zainal Arifin Mochtar berkali-kali mengingatkan agar para penonton debat yang disiarkan secara langsung itu tidak bertepuk tangan sebelum diizinkan oleh dirinya sebagai moderator.

Alasan Zainal meminta penonton di Balai Sarbini tidak bersuara gaduh sebetulnya dapat dimengerti, agar tidak mengganggu jalannya debat dan memberikan kesempatan pada kandidat untuk menjelaskan visi, misi, dan program masing-masing tanpa gangguan. Hanya saja, penyampaian yang dilakukan oleh Zainal terkesan menggurui dan menghabiskan banyak waktu hanya untuk melarang penonton bertepuk tangan.

Kontan apa yang dilakukan Zainal menjadi bahan olok-olok di media sosial. Bahkan tersebar grafik yang menggambarkan pembagian waktu dalam acara debat capres yang menggambarkan lebih dari separuh waktu acara tersebut habis digunakan moderator untuk melarang penonton bertepuk tangan. Alhasil, banyak yang tidak puas dengan kinerja moderator acara debat tersebut.

“Terus terang debat kemarin (Senin) itu tidak terasa istimewa bagi saya. Saya bahkan tidak ingat apa yang dikemukakan oleh para kandidat. Yang saya ingat hanya satu: saya dilarang tepuk tangan.” ujar Domina dalam long march tersebut.

Parodi alokasi waktu dalam acara debat capres. Tampak bahwa moderator mendominasi alokasi waktu dalam acara tersebut. Gambar ini pertama kali diunggah melalui akun Twitter  @SBYudhoyno. (picture taken from ceritamu.com)

Parodi alokasi waktu dalam acara debat capres. Tampak bahwa moderator mendominasi alokasi waktu dalam acara tersebut. Gambar ini pertama kali diunggah melalui akun Twitter @SBYudhoyno. (picture taken from ceritamu.com)

Domina menjelaskan lebih lanjut bahwa cara moderator melarang dan mengomandoi tepuk tangan merupakan sebuah tamparan yang keras pada hak asasi manusia untuk berekspresi. Tepuk tangan, menurut Domina, sejak masa kuno dulu merupakan bagian dari sebuah pidato, orasi, ataupun diskusi. Tepuk tangan adalah simbol apakah masyarakat menyetujui atau merasa terhibur atas sebuah pertunjukan.

“Begitu adanya semenjak awal peradaban manusia, kemudian di masa romawi, hingga saat ini. Tepuk tangan haruslah berawal dari reaksi spontan, karena itu mencerminkan kejujuran dan demokrasi. Tepuk tangan dengan dikomandoi adalah pencitraan fasis dan pemaksaan terhadap kehendak.” papar Domina.

KPU, menurut Domina, harus memperhatikan isu ini. Jangan sampai masyarakat menjadi tidak bersemangat mengikuti jalannya agenda pilpres karena buruknya penyelenggaraan acara. Domina juga mengingatkan agar acara yang diselenggarakan KPU menghormati spontanitas dukungan masyarakat pada kandidat pilihannya meski hanya dengan sekedar tepuk tangan, karena itu adalah bentuk-bentuk terkecil dari demokrasi kerakyatan.

Para pengunjuk rasa kemudian sempat berhenti di depan kantor KPU Pusat dan berorasi selama kurang lebih 15 menit sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke Taman Suropati untuk lanjut berunjuk rasa. Mereka akhirnya membubarkan diri dengan tertib setelah acara selesai sekitar pukul 16.30 WIB.

Para kandidat bersalaman seusai acara debat capres. KPU berjanji akan melakukan evaluasi agar tahapan debat selanjutnya lebih baik lagi. (photo courtesy kompas.com)

Para kandidat bersalaman seusai acara debat capres. KPU berjanji akan melakukan evaluasi agar tahapan debat selanjutnya lebih baik lagi. (photo courtesy kompas.com)

Saat dimintai keterangan mengenai protes dari AKUHAM, juru bicara KPU Pusat Yoyon S. Hasibuan mengatakan bahwa pihak KPU mendukung langkah moderator untuk memperingatkan agar para penonton tidak gaduh. Menurut Yoyon peringatan tersebut sama sekali tidak terkait HAM, melainkan murni demi lancarnya keberlangsungan acara debat. Meski demikian Yoyon berjanji bahwa KPU tetap akan melakukan evaluasi.

“Tidak benar kalau kami mendukung pelanggaran HAM. Apa yang dilakukan oleh saudara moderator murni untuk menciptakan suasana kondusif dalam debat bagi para kandidat. Kami dukung itu. Soal evaluasi acara, sudah pasti kami lakukan agar tahapan debat selanjutnya lebih baik lagi dari kemarin.” ujar Yoyon.

Hingga artikel ini diturunkan, POS RONDA masih belum mendapatkan keterangan dari moderator acara Zainal Arifin Mochtar terkait dengan kritik tersebut. (Sha01)

 

====

 

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

7 Responses

  • Andre

    on June 11, 2014, 18:29:26

    malam, kang berita ini boleh saya publih di web kampus kami?,

    http://www.gemajustisia.com

    Reply to Andre
    • Redaksi POS RONDA

      on June 11, 2014, 18:36:12

      Silahkan, bung Andre yang budiman. Mohon jangan lupa untuk pasang disclaimer kalo ini artikel satir ya.

      Terima kasih. Salam satir.

      Reply to Redaksi
      • Andre

        on June 11, 2014, 19:04:37

        tentunya kang, saya akan bertanggungjawab atas kepemilikan artikel ini. trmksh ya kang 🙂

        Reply to Andre
  • Fakhrian

    on June 12, 2014, 08:20:49

    aktivis HAM yang dibutakan oleh kata “hak” dan melupakan kewajiban
    semua orang punya hak, dan semua orang punya kewajiban untuk menghargai hak orang lain
    yang namanya hak tuh buat dengerin debat tanpa gangguan
    tepuk tangan memang hak, tapi gak tepuk tangan itu kewajiban. kewajiban untuk menghargai hak orang lain yang ingin mendengarkan

    Reply to Fakhrian
    • kunderemp

      on June 12, 2014, 16:28:55

      Ternyata masih ada aja yang anggap serius.. hahahahahahaha

      Reply to kunderemp
  • JJ

    on June 12, 2014, 11:42:29

    Akhirnya ada juga yang komen seriuuus banget di POS RONDA. Pasti IQ-nya Fakhrian lebih dari 152 nih :))

    Reply to JJ
  • Indah

    on June 12, 2014, 11:53:45

    Wakakakaka…betul banget ini…dikit2 jgn tepuk tangan…parah…
    btw, uda ada yg ikut daftar berkenalan.com – https://berkenalan.com kah? itu jejaring sosial baru ya,
    bisa buat kartu nama online trs minta dan beri kartu nama kepada teman2 online jg?

    Reply to Indah

FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS