Iklan
LATEST TWEET

BI Pertimbangkan Ubi Jalar Jadi Cadangan Devisa

June 06, 2014       Ekonomi & Bisnis, Politik, Sosial      
Ubi jalar. Sepanjang tahun ini, Indonesia telah mengimpor puluhan ton ubi jalar dan mengancam usaha petani lokal. Bank Indonesia akhirnya menjajaki kemungkinan untuk menjadikan ubi jalar sebagai salah satu bentuk cadangan devisa. (photocourtesy viva.co.id)

Ubi jalar, salah satu bahan pangan favorit masyarakat Indonesia. Sepanjang tahun ini, Indonesia telah mengimpor puluhan ton ubi jalar dan mengancam usaha petani lokal. Bank Indonesia akhirnya menjajaki kemungkinan untuk menjadikan ubi jalar sebagai salah satu bentuk cadangan devisa. (photocourtesy viva.co.id)

JAKARTA, POS RONDA – Bank Indonesia (BI) tengah mempertimbangkan kemungkinan untuk menjadikan ubi jalar sebagai salah satu alat tukar cadangan devisa negara. Langkah tersebut dijajaki oleh pihak BI sebagai antisipasi terhadap gejolak harga terutama pada bahan pangan dasar.

Juru bicara BI, Arfandi Rudyatmo, mengatakan bahwa pertimbangan dijadikannya ubi jalar sebagai salah satu alat cadangan devisa berawal dari membanjirnya komoditas tersebut di Indonesia yang masuk melalui keran impor.

Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS), dalam lima bulan pertama di tahun 2014 ini impor ubi jalar dari Republik Rakyat Cina (RRC) mencapai 25,07 ton atau bernilai US$ 42,9 ribu. Tidak disebutkan apakah impor tersebut berbentuk olahan atau mentah, namun ubi jalar impor lebih mudah untuk mendapatkan akses ke pasar-pasar tradisional dan modern dibandingkan ubi jalar lokal.

Tentu saja kondisi ini membuat para petani ubi jalar mengalami kesulitan untuk bersaing. Di saat produktivitas palawija menurun, harganya sendiri tidak kunjung naik bahkan cenderung turun karena masuknya ubi jalar impor dalam skala besar.

Nilai impor ubi jalar tersebut memang sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah cadangan devisa negara Indonesia yang mencapai US$ 107 miliar berdasarkan data terakhir pada bulan Mei 2014. Meski demikian, menurut Arfandi, yang berusaha untuk dihindari adalah efek domino dari matinya usaha para petani lokal.

Tumpukan mata uang dolar Amerika Serikat. Cadangan devisa umumnya terdiri dari mata uang asing atau logam mulia, namun BI melakukan penjajakan atas kemungkinan bahan pangan seperti ubi jalar bisa masuk ke dalam kriteria tersebut. (photo courtesy rimanews.com)

Tumpukan mata uang dolar Amerika Serikat. Cadangan devisa umumnya terdiri dari mata uang asing atau logam mulia, namun BI melakukan penjajakan atas kemungkinan bahan pangan seperti ubi jalar bisa masuk ke dalam kriteria tersebut. (photo courtesy rimanews.com)

“Memang ini tidak biasa. Tapi BI mempertimbangkan untuk membeli stok ubi jalar impor untuk dijadikan cadangan devisa. Selain fungsi utamanya untuk menstabilkan kondisi perekonomian petani lokal, sebagai cadangan devisa ubi jalar juga bisa dijadikan alat tukar dengan negara-negara yang mengalami kesulitan bahan pangan. Dengan cara ini, devisa yang berupa mata uang asing bisa tetap utuh.” ujar Arfandi.

Arfandi menjelaskan bahwa pihak BI tengah dalam upaya berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Perdagangan (Kemendag), dan Badan Urusan Logistik (BULOG) untuk merancang kebijakan lanjutan yang lebih terarah dan terstruktur.

“Kami tidak bisa melarang ataupun menghambat impor. Itu akan jadi tugas dari Kemendag dan Kementan. Yang bisa dilakukan BI untuk jangka pendek adalah menghambat efek domino hancurnya usaha petani lokal dengan memborong ubi jalar impor untuk dijadikan devisa. BULOG seharusnya bertugas untuk memastikan bahwa petani lokal punya akses yang lebih luas untuk menempatkan produknya di pasar.” lanjutnya.

Rencana tersebut tidak umum dan bahkan dapat dinilai absurd untuk ukuran bank sentral. Biasanya, kebijakan bank sentral berkisar pada stabilitas ekonomi, perbankan, inflasi, valuta asing, suku bunga bank, dan sebagainya. Maka, wajar bila banyak yang bertanya-tanya dengan rencana BI untuk memasukkan ubi jalar sebagai salah satu bentuk cadangan devisa.

Meski demikian, encana BI tersebut mendapat apresiasi positif dari ekonomi Universitas Jayabangsa Indonesia (UJI), Carika Liem. Carika menganggap langkah tersebut sebagai inovasi dalam kebijakan moneter.

“Seringkali di masa-masa sulit, sebuah negara membutuhkan keputusan radikal. Bagi saya, apa yang dilakukan oleh BI harus diapresiasi sebagai usaha untuk menyatukan koordinasi antar lembaga yang selama ini amburadul. Seandainya pun kebijakan ini tidak jadi berjalan karena dianggap absurd, paling tidak sudah ada political gesture yang baik dari pihak BI.”  papar Carika.

Salah satu pasar tradisional di Indonesia. Banyak komoditas pangan yang dijual di pasar-pasar merupakan hasil impor. Meski ada pendapat bahwa bahan impor dibutuhkan karena produksi lokal tidak mencukupi kebutuhan,  permasalahan infrastruktur seringkali lebih dominan karena sulitnya mengirim komoditas dari tempat produksi ke kantong-kantong pasar. (photo courtesy businessview.co)

Salah satu pasar tradisional di Indonesia. Banyak komoditas pangan yang dijual di pasar-pasar merupakan hasil impor. Meski ada pendapat bahwa bahan impor dibutuhkan karena produksi lokal tidak mencukupi kebutuhan, permasalahan infrastruktur seringkali lebih dominan karena sulitnya mengirim komoditas dari tempat produksi ke kantong-kantong pasar. (photo courtesy businessview.co)

Ubi jalar hanya satu dari beberapa bahan pangan yang diekspor oleh Indonesia. Ubi kayu, bawang merah, bawang putih, garam, lada, tepung terigu, kelapa sawit, gula tebu, dan kentang juga merupakan bagian dari daftar bahan pangan yang diimpor.

Para pengamat dan aktivis menganggap banyaknya impor bahan pangan merupakan kebijakan yang kontraproduktif terhadap perkembangan industri pertanian nasional karena bisa mematikan potensi petani lokal. Namun, ada juga pihak yang berpendapat bahwa memang produksi dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan masyarakat. Sulitnya untuk mendistribusikan bahan pangan dari daerah produksi ke kota-kota karena minimnya infrastruktur disinyalir juga membuat praktik impor lebih disukai karena kemudahan akses ke kantong-kantong pasar. (Sha01)

====

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

2 Responses


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS