Iklan
LATEST TWEET

Dampak Potong Anggaran: Kantor Pemerintah Alih Fungsi Jadi Warnet?

June 04, 2014       Ekonomi & Bisnis, Megapolitan, Pendidikan, Politik, Sosial      
Pemotongan anggaran yang dilakukan pemerintah mulai berdampak pada kinerja lembaga negara. Sebagian lembaga bahkan terpaksa memutar otak untuk mencari sumber pemasukan secara mandiri. (photo courtesy lbhpadang.com)

Pemotongan anggaran yang dilakukan pemerintah mulai berdampak pada kinerja lembaga negara. Sebagian lembaga bahkan terpaksa memutar otak untuk mencari sumber pemasukan secara mandiri. (photo courtesy lbhpadang.com)

JAKARTA, POS RONDA – Pemotongan anggaran yang dilakukan oleh pemerintah beberapa waktu lalu melalui Inpres Nomor 4 tahun 2014 mulai berdampak serius terhadap kinerja kementerian dan lembaga-lembaga negara. Beberapa lembaga bahkan kehilangan sebagian besar agenda kerja untuk keseluruhan tahun 2014 karena dana anggaran ditarik kembali oleh pemerintah pusat.

Salah satunya adalah Lembaga Robotik dan Otomat Nasional (LARON), yang terpaksa membatalkan seluruh agenda program dan proyek kerja sehari setelah adanya pengumuman Inpres dari pemerintah tersebut. Anggaran LARON diperkirakan terpotong antara 60 hingga 70 persen.

Alasan mengapa anggaran LARON dipotong begitu banyak diperkirakan oleh para pengamat karena lembaga tersebut termasuk ke dalam lembaga negara Kategori IV, yang biasanya berisi ‘lembaga-lembaga yang keberadaannya terlupakan oleh Presiden’. Namun, alasan ini dibantah oleh pihak LARON.

“Ini karena banyak penundaan dalam persetujuan anggaran untuk program-program yang baru akan dimulai tengah tahun. Akibatnya, saat Inpres keluar  belum ada ketok palu untuk program-program tersebut, jadi ya dibatalkan.” ujar Amir Juwarsa, Sekretaris Utama LARON, saat ditemui di kantornya kemarin (4/6).

Amir menjelaskan, program-program seperti roadshow ke sekolah-sekolah, pembuatan prototipe robot industri, kerjasama dengan lembaga robotik luar negeri, serta rencana pemberian beasiswa kepada beberapa penelitinya terpaksa dihapuskan karena tidak ada anggaran yang tersisa.

Meskipun dirinya memahami keputusan pemerintah untuk memotong anggaran, Amir tetap menganggap bahwa kebijakan tersebut merugikan bagi perkembangan teknologi robotik di Indonesia. Penelitian-penelitian yang sudah berjalan beberapa tahun terpaksa dihentikan.

“Jadi tidak bisa langsung diberikan secara penuh untuk satu program, jangka lima tahun, misalnya. Sistemnya tidak begitu. Pendanaannya diharuskan bertahap per tahun. Dengan kondisi sekarang, ya anggarannya ditarik. Penelitian kami bertahun-tahun juga akhirnya terhenti.” lanjutnya.

Meski demikian, Amir tidak menyerah begitu saja. Meskipun pemerintah pusat telah memotong anggaran lembaganya, ia akan berupaya agar paling tidak sebagian dari program penelitian yang telah diagendakan bisa tetap dilaksanakan.

Salah satu ruangan kantor LARON yang dialihfungsikan menjadi warnet komersial. Langkah ini diambil agar LARON tetap bisa membiayai program penelitiannya di bidang robotik. (photo courtesy teknisi-elektro.blogspot.com)

Salah satu ruangan kantor LARON yang dialihfungsikan menjadi warnet komersial. Langkah ini diambil agar LARON tetap bisa membiayai program penelitiannya di bidang robotik. (photo courtesy teknisi-elektro.blogspot.com)

Amir kemudian berinisiatif untuk mengubah sebagian ruangan dalam kantor LARON menjadi warung internet (warnet) komersial yang buka 24 jam. Berbekal sambungan internet berkecepatan sangat tinggi seperti yang biasanya ada di kantor-kantor lembaga pemerintah, ia berharap bisa menarik perhatian para pelajar dan mahasiswa dari sekolah dan kampus-kampus di sekitar kantor LARON sebagai pelanggan.

Warnet di kantor LARON telah berjalan hampir seminggu dengan hasil yang cukup memuaskan. Dengan pendapatan dari operasi warnet tersebut, Amir berharap setidaknya beberapa penelitian yang terhambat bisa tetap berjalan.

“(perubahan tersebut) Sudah atas persetujuan Ketua lembaga. Intinya kami akan berusaha semaksimal mungkin agar sebagian agenda program LARON bisa berjalan. Kalau kami diam saja, bagaimana kami bisa bertanggung jawab pada masyarakat yang sudah bayar pajak? Untungnya bagi kami, tender penyediaan koneksi internet sudah selesai sejak awal tahun.” papar Amir.

Langkah ini didukung oleh para pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja di LARON. Karni Bhanuwati, salah seorang peneliti robotik di LARON, mengatakan bahwa dengan cara tersebut ada kemungkinan bahwa penelitian yang dilakukannya bisa berlanjut. Karni juga menyayangkan keputusan pemerintah untuk menarik anggaran-anggaran penelitian yang menurutnya tengah dalam tahapan yang krusial.

Salah satu ruangan laboratorium robotik di LARON. Beberapa program penelitian terpaksa terhenti akibat pemotongan anggaran pemerintah. Meski demikian, LARON berusaha mencari sumber dana mandiri agar paling tidak beberapa program krusial bisa tetap berjalan. (photo courtesy 21rirobotics.com)

Salah satu ruangan laboratorium robotik di LARON. Beberapa program penelitian terpaksa terhenti akibat pemotongan anggaran pemerintah. Meski demikian, LARON berusaha mencari sumber dana mandiri agar paling tidak beberapa program krusial bisa tetap berjalan. (photo courtesy 21rirobotics.com)

Terdapat kekhawatiran mengenai status legalitas dari langkah yang diambil LARON, mengenai perubahan kantor lembaga pemerintah menjadi warnet komersial. Amir mengaku tidak mengkhawatirkan hal tersebut. Baginya, apa yang dilakukan LARON bisa dianggap sebagai bentuk Badan Layanan Umum (BLU) demi mencari pemasukan tambahan bagi kegiatan lembaga.

“Seminggu ini tidak ada teguran ataupun keberatan apa pun . Ada istilah, the end justifies the means. Ini keputusan mutlak dari seluruh pejabat LARON dan didukung oleh para staf dan peneliti kami. Saya dengar teman-teman dari lembaga lain juga akan melakukan hal yang serupa.” papar Amir.

Meski demikian, Amir bukan tidak cemas. Namun kecemasannya tersebut bukan soal legalitas keputusannya, melainkan para pelajar dan mahasiswa yang menjadi pelanggan usaha warnet LARON. Dari hasil pengamatan Amir, banyak di antara pelajar dan mahasiswa menjadi bolos sekolah dan kuliah untuk bermain game online.

“Mereka bisa berjam-jam duduk di depan layar monitor untuk bermain game. Tidak salah bermain game. Tapi kalau sampai berjam-jam seperti itu ‘kan juga tidak sehat. Bolos kuliah pula. Bahkan ada yang tiga hari tidak pulang-pulang sebelum saya yang suruh pulang. Kami akan merasa tidak enak jika mereka drop out atau tidak naik kelas gara-gara game online.” keluh Amir.

Seorang mahasiswa tertidur di depan layar monitor di ruangan warnet LARON. Salah satu kekhawatiran LARON adalah banyaknya pelajar dan mahasiswa yang bolos sekolah dan kuliah untuk bermain game online. Bahkan ada yang bermain game tiga hari berturut-turut tanpa henti. (photo courtesy cybermagazines.com)

Seorang mahasiswa tertidur di depan layar monitor di ruangan warnet LARON. Salah satu kekhawatiran LARON adalah banyaknya pelajar dan mahasiswa yang bolos sekolah dan kuliah untuk bermain game online. Bahkan ada yang bermain game tiga hari berturut-turut tanpa henti. (photo courtesy cybermagazines.com)

Kesenangan untuk bermain game online di warnet tersebut diakui oleh Benny, seorang mahasiswa dari salah satu kampus di dekat kantor LARON. Menurutnya, kecepatan internet yang sangat tinggi menjadi daya tarik yang luar biasa.

“Di sini enak warnetnya, internetnya kencang. Daripada saya bete di kos-kosan, lebih baik saya di sini. Bisa main game, bisa browsing. Ya, jujur saja, daripada di kelas juga lebih enak di sini sih.” ujar Benny, yang kemudian mengaku sudah melewatkan beberapa kelas kuliah di kampusnya. (Sha01)

Iklan

Shaka

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS