Iklan
LATEST TWEET

Nama Klien Dihapus, Pengacara Budi Kritik Mendikbud

May 30, 2014       Pendidikan, Politik, Sejarah, Sosial, z_Editor's Choice      
Gedung Kemendikbud, menurut Komunitas Pendidikan Sejarah Indonesia, seharusnya menjadi benteng utama pendidikan dan pelestarian sejarah di Indonesia. (photo courtesy mrnnews.com)

Gedung Kemendikbud. Kementerian ini kembali dikritik setelah menghapus nama Budi dari buku-buku pelajaran. Beberapa pihak menganggap ini sebagai usaha menghilangkan jejak atas jasa keluarga Budi terhadap sejarah pendidikan Indonesia. Kurikulum baru pun dikritik karena menampilkan tokoh-tokoh yang dianggap mempromosikan stereotipe fisik. (photo courtesy mrnnews.com)

JAKARTA, POS RONDA – Kuasa hukum Budi dan Ibunya, Rockison Ginting, mengecam Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh setelah yang bersangkutan menyatakan bahwa dalam kurikulum pendidikan yang baru tidak akan ada lagi cerita mengenai Budi.

Pernyataan tersebut dikeluarkan Nuh dalam kunjungannya ke Kutai, Kalimantan Timur, kemarin (29/5). Menurut Nuh, penghapusan nama budi merupakan bagian dari usaha Kemendikbud untuk mengurangi praktik monoton dalam pengajaran. Dalam kurikulum baru, Budi digantikan oleh tokoh-tokoh baru yang berasal dari seluruh Indonesia.

“Ke depannya, tidak ada lagi cerita tentang Budi juga bapak dan ibunya. Akan ada Edo yang keriting cerminan Papua, Siti yang berjilbab, Dayu dari Bali, ada Lani yang sipit, dia Chinese, ada juga Beni yang orang Batak. Kita ingin menciptakan bahan ajar yang lebih dekat serta meningkatkan nasionalisme.” ujar Nuh menjelaskan pernyataannya tersebut.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M Nuh. Dalam kunjungannya ke Kutai, Kalimantan Timur, kemarin (29/5) dirinya memberikan pernyataan bahwa Budi beserta ayah dan ibunya tidak akan lagi muncul di buku-buku pelajaran sekolah. (photo courtesy padanglawasutara.go.id)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M Nuh. Dalam kunjungannya ke Kutai, Kalimantan Timur, kemarin (29/5) dirinya memberikan pernyataan bahwa Budi beserta ayah dan ibunya tidak akan lagi muncul di buku-buku pelajaran sekolah. (photo courtesy padanglawasutara.go.id)

Selaku kuasa hukum Budi, Rockison menyatakan bahwa dirinya terkejut mendengar pernyataan Menteri Nuh. Menurut Rockison, apa yang dilakukan oleh Nuh telah menyakiti perasaan kliennya. Ia juga menganggap bahwa ini merupakan salah satu cara untuk membuat masyarakat melupakan jasa Budi dan keluarganya.

Pada awal bulan Mei (2/5) keluarga Budi melayangkan permohonan gugatan perdata ke pengadilan. Gugatan tersebut ditujukan kepada Kemendikbud yang dianggap telah lalai membayarkan royalti kepada Budi dan Ibunya atas penggunaan nama mereka pada kurikulum dan buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia.

“Saya khawatir pemerintah berusaha menghindar dari  pemenuhan kewajibannya kepada klien saya. Lebih dari itu, ada usaha-usaha sistematis dan terstruktur untuk menghapus jasa-jasa keluarga Budi sebagai bagian dari sejarah pendidikan di Indonesia.” ujar Rockison.

Rockison melanjutkan bahwa nama kliennya yang tercantum dalam buku pelajaran telah membantu banyak pelajar dalam mencapai cita-citanya. Buku-buku pelajaran yang mencantumkan nama Budi telah ikut berperan dalam menciptakan para insinyur, peneliti, ahli teknologi, doktor kependudukan,  menteri, mantri, dan lain-lain.

“Saya juga bisa menjadi pengacara saat ini, karena dulu belajar dengan buku-buku yang mencantumkan nama klien saya sewaktu SD. Keluarga Budi adalah pahlawan bagi saya, maka tentu saya mengecam Kemendikbud yang ingin menghapuskan pihak yang telah berjasa. Sekali lagi saya tegaskan: kami menolak lupa!” papar Rockison.

Nama Budi telah dianggap menjadi nama universal yang menjadi simbol pendidikan Indonesia. Penghapusannya dari buku-buku pelajaran telah mendatangkan kritik dan kecaman dari berbagai pihak kepada pemerintah. (photo courtesy adha.ms)

Nama Budi telah dianggap menjadi nama universal yang menjadi simbol pendidikan Indonesia. Penghapusannya dari buku-buku pelajaran telah mendatangkan kritik dan kecaman dari berbagai pihak kepada pemerintah. (photo courtesy adha.ms)

Ketua Komunitas Pendidikan Sejarah Indonesia (KPSI) Aryani Widiastoyo yang dulu juga mendukung gugatan Budi, mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan Kemendikbud untuk menghapus nama Budi serta ayah dan ibunya.

Menurut Aryani, KPSI pada dasarnya mendukung setiap kebijakan pemerintah dalam memperbaiki mutu pendidikan, tapi jangan sampai menghilangkan unsur-unsur kesejarahan dan identitas unik dalam pelajaran tersebut. Dalam hal ini, nama Budi adalah unsur unik dan memiliki nilai kesejarahan.

“Kami paham pemerintah ingin proses pendidikan tidak monoton. Tapi menghapus nama Budi sama saja dengan habis manis sepah dibuang. Budi adalah nilai unik pendidikan di Indonesia. Kenapa tidak membiarkan Budi dan tokoh-tokoh baru berjalan beriringan?” keluh Aryani.

Hal senada juga dikemukakan oleh Fadilah Bahar, pengamat pendidikan dari Gerakan Menuju Indonesia Cerdas (GMIC). Menurut Fadilah, Budi adalah nilai universal dalam proses pendidikan. Ini dikarenakan Budi telah menjadi nama netral, tidak mewakili suku, ras, atau agama apapun. Ia mengkritik stereotipe yang disematkan kepada tokoh-tokoh dalam kurikulum baru.

“Kenapa orang Tionghoa harus digambarkan sipit? Kenapa Edo dari Papua harus keriting? Banyak juga orang Sunda bernama Beni, tidak hanya Batak. Apakah orang bernama Siti harus berjilbab? Apa yang dilakukan oleh pemerintah melalui kurikulum baru justru mempromosikan stereotipe fisik. Ini berbeda dengan Budi dan Ani yang universal dan bisa diterima oleh semua orang.” ujarnya.

Fadilah menilai pemerintah telah salah kaprah dalam menerjemahkan arti kebhinekaan dan Pancasila. Kebhinekaan dalam Pancasila, menurut Fadilah, tidak sedangkal stereotipe maupun penampilan fisik, tapi lebih kepada perbedaan dalam cara pandang, berpikir, sifat, peran, dan sikap yang kemudian dikompromikan dalam bentuk toleransi.

Penghapusan nama Budi dari buku pelajaran juga mendapatkan kritik dari para pengguna media sosial. Melalui jejaring sosial Twitter, beberapa pengguna telah memulai dengan mengkampanyekan tagar #SelamatkanBudi sebagai bentuk kritik pada pemerintah.

Akun @AndriMoniker berkicau: “Terimakasih Budi, jasamu takkan kulupakan. #SelamatkanBudi”; demikian juga dengan @Chris_Sigi yang mempertanyakan: “Apa2an ini, gak cukup vimeo yang diblokir?? Kenapa Budi harus diblokir juga??!!! #SelamatkanBudi”. (Sha01)

====

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

2 Responses


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS