Iklan
LATEST TWEET

APBN Dipotong, Gringotts Ajukan Tawaran ke Pemerintah

May 28, 2014       Ekonomi & Bisnis, Internasional, Politik, z_Editor's Choice      
Kantor Pusat Gringotts Banking Group di Northside Diagon Alley di kota London, Inggris. Gringotts memberikan tawaran langsung kepada Presiden SBY untuk membantu perekonomian dan kelancaran birokrasi pemerintah setelah adanya rencana pemotongan anggaran APBN. (photo courtesy blithesea.net)

Kantor Pusat Gringotts Banking Group di Northside Diagon Alley di kota London, Inggris. Gringotts memberikan tawaran langsung kepada Presiden SBY untuk membantu perekonomian dan kelancaran birokrasi pemerintah setelah adanya rencana pemotongan anggaran APBN. (photo courtesy blithesea.net)

HONG KONG, POS RONDA – Pasca pengumuman rencana pemotongan anggaran APBN oleh pemerintah, bank swasta multinasional Gringotts secara terbuka menyatakan telah mengajukan tawaran berupa bantuan keuangan untuk Indonesia.

Pernyataan tersebut diberikan oleh chief economist Gringotts untuk kawasan pembangunan Asia-Pacific, Peter Tomlison, dalam konferensi pers yang selenggarakan hari Senin (26/5) lalu di kantor cabang administratif Gringotts di Hong Kong.

“Kami dari Gringotts Banking Group telah mengajukan tawaran langsung kepada Presiden Yudhoyono, untuk membantu kinerja pemerintahan dan pembangunan ekonomi Indonesia. Kami memahami langkah yang diambil pemerintah Indonesia untuk merencanakan pemotongan anggaran, sehingga kami merasa perlu menawarkan bantuan agar kinerja birokrasi dan pemerintahan tidak terganggu.” papar Tomlison.

Pada tanggal 20 Mei 2014, pemerintah Indonesia mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 tahun 2014 mengenai penghematan dan pemotongan belanja dari 86 kementerian dan lembaga negara. Inpres ini akan menghemat anggaran hingga Rp 100 trilyun, dari total jumlah belanja kementerian/lembaga sebelumnya yakni Rp 637 trilyun.

Rencana pemotongan anggaran ini disambut baik oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardoyo, yang pada hari Jum’at lalu (23/5) berkomentar bahwa dirinya melihat ini sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah untuk menghindari defisit anggaran. Agus juga menganggap pemotongan anggaran sebagai langkah terbaik dibandingkan alternatif lainnya.

“Saya melihat alternatif yang ada. Bila menambah penerimaan sulit, kemudian menambah utang juga tidak terlalu baik. Maka yang ada hanya pemotongan anggaran atau mengurangi subsidi BBM dan listrik.” ujar Agus.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo. Menurut Agus, pemotongan anggaran adalah langkah terbaik yang dapat diambil pemerintah dalam menghadapi defisit anggaran sebesar Rp 100 trilyun pada tahun ini. (photo courtesy new.earindo.co.id)

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo. Menurut Agus, pemotongan anggaran adalah langkah terbaik yang dapat diambil pemerintah dalam menghadapi defisit anggaran sebesar Rp 100 trilyun pada tahun ini. (photo courtesy new.earindo.co.id)

Pihak Gringotts melalui Tomlison menampik bahwa pemerintah Indonesia harus memotong anggaran ataupun mengurangi subsidi. Menurut Tomlison, bantuan pinjaman yang ditawarkan oleh Gringotts tidak sama dengan pinjaman-pinjaman lain seperti Bank Dunia dan lembaga keuangan internasional lainnya.

Menurut Tomlison, pihaknya siap memberikan bantuan senilai Rp 250 trilyun. Jauh lebih besar daripada tawaran yang biasa diberikan oleh Bank Dunia. Pemerintah bahkan bisa menentukan sendiri tenggat jatuh tempo pengembalian pinjaman, dengan meniadakan bunga pinjaman dan pengarahan kebijakan apapun.

Gringotts tidak memberikan persyaratan, namun hanya meminta bukti kepercayaan pemerintah. Tomlison bersikeras bahwa  apa yang diajukan pihaknya tidak akan memberatkan pemerintah Indonesia.

“Pihak Gringotts hanya membutuhkan kepercayaan pemerintah Indonesia untuk menitipkan beberapa benda, yaitu bendera pusaka merah-putih beserta naskah proklamasi yang asli, untuk dititipkan sebagai bagian dari artefak kekayaan dunia dalam fasilitas penyimpanan berteknologi mutakhir kami di London. Sama sekali tidak ada syarat memberatkan bagi Indonesia.” lanjutnya.

Gringotts Banking Group didirikan sebagai perusahaan swasta di London pada tahun 1743. Selama lebih dari dua ratus tahun pertama, sebagai sebuah perusahaan Gringotts tidak pernah beranjak dari tanah pendiriannya di Inggris Raya.

Berbeda dengan bank swasta komersial lain yang memiliki nasabah individual secara umum, nasabah Gringotts sangat eksklusif, yakni berbentuk institusi seperti pemerintah negara-negara di dunia, perusahaan-perusahaan terkemuka, atau lembaga-lembaga internasional. Hanya individual yang telah memenuhi persyaratan tertentu yang bisa diterima menjadi nasabah dan klien Gringotts.

Gringgots mulai aktif berekspansi untuk meraih klien berupa negara-negara berkembang dan dunia ketiga sebagai reaksi atas munculnya Konsensus Washington pada tahun 1989. Dalam operasinya secara global Gringotts tetap mendasarkan bantuannya pada nilai emas, dibandingkan dengan Bank Dunia dan IMF yang berbasis Dolar Amerika Serikat (AS).

Demikian pula dengan persyaratannya. Sementara Bank Dunia dan IMF meminta kerja sama pemerintah untuk menyesuaikan sistem perekonomian sesuai Konsensus Washington, Gringotts menyatakan hanya memerlukan artefak-artefak langka untuk dititipkan pada Gringotts sebagai semacam jaminan.

Naskah Proklamasi versi tulisan tangan presiden pertama Indonesia, Soekarno. Naskah ini merupakan salah satu dari dua (bersama bendera pusaka buatan Fatmawati), yang diminta oleh Gringotts sebagai jaminan kepercayaan pada pemerintah Indonesia. Pihak Gringotts menyatakan akan mengamankan kedua artefak tersebut di fasilitas penyimpanan berteknologi mutakhir Gringotts di London. (photo courtesy kimijojunrejo.blogspot.com)

Naskah Proklamasi versi tulisan tangan presiden pertama Indonesia, Soekarno. Naskah ini merupakan salah satu dari dua (bersama bendera pusaka buatan Fatmawati), yang diminta oleh Gringotts sebagai jaminan kepercayaan pada pemerintah Indonesia. Pihak Gringotts menyatakan akan mengamankan kedua artefak tersebut di fasilitas penyimpanan berteknologi mutakhir Gringotts di London. (photo courtesy kimijojunrejo.blogspot.com)

Gringotts akhirnya menjadi rival Bank Dunia dalam memberikan bantuan kepada negara-negara berkembang. Usaha Gringotts sempat mengendur pada pertengahan dekade 1990-an karena alasan yang tidak diketahui, diperkirakan karena adanya konflik internal dengan pihak yang tidak dapat disebutkan namanya. Namun pada awal dekade 2000-an, Gringotts kembali berekspansi secara agresif dengan memperkenalkan konsep Potterian Fundings.

Potterian Fundings merupakan program Gringotts untuk membantu perekonomian dan kinerja birokrasi pemerintahan di negara-negara yang kondisinya memenuhi kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kriteria tersebut antara lain (1) Pasar didominasi oleh monopoli dan oligopoli; (2) Sektor publik yang tidak efisien karena korupsi; (3) Banyaknya pengangguran semu; (4) Sulitnya pergerakan mobilitas sosial; dan (5) Perdagangan internasional terhambat oleh ketatnya kebijakan pemerintah.

“Setelah melakukan survei dan penelitian menyeluruh, kami sampai pada kesimpulan bahwa kondisi Indonesia memenuhi kriteria-kriteria tersebut.” tegas Tomlison.

Mewakili Gringotts, Tomlison juga menerangkan bahwa  sebagai bagian dari sistem perekonomian internasional, maka Gringotts merasa berkewajiban untuk mendukung pemerintah Indonesia melalui Potterian Fundings. Selain bantuan dana, Gringotts juga akan menempatkan tim penasihat dan analis untuk mendampingi presiden, wakil presiden, dan menteri-menteri terkait dengan masalah perekonomian.

“Kami akan membantu dan mendampingi seluruh perhitungan serta proses perumusan kebijakan moneter dan perekonomian. Ini bisa dianggap sebagai jaring pengaman. Kami tidak akan salah dalam perhitungan, kami pastikan ini efektif dalam meminimalisir kesalahan perhitungan yang bisa dilakukan oleh lembaga lain seperti bank sentral, Kementerian Keuangan, atau lainnya.” ujar Tomlison.

Staff Khusus Presiden di bidang Hubungan Perekonomian Mancanegara, Rolly Atreides Harahap, memberikan konfirmasi bahwa pihak Gringotts telah menyampaikan tawarannya kepada Presiden SBY. Namun, hingga saat ini belum ada keputusan resmi yang diambil sebab Presiden masih harus berkoordinasi dengan Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, Kepala Bappenas, dan Gubernur BI dalam menganalisis tawaran tersebut.

“Yang jelas kami masih menganalisis untung-rugi dari tawaran tersebut. Bapak Presiden tidak ingin tergesa-gesa mengambil keputusan, karena ini berhubungan dengan angka yang sangat besar. Namun sepertinya yang paling berat adalah syaratnya untuk memberikan benda-benda pusaka negara sebagai jaminan.” ujar Rolly. (Sha01)

Iklan

Shaka

Other posts by

6 Responses

  • Severus Snape

    on May 28, 2014, 14:50:57

    Dalam memberikan bantuan, bank pasti punya pamrih. Gringotts pasti menginginkan benda pusaka Indonesia untuk dijadikan horcrux… tanda-tanda kebangkitan Voldemort mulai muncul… hahahaha.

    Reply to Severus
    • Remus Lupin

      on May 28, 2014, 15:04:30

      Betul itu! Voldemort ternyata belum habis. Kita harus bersiap-siap!

      Lho, tapi… Snape, kok kamu masih hidup???

      Lho, kok aku juga masih hidup??

      Wah, aneh ini. Pasti kerjaannya admin Pos Ronda ini. Min! Tanggung jawab, Min…!!!

      Reply to Remus
  • azpirins

    on May 28, 2014, 17:40:41

    waduh….. muggle udah boleh minjem ke Gringotts?

    Reply to azpirins
  • Febri

    on May 28, 2014, 18:58:33

    Astaga!!!
    ternyata Harry Potter bukan fiksi???
    masih mungkin kah gw nunggu kedatangan surat dari hogwarts di umur 24??? @_@

    Reply to Febri
  • Andri

    on May 28, 2014, 22:39:16

    Mending mnta bantuan ke hobbit aja…dia kan lg ngambilin emas tuh…wakakakakakakaka….
    btw, uda ada yg buat account berkenalan.com – https://berkenalan.com ga ya?
    spertinya asyik tuh, bisa buat kartu nama online dan tukar2 kartu nama dgn temen..jejaring sosial baru ya?

    Reply to Andri


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS