Iklan
LATEST TWEET

Pilpres Tanpa Capres Ganteng, Angka Golput Diperkirakan Naik Tajam!

May 21, 2014       Pemilu 2014, Pendidikan, Politik      
Golongan putih, atau kelompok orang yang tidak menggunakan hak pilihnya, tetap menjadi fenomena yang menyertai pemilihan umum di Indonesia. KPU pusat berusaha mengajak agar masyarakat tidak golput dalam pemilu presiden bulan Juli nanti. (photo courtesy tribunnews.com)

Golongan putih, atau kelompok orang yang tidak menggunakan hak pilihnya, tetap menjadi fenomena yang menyertai pemilihan umum di Indonesia. KPU pusat berusaha mengajak agar masyarakat tidak golput dalam pemilu presiden bulan Juli nanti. (photo courtesy tribunnews.com)

JAKARTA, POS RONDA – Pemilihan presiden (Pilpres) yang akan diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2014 mendatang diperkirakan akan kembali diwarnai oleh tingginya angka golput, atau orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya, sekalipun Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengambil langkah untuk mengurangi jumlah golput seperti akan menggunakan ‘selfie’ dalam kertas suara pilpres.

Perkiraan tersebut tampak dalam laporan hasil Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan oleh POS RONDA kemarin (21/5), di Jakarta Selatan. Terdapat 40 peserta yang berasal dari satu golongan pekerjaan, yaitu para Ibu Rumah Tangga.

Dari hasil diskusi awal FGD, tampak bahwa lebih dari 50 persen ibu rumah tangga berpotensi meningkatkan angka golput, akibat tidak adanya calon presiden (capres) ataupun calon wakil presiden (cawapres) berwajah tampan.

Tentu saja alasan tersebut tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar pertimbangan politik. Saat ditelaah lebih lanjut oleh para fasilitator FGD, ternyata dasar alasan tersebut lebih rumit dibandingkan kelihatannya. Para ibu rumah tangga sering dikecewakan karena tidak adanya program-program capres yang berkualitas, sehingga mereka akhirnya memilih berdasarkan tampilan luar.

“Selama pemilu setelah reformasi, semua capres sama saja. Visi-misinya tidak beda, monoton, hanya itu-itu saja. Seringkali bahkan kesejahteraan ibu dan anak tidak masuk program mereka. Ya kita sebagai ibu rumah tangga ‘kan ingin cari capres yang memperjuangkan kita. Karena visi-misi dan program tidak menarik, ya akhirnya kita pilih yang tampilannya menarik, yang ganteng.” ujar Heni (41), seorang ibu rumah tangga peserta FGD.

Heni kemudian menambahkan, selama ini dirinya selalu memilih calon yang tampan karena itu adalah pilihan terakhir akibat tidak menariknya kampanye serta visi-misi capres-capres yang ada. Kini, dengan ketiadaan capres yang mengangkat isu yang bermutu bagi dirinya, serta tidak adanya capres yang tampan, Heni tidak ada pilihan selain untuk golput.

“Paling saya nanti datang ke TPS untuk rusak surat suara saja. Sudah nggak ada yang (programnya) menarik, tampang mereka (capres-cawapres) jelek-jelek pula, sekalian saja saya koyak-koyak surat suara nanti. Gemes saya.” lanjutnya.

Seperti diketahui, pilpres pada bulan Juli nanti akan mempertemukan dua pasang capres-cawapres yang akan bersaing untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Hingga batas akhir tanggal 20 Mei 2014 kemarin, dua pasang calon yang mendaftar di KPU adalah pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla serta Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Pasangan capres-cawapres peserta pilpres 2014, Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Meskipun mereka telah membuka sebagian program yang akan dijalankan bila menjadi presiden dan wakilnya, para ibu rumah tangga banyak yang tidak tertarik dengan program-program tersebut. (photo courtesy metrotv.co.id dan tribunnews.com)

Pasangan capres-cawapres peserta pilpres 2014, Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Meskipun mereka telah membuka sebagian program yang akan dijalankan bila menjadi presiden dan wakilnya, para ibu rumah tangga banyak yang tidak tertarik dengan program-program tersebut. (photo courtesy metrotv.co.id dan tribunnews.com)

Ambar (50), peserta FGD lainnya, mengatakan bahwa dirinya juga kemungkinan besar akan golput sebagai bentuk protes atas visi-misi dan program yang ditawarkan para capres. Sebagai istri seorang pegawai negeri sipil (PNS), Ambar merasa bahwa para capres telah mencatut hasil kerja suami dan rekan-rekan suaminya.

“Saya ini kan istri PNS, jadi saya tahu betul apa program yang dikerjakan oleh suami saya di kantor. Suami saya pegawai Kementerian Pertanian. Tahu ‘kan, bagaimana para capres berlomba-lomba bilang peduli pada petani dan pertanian? Program ini-itu, subsidi ini-itu. Masalahnya program-program itu sudah ada di rancangan kerja pemerintah! Nanti begitu mereka jadi presiden, langsung bilang ‘janji saya sudah terlaksana’, padahal memang dari awal sudah ada!” paparnya.

Ambar mengakui, kondisi seperti ini membuatnya sakit hati kepada capres-capres yang ada. Baginya, ini seolah mereka tidak mengakui para pegawai negeri, terutama sebagian PNS yang telah bekerja serius dan jujur.

Hal yang serupa juga dikemukakan oleh peserta FGD lain, Eliana (30). Menurut Eliana, kelompok ibu rumah tangga seperti dirinya adalah orang-orang yang selalu dekat dengan sumber informasi. Membaca koran, menonton berita di televisi, serta mengakses internet untuk mendapatkan informasi adalah bagian dari kegiatan ibu rumah tangga saat ini.

“Justru saya sebagai ibu rumah tangga lebih paham soal politik negeri ini. Kita yang tahu harga di pasar tradisional, dan kita juga sering mengamati politik di pemerintahan. Dan apa yang ditawarkan para capres di media massa sama sekali dangkal dan tidak menyentuh masalah dasarnya, yaitu tidak ada koordinasi yang baik di antara lembaga pemerintah sendiri.” ujar Eliana.

Eliana juga menambahkan, tidak ada yang berubah dari satu pemilu ke pemilu lainnya. Maka, menurutnya, wajar jika para ibu rumah tangga meremehkan visi-misi dan program para capres kemudian lebih memilih yang punya tampilan lebih baik.

“Karena sama saja, sama-sama buruk programnya, jadi kita pilih yang tampilannya baik. Kalau kayak sekarang, mau pilih siapa? Paling tidak kalau orangnya gantengkan kita baca koran atau nonton berita pemilu jadi lebih semangat.” pungkasnya.

Hasil dari FGD tersebut menunjukkan bahwa kedua pasangan capres-cawapres harus berusaha lebih keras dalam menyusun program yang lebih berkualitas untuk mendapatkan dukungan yang lebih besar dari golongan ibu rumah tangga. Apabila tidak, maka diperkirakan angka golput di kalangan tersebut akan naik secara drastis. (Sha01)

====

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

4 Responses

  • Waeharis

    on May 22, 2014, 11:07:07

    Emang Jokowi kurang tampan gimana sih?
    Belah pinggirnya itu udah ga ada yang ngalahin, itu belah pinggir paling Pinggir di Dunia..

    Rambut hi-light hatta rajasa juga sangat modis..
    Salon yang mengerjakannya pasti bukan salon sembarangan,.

    Reply to Waeharis
  • Diantari

    on May 22, 2014, 13:28:04

    hahahaha…ini terutama klo ganteng yg milih ibu2/tante2 genit…wuiihh..asyikkk..bila perlu presiden nya ganteng trs wakilnya seksi..owh…
    btw..uda ada yg daftar berkenalan.com (https://berkenalan.com) ga ya?
    Kayak nya asyik jg tuh bisa tukar2an kartu nama, bisa buat kartu nama online jg ya….jaringan sosial baru kayaknya…?

    Reply to Diantari
  • Tukang Pantau

    on May 22, 2014, 13:40:16

    uji materi pilpres aja ke mk. minta supaya syrat maju jd capre/cawapres hrs ganteng/cantik. jurinya haji jeje

    Reply to Tukang
  • DuniaBidan.com

    on May 26, 2014, 09:22:23

    Capresnya khan ganteng semua? Gak ada yang cantik, khan? :)

    Reply to DuniaBidan.com


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS