Iklan
LATEST TWEET

FIFA Siapkan Turnamen Sepakbola Bagi Kaum Miskin

May 19, 2014       Ekonomi, Internasional, Politik, Sosial      
Slum Soccer. Turnamen sepakbola bagi kaum papa. Biasanya digunakan sebagai sarana untuk memperjuangkan hak-hak ekonomi dan sosial, kini akan digunakan oleh FIFA sebagai turnamen resmi. (photo courtesy slumsoccer.org)

Slum Soccer. Turnamen sepakbola bagi kaum papa. Biasanya digunakan sebagai sarana untuk memperjuangkan hak-hak ekonomi dan sosial, kini akan digunakan oleh FIFA sebagai turnamen resmi. (photo courtesy slumsoccer.org)

HAMBURG, POS RONDA – Federasi internasional yang menangani urusan sepakbola, FIFA, mengumumkan bahwa organisasi tersebut akan mempersiapkan rumusan turnamen tingkat dunia khusus bagi kaum miskin.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke, dalam sebuah konferensi pers di kantor pusat FIFA di FIFA-Strasse 20, kota Zurich, Swiss, Jumat lalu (16/5).

Valcke mengatakan bahwa keputusan ini diambil oleh dewan direksi FIFA sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat dunia. Konsep yang dibuat khusus bagi rakyat miskin ini akan diwujudkan dalam sebuah turnamen bernama ‘World Slum Soccer Championship’ (WSSC). Para pesertanya adalah tim nasional anggota FIFA. Menariknya, tim nasional peserta WSSC diharuskan memilih para pemain yang termasuk dalam kategori penduduk di bawah garis kemiskinan.

“Yang terbaik dari turnamen ini adalah, fakta bahwa ini tidak memerlukan biaya besar ataupun stadion-stadion besar. Slum soccer bisa dilakukan di mana saja, dari ladang rumput, hingga tanah berlumpur. Ini akan menjadi ajang pembuktian skill dan daya tahan tubuh bagi tim-tim yang berpartisipasi. Ini adalah murni inovasi dari FIFA demi kemanusiaan” ujar Valcke.

Sekjen FIFA Jerome Valcke. Menurut Valcke, World Slum Soccer Championship merupakan bentuk kepedulian sosial FIFA terhadap masyarakat dunia. (photo courtesy allsoccerplanet.com)

Sekjen FIFA Jerome Valcke. Menurut Valcke, World Slum Soccer Championship merupakan bentuk kepedulian sosial FIFA terhadap masyarakat dunia. (photo courtesy allsoccerplanet.com)

Valcke juga melanjutkan bahwa tim pemenang selain akan mendapatkan piala bergilir resmi dari FIFA, juga akan mendapatkan bantuan berupa dana segar untuk membantu pembangunan sekolah sepak bola di tempat-tempat terpencil. Bantuan dana tersebut merupakan hasil kerjasama FIFA dan Bank Dunia, yang secara khusus berkolaborasi untuk penyelenggaraan turnamen ini.

“World Slum Soccer Championship akan dilaksanakan pada tahun 2016, dan dewan direksi telah menunjuk India sebagai tuan rumah perdana. Turnamen ini akan dilaksanakan tiap dua tahun sekali, dan negara pesertanya akan diikutsertakan melalui undangan.” tambah Valcke.

Dua belas negara telah diundang oleh FIFA untuk ikut serta dalam turnamen perdana WSSC tahun 2016. Selain tuan rumah India, negara lain yang diharapkan ikut serta adalah Kenya, Mesir, Afrika Selatan, Pakistan, Bangladesh, Republik Rakyat Cina, Filipina, Indonesia, Meksiko, Haiti, dan Brazil.

Pengunjuk rasa memprotes penyelenggaraan Piala Dunia di Brazil. Meskipun Brazil adalah negara pecinta sepakbola, berbagai masalah sosial muncul ke permukaan sebagai akibat dari dampak pengeluaran besar  pemerintah untuk membangun fasilitas pendukung Piala Dunia. (photo courtesy worldsoccer.com)

Pengunjuk rasa memprotes penyelenggaraan Piala Dunia di Brazil. Meskipun Brazil adalah negara pecinta sepakbola, berbagai masalah sosial muncul ke permukaan sebagai akibat dari dampak pengeluaran besar pemerintah untuk membangun fasilitas pendukung Piala Dunia. (photo courtesy worldsoccer.com)

WSSC: Usaha cuci tangan FIFA?

Pernyataan FIFA untuk mengadakan WSSC ternyata tidak mendapatkan respons yang sepenuhnya positif. Julian Caio Rodrigues, aktivis dari Football for Humanity, bahkan mengatakan bahwa langkah FIFA mempersiapkan WSSC hanyalah upaya cuci tangan setelah persiapan penyelenggaraan Piala Dunia (World Cup) di Brazil mendapatkan protes yang sangat luas di seluruh negeri.

“FIFA sebenarnya hanya ingin cuci tangan dengan mengadakan turnamen berkedok kepedulian sosial. Itu tidak menyelesaikan masalah bahwa di dunia ini kesenjangan ekonomi dan sosial semakin besar. Hanya yang berkuasa yang bisa mengatur dan menikmati sepakbola, padahal seharusnya sepakbola punya nilai universal bagi kemanusiaan.” ujar Rodrigues, saat dihubungi oleh koresponden POS RONDA dari Hamburg, pagi ini (19/5).

Persiapan Piala Dunia di Brazil memang terkedala sejumlah tantangan dan kritik. Berbagai kalangan di Brazil menghujat pengeluaran pemerintah yang sangat besar untuk membangun dan memperbaiki fasilitas-fasilitas sepakbola sesuai standar FIFA, di tengah angka kemiskinan yang masih sangat besar di negara tersebut. Hal ini diperparah dengan isu korupsi di pemerintahan, tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih rendah, serta penggusuran paksa perumahan-perumahan di lahan-lahan yang akan dijadikan fasilitas pendukung Piala Dunia.

Seorang pengunjuk rasa membentangkan bendera Brazil dan mengenakan topeng Guy Fawkes, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat menjelang pelaksanaan Piala Dunia. (photo courtesy  telegraph.co.uk)

Seorang pengunjuk rasa membentangkan bendera Brazil dan mengenakan topeng Guy Fawkes, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat menjelang pelaksanaan Piala Dunia. (photo courtesy telegraph.co.uk)

“Saya suka sepakbola. Saya cinta timnas kami, tapi kami juga harus berpikir apa arti Piala Dunia sebenarnya. Apabila yang dihasilkan hanyalah penggusuran paksa dan pembatasan hak-hak untuk mengemukakan pendapat, maka kami harus menolak itu.” ujar Felipe Mesquita, seorang mahasiswa di kota Fluminese, seperti dikutip oleh situs theguardian.com.

Dalam dua minggu terakhir skala unjuk rasa dan protes semakin membesar, dan sempat memuncak tiga hari yang lalu saat terjadi unjuk rasa besar-besaran secara bersamaan di 12 kota terbesar di Brazil. Tidak hanya itu, di beberapa kota seperi Recife yang terkenal dengan tingkat kriminalitas yang tinggi, para personel kepolisian juga mogok kerja dan menyebabkan angkat kriminalitas semakin meroket. Pemerintah Brazil bahkan harus mengandalkan angkatan bersenjatanya, lengkap dengan senjata dan kendaraan militer, untuk menjaga keamanan di kota-kota tertentu.

Kritikan tidak hanya datang dari dalam negeri mengenai penyelenggaraan WSSC. FIFA dianggap mencuri ide dari kompetisi dan turnamen yang sudah ada. Satu organisasi di luar FIFA bahkan telah dengan sukses menyelenggarakan kompetisi tingkat dunia bagi kaum miskin.

Homeless World Cup Foundation, sejak 2003 telah menyelenggarakan Piala Dunia bagi kaum tunawisma sebagai bentuk dari kepedulian terhadap masalah kependudukan dunia. (photo courtesy homelessworldcup.org)

Homeless World Cup Foundation, sejak 2003 telah menyelenggarakan Piala Dunia bagi kaum tunawisma sebagai bentuk dari kepedulian terhadap masalah kependudukan dunia. (photo courtesy homelessworldcup.org)

Organisasi tersebut adalah The Homeless World Cup Foundation (HWC), yang sejak tahun 2003 telah mengadakan turnamen yang pesertanya adalah para tunawisma. Kini, jumlah keanggotaan HWC Foundation berjumlah lebih dari 70 negara, dan disponsori oleh berbagai perusahaan, organisasi, serta instansi pemerintah.

Selain HWC, juga ada organisasi Slum Soccer, yang berbasis di India. Seperti HWC, Slum Soccer juga menggunakan sepakbola sebagai medium untuk memerangi masalah-masalah sosial, terutama mengenai kependudukan dan pekerja anak di India.

“Kami sebenarnya tidak mempersoalkan WSSC. Kami senang bila FIFA juga peduli dengan permasalahan sosial. Namun kami harus mengingatkan bahwa sepakbola memang sejak dulu kala hingga saat ini merupakan media bagi kaum tidak berada untuk bisa bersuara. Dan turnamen sepak bola seperti ini adalah merupakan kontribusi dari banyak pihak, tidak hanya satu organisasi saja yang mengklaim-nya.” jelas Mel Young, Presiden dari HWC Foundation, saat ditanya mengenai pernyataan Jerome Valcke bahwa WSSC adalah murni inovasi FIFA. (cz710)

* Tulisan ini merupakan partisipasi dari kontributor POS RONDA di Hamburg, Jerman.

====

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

One Respond

FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS