Iklan
LATEST TWEET

Petani Jawa Timur Manfaatkan Es Mambo Untuk Bajak Sawah

May 14, 2014       Daerah, Ekonomi & Bisnis, Sosial, z_Editor's Choice      
Ladang persawahan di Bojonegoro berserta petani penggarapnya. Seorang petani di kecamatan Sumberejo,Bojonegoro, berhasil menggunakan es mambo untuk memancing anak-anak membantunya mengolah sawah. (photo courtesy ANTARA/kontan.co.id)

Ladang persawahan di Bojonegoro berserta petani penggarapnya. Seorang petani di kecamatan Sumberejo,Bojonegoro, berhasil menggunakan es mambo untuk memancing anak-anak membantunya mengolah sawah. (photo courtesy ANTARA/kontan.co.id)

SURABAYA, POS RONDA – Mulyono (45), seorang petani di Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, memiliki metode baru untuk membantunya menggemburkan sawah dengan membagi-bagikan es mambo kepada puluhan anak-anak tepat di tengah-tengah sawah miliknya.

Di bawah terik matahari yang panas, anak-anak tersebut berhamburan dan berlarian ke tengah sawah milik Mulyono untuk mengambil es mambo gratis yang dibagikan olehnya. Pada saat pembagian es selesai tidak sampai satu jam kemudian, sawahnya tampak seperti telah digarap dengan mesin pembajak. Wajah Mulyono sumringah, karena tanah persawahan miliknya telah diolah tanpa dirinya harus bersusah payah menggunakan alat bajak berat yang biasanya harus ditarik seekor kerbau, ataupun dengan mesin bajak.

Inspirasi yang diperoleh Mulyono untuk menggunakan cara tersebut ternyata tidak berasal dari wilayahnya, melainkan dari sebuah kota Surabaya yang berjarak 110 Kilometer dari tempat tinggalnya saat ini.

Mulyono mengaku mendapatkan ilham setelah menonton berita televisi mengenai rusaknya Taman Bungkul di Surabaya sebagai akibat dari acara pembagian es krim gratis kepada masyarakat beberapa hari lalu (11/5).

Rusaknya Taman Bungkul kontan membuat Walikota Surabaya Tri Rismaharini berang. Risma langsung mendatangi lokasi dan memarahi panitia penyelenggara acara. Perusahaan yang menyelenggarakan acara tersebut akhirnya menyanggupi memberikan ganti rugi sepenuhnya.

Hingga hari ini, perbaikan Taman Bungkul masih terus berjalan. Namun gambaran Taman Bungkul yang rusak terinjak-injak itu terpatri kuat dalam benak Mulyono, yang kemudian mendapat ilham untuk melakukan hal yang sama kepada sawahnya.

Sebagian dari anak-anak yang berhamburan ke lahan sawah Mulyono saat pembagian es mambo gratis. Keberadaan mereka membuat beban Mulyono menjadi lebih ringan. (photo courtesy solopos.com)

Sebagian dari anak-anak yang berhamburan ke lahan sawah Mulyono saat pembagian es mambo gratis. Keberadaan mereka membuat beban Mulyono menjadi lebih ringan. (photo courtesy solopos.com)

“Kalau taman saja bisa diinjak-injak seperti itu, apalagi sawah. Tapi (saya sedang) tidak ada uang untuk membayar orang membantu saya. Anak-anak saya ada dua orang, tapi kerja dan kuliah di kota. Mau ndak mau, saya harus menggunakan akal. Mau beli es krim, mahal. Akhirnya ya saya buat es mambo saja. Anak kecil lha ya pasti suka es.” ujar Mulyono menjelaskan idenya.

Sehari sebelum menggemburkan sawah,  Mulyono dan istrinya mempersiapkan puluhan es mambo untuk dibagikan ke anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya keesokan harinya. Membuat es mambo sendiri, bagi Mulyono, lebih hemat dibandingkan membeli es krim di warung atau toko-toko minimarket.

Es mambo, atau dikenal juga dengan sebutan es lilin, merupakan salah satu jajanan rakyat. Minuman dalam berbagai macam rasa sesuai selera, yang kemudian dikemas dalam plastik berbentuk lonjong dan disajikan saat beku. Biasanya menjadi salah satu bentuk kreativitas dan kebersamaan keluarga serta konsumsi sehat bagi anak-anak, kini popularitasnya menurun akibat banyaknya makanan dan minuman yang dalam kemasan yang dinilai lebih praktis untuk dikonsumsi.

“Anak kecil ya anak kecil. Kalau ada es, pasti akan bergerombol datang. Hitung-hitung dapat pahala karena berbagi dengan orang lain, tapi saya sawah saya juga tergarap. Sambil menyelam minum air.” kata Mulyono sambil tertawa.

Setelah tanahnya selesai ‘digarap’ oleh anak-anak yang sangat senang menerima es mambo gratis tersebut, Mulyono kembali bercerita mengenai kehidupan diri dan teman-temannya sebagai petani.

Es mambo, atau dikenal juga dengan nama es lilin. Salah satu jajanan tradisional yang kini mulai kehilangan popularitasnya. Meski demikian, tetap disukai oleh anak-anak. (photo courtesy sauskecap.com)

Es mambo, atau dikenal juga dengan nama es lilin. Salah satu jajanan tradisional yang kini mulai kehilangan popularitasnya. Meski demikian, tetap disukai oleh anak-anak. (photo courtesy sauskecap.com)

Menurut Mulyono, menjadi petani di masa sekarang jauh lebih sulit. Dirinya masih termasuk beruntung, memiliki sawah sendiri meskipun luasnya tidak seberapa. Banyak tetangganya yang dulu berprofesi sebagai buruh tani kini memilih banting setir untuk menjadi kuli bangunan dan buruh pabrik.

“Karena dapat uangnya lebih tentu dibandingkan jadi petani. Beberapa tetangga juga ada yang keluar dari Jawa, pergi ke Kalimantan dan Papua. Makanya bisa dilihat di sini agak sepi, ‘to? Sekarang ini jarang yang mau dibayar dengan hasil panen, lha wong kalau dijual harganya rendah. Semuanya lebih memilih uang tunai.” keluh Mulyono.

Pada saat ini terdapat berbagai program pemerintah seperti PNPM Mandiri Pedesaan, Kredit Usaha Tani, dan berbagai macam program lainnya. Namun, Mulyono menceritakan bahwa program-program yang maksudnya mulia tersebut tidak berjalan dan diawasi semestinya. Permasalahan birokrasi, jalur penjualan hasil panen, kurang rutinnya pelatihan dan penyuluhan membuat program-program tersebut tidak seratus persen efektif.

“Begini ya, kalau permasalahannya mengenai petani dan uang, kita tinggal jual sapi atau kambing. Tidak perlu isi formulir, menunggu giliran. Seandainya saya dapat pinjaman, kalau hasil panen dihargai rendah saya bisa apa? Bukan petani yang menentukan harga. Dulu enak, ada koperasi yang aktif, sekarang tidak. Makanya masih banyak tengkulak-tengkulak. Sama buruknya dengan hama dan wereng, tapi mereka beli hasil panen banyak sekaligus. Saya mau jual sendiri, malah diancam mereka.” jelasnya lebih lanjut.

Mulyono jelas berharap agar pemerintah mau lebih serius dalam memperjuangkan kesejahteraan dan fasilitas bagi petani. Sebagai bagian dari sistem penyokong bahan pangan masyarakat, ia menanggap bahwa hidup dirinya dan juga teman-temannya bisa lebih baik. Paling tidak, dia seharusnya bisa memberikan nafkah pada teman-temannya dengan membayar mereka sebagai buruh tani.

Sampai saat itu tiba, bisa dipastikan hingga ribuan es mambo sebagai sarana untuk mengolah sawah akan terus dibagikan, setidaknya bagi Mulyono. (Sha01/Jeki)

===

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

11 Responses

  • suka bawang

    on May 14, 2014, 14:32:07

    Sayang sekali, gara-gara kasus keminfo tolol jadi harus ada tulisan disclaimer di bawah artikel. Agak merusak nuansa satirnya, karena ga bakal ada lagi orang tolol yang teriak marah-marah di komen, haha.

    Reply to suka
  • MisterNiceGuy

    on May 14, 2014, 16:13:44

    lol, keinget kejadian es w*lls di CFD minggu kmren di surabaya, cuman yang ini malah berguna :v
    coba pas bagi2 es krim kmren kyk gini juga :v

    it’s a win-win situation bagi petani dan panitia :v

    Reply to MisterNiceGuy
  • kokonsasa

    on May 14, 2014, 16:37:11
  • test

    on May 14, 2014, 18:45:16
  • ssujono

    on May 14, 2014, 23:17:22

    Reblogged this on Muqaddimah and commented:
    Booom!

    Reply to ssujono
  • briyan

    on May 15, 2014, 00:44:14

    Harusnya. Bagi2 grtis emang ditengah sawah gitu

    Reply to briyan
  • Dini

    on May 15, 2014, 18:43:45

    hahahaha…
    kocak habiss….
    btw, uda ada yg daftar berkenalan.com (https://berkenalan.com) ga?
    itu kayaknya jg jejaring sosial baru ya,ada yg tau? bs tukar2 kartunama, kayaknya lokal..

    Reply to Dini
  • NyatNyut.com

    on May 21, 2014, 07:40:43

    Hahahaha…. Ada aja inspirasi tulisannyanya! Keren! Maju terus Pos Ronda!

    Reply to NyatNyut.com
  • doni

    on May 22, 2014, 18:01:32

    idenya bener juga
    anak2 jadi injak2 sawah jadi gembur

    Reply to doni
  • _DEX_

    on May 24, 2014, 10:52:11

    Kreatif hahahahaha

    Reply to _DEX_


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS