Iklan
LATEST TWEET

Dinilai Handal, Pengemudi Asal Indonesia Jadi Incaran di Eropa

May 13, 2014       Ekonomi & Bisnis, Internasional, Sosial      
Rolls-Royce Phantom, jenis mobil mewah yang biasa disewakan berikut dengan seorang personal chauffeur di Inggris dan Eropa. Pengemudi adal Indonesia banyak dicari untuk menjadi chauffeur. (photo courtesy ichauffeur.net)

Rolls-Royce Phantom, jenis mobil mewah yang biasa disewakan berikut dengan seorang personal chauffeur di Inggris dan Eropa. Pengemudi adal Indonesia banyak dicari untuk menjadi chauffeur. (photo courtesy ichauffeur.net)

JAKARTA, POS RONDA – Kemacetan dan kekacauan lalu lintas di berbagai kota besar di Indonesia, terutama di Jakarta, ternyata memberikan peluang baru bagi para pengemudi. Disadari atau tidak, keadaan lalu lintas di Indonesia melatih para pengemudi di jalanan menjadi lebih terampil, cerdas, dan sabar.

Kondisi tersebut disebutkan dalam analisis yang dikeluarkan oleh World Transportation and Infrastructure Institute (WTTI), sebuah lembaga penelitian yang berbasis di London, Inggris, melalui Developing Countries’ Driving Index (DCDI), peringkat tahunan dalam mengevaluasi keahlian para pengemudi di seluruh dunia dalam menghadapi lalu lintas.

Pada peringkat DCDI, para pengemudi di Jakarta menempati peringkat pertama dalam empat tahun terakhir secara berturut-turut. Untuk peringkat DCDI tahun 2013 yang diterbitkan pada awal Mei tahun ini, pengemudi Jakarta secara berurutan diikuti oleh para pengemudi di Mumbai (India), Bangkok  (Thailand), Manila (Filipina), dan Nairobi (Kenya) pada posisi lima besar, dari total 50 kota besar di seluruh dunia.

Direktur WTTI, Eva McKenzie, menjelaskan bahwa DCDI diukur berdasarkan beberapa kriteria dasar yang sengaja dikhususkan bagi para pengemudi di negara-negara berkembang.

“Kriteria yang kami jadikan penilaian antara lain daya tahan tubuh, teknik berkendara, keahlian dalam mencari rute alternatif, kesabaran dan tingkah laku, serta kemampuan negosiasi dengan pihak birokrasi.” tulisnya dalam surat elektronik menjawab pertanyaan dari POS RONDA.

McKenzie menjelaskan bahwa dalam kriteria-kriteria tersebut para pengemudi Indonesia unggul di empat kategori kecuali daya tahan tubuh, yang dipuncaki oleh para pengemudi dari Mumbai, Dhaka, dan Beijing.

“Karena suatu hal yang tidak kami mengerti, pengemudi di Jakarta sedikit lemah akibat sindrom yang mereka sebut sebagai ‘masuk angin’. Namun dalam kriteria lainnya, terutama kesabaran dan tingkah laku, para pengemudi Jakarta memiliki nilai jauh melebihi yang lain. Dari hasil analisis kami, ini lebih disebabkan karena budaya dan tradisi di Indonesia yang sangat mengedepankan kesabaran dan sopan santun.” tambah McKenzie lebih lanjut.

Hasil penghitungan DCDI tersebut ternyata menjadi tolak ukur bagi para penyedia dan penyalurjasa pengemudi di seluruh dunia, terutama negara-negara Eropa. Lebih dikenal dengan sebutan chauffeur, para pengemudi yang menjadi subjek dari penyedia dan penyalur jasa tersebut tidak hanya sekedar mengemudikan kendaraan, tetapi juga memiliki keahlian-keahlian berkendara khusus demi keselamatan dan kenyamanan klien atau pengguna jasanya.

Seorang personal chauffeur. Tidak hanya sekedar pengemudi, seorang chauffeur harus mendapatkan pelatihan dan berbagai keterampilan mengemudi demi keselamatan dan keamanan klien atau pengguna jasanya. (photo courtesy chicagotransportsolution.com)

Seorang personal chauffeur. Tidak hanya sekedar pengemudi, seorang chauffeur harus mendapatkan pelatihan dan berbagai keterampilan mengemudi demi keselamatan dan keamanan klien atau pengguna jasanya. (photo courtesy chicagotransportsolution.com)

Chris Metcalfe, manajer komunikasi Ashton-Bray Limousine Services, penyedia jasa sewa kendaraan dan personal chauffeur di London, menjelaskan kepada POS RONDA melalui telepon siang ini (13/5) bahwa perusahaannya telah mulai merekrut chauffeur asal Indonesia sejak tiga tahun lalu.

“Skill para chauffeur dari Indonesia memang luar biasa. Mereka terbiasa berada di medan yang berat di tempat asal sehingga pada saat berada di London, kami hanya perlu melatih mereka sedikit saja. Bagi Ashton-Bray, mereka adalah indispensable asset.” papar Metcalfe.

Ashton-Bray saat ini mengaku mempekerjakan 23 orang chauffeur, dan delapan di antaranya berasal dari Indonesia. Metcalfe juga menjelaskan lebih lanjut, kesopanan dan keahlian dari para chauffeur Indonesia merupakan nilai tambah tersendiri yang mampu menghibur para klien.

 “Hampir di seluruh Eropa, perusahaan-perusahaan penyedia jasa sewa kendaraan dan personal chauffeur mencari-cari orang Indonesia. Tapi jumlah yang tersedia tidak banyak. Setelah Indonesia, biasanya yang dicari adalah mereka yang berasal dari Mumbai, India. Menurut saya pribadi, para chauffeur asal Indonesia adalah yang terbaik yang pernah saya ketahui. Terutama saat menghafal peta dan mencari jalur alternatif. Mereka bahkan tidak perlu GPS!” ujar Metcalfe.

Salah satu chauffeur Indonesia yang bekerja di Ashton-Bray, Guslan Rabani (33), mengatakan bahwa dirinya sangat gembira bisa bekerja di London. Menurut Guslan, apa yang dikerjakan olehnya di London lebih nyaman dibandingkan saat bekerja sebagai pengemudi taksi di Jakarta tiga tahun lalu.

“Saya hampir sepuluh tahun jadi supir taksi, kemudian ada kenalan yang salurkan saya ke London. Saya diberi latihan enam bulan lebih, baru bisa jadi chauffeur.  Jujur saja, di sini lebih enak untuk kerja. Gaji saya besar, bisa kirim lebih dari cukup untuk keluarga tiap bulan di Jakarta.” jelas Guslan.

Guslan kemudian menjelaskan kesehariannya di London. Pagi hari, biasanya Guslan sudah siap di tempat klien yang menyewa jasanya. Dari siang hingga malam hari, tugas Guslan adalah memastikan bahwa kliennya selamat dan puas atas pelayanan yang diberikannya sebagai chauffeur. Guslan mengaku pekerjaannya ini telah membawanya hampir ke seluruh Inggris, Wales, serta Belgia. Lalu bagaimana soal kesulitan yang sering muncul sehari-hari?

Kemacetan di Jakarta, sesuatu yang harus dihadapi Guslan saat masih menjadi supir taksi. Kini, bagi Guslan, jalanan London seperti surga dibandingkan Jakarta. (photo courtesy bbc.co.uk)

Kemacetan di Jakarta, sesuatu yang harus dihadapi Guslan saat masih menjadi supir taksi. Kini, bagi Guslan, jalanan London seperti surga dibandingkan Jakarta. (photo courtesy bbc.co.uk)

“Kalau soal macet, ada orang yang melanggar, itu hal biasa. Di kota manapun pasti ada” ujar Guslan. “Tapi dibandingkan dengan waktu di Jakarta, jauh sekali pastinya. Waktu di Jakarta, sudah macetnya luar biasa, jalanan grunjal-grunjel, tiap hujan banjir, dan banyak pelanggar lalu lintas tidak tahu diri. Bagi kami yang dari Jakarta, jadi pengemudi di London itu seperti surga.” tambahnya sambil tertawa.

Guslan juga mengamini bahwa permintaan akan pengemudi Indonesia di Eropa sangat banyak. Ia juga berharap pemerintah bisa memfasilitasi teman-temannya yang juga pengemudi di Jakarta agar bisa bekerja di Eropa.

“Biar mereka tidak stress di Jakarta. Lebih baik (kerja) di sini agar keahlian mereka bisa maksimal.” pungkas Guslan.(Sha01)

====

DISCLAIMER

Iklan

Shaka

Other posts by

15 Responses

  • Riyanto Wibowo

    on May 13, 2014, 13:56:11

    Mantap bener.. ada tukang ojek gak ya di eropah? secara gw tuh biker pengumben-cilandak dari senin-jumat

    Reply to Riyanto
  • kieky

    on May 13, 2014, 15:18:55

    Gimana cara ngelamarnya?

    Reply to kieky
  • pejuang45

    on May 13, 2014, 15:20:18

    pengemudi di Indonesia sabar2 .. biasa hadapi macet heheh

    Reply to pejuang45
  • Dini

    on May 14, 2014, 09:48:53

    hahahaha…lucu ya…klo tukang ojek di Jakarta suruh ngojek dsana..
    btw, uda pada join berkenalan.com (https://berkenalan.com) ga? kayaknya rame, lokal punya itu…

    Reply to Dini
  • kuncenserver

    on May 14, 2014, 10:03:54

    Kalaupun di Inggris dan Eropa pada saatnya nanti bakal macet luar biasa, tetap saja biker dan driver Indonesia masih bisa memanfaatkan pedestrian dan gang-gang tikus untuk lolos dari macet @_@

    Reply to kuncenserver
  • Tips Minum Madu

    on May 14, 2014, 19:12:29

    haha emang enak kejebak macet?

    Reply to Tips
  • Rico Sulaiman

    on May 14, 2014, 22:26:21

    bagi yang belon sempet baca, disini nih…..wekekekeke…emang bener menghibur….
    https://groups.yahoo.com/neo/groups/Media_Nusantara/conversations/topics/5804

    Reply to Rico
  • Bagonk

    on May 24, 2014, 04:39:42

    Ketangguhan dan kemampuan sopir Indonesia memang tidak usah dpertanyakan lagi, “Mereka bahkan tidak memerlukan GPS”, disaat kecanggihan teknologi pemetaan lalu-lintas dan wilayah yang dengan mudahnya diakses dengan perangkat mobile, mereka tetap mengandalkan brainware tanpa memerlukan hardware, salut untuk para supir Indonesia.

    Reply to Bagonk
  • Nuruddin Araniri

    on May 31, 2014, 23:13:44

    sopir metro mini dan bajaj, angkot peluang nihh go internasional

    Reply to Nuruddin
  • Udin

    on June 2, 2014, 22:56:07

    Bohong , this artikel enga benar . Saya indonesia tingal di uk dan mengemudi , di indo enga ada round about aturan mengemudi pun enga ada di indonesia bikin sim pun gampang , di uk aturan di pakai , ngantri kalo macet , saya 2 kali gagal bikin sim di uk ,

    Reply to Udin
  • Udin

    on June 2, 2014, 23:22:15

    Bukti di indonesia angka kecelakan sangat tinggi itu tanda nya pengemudi nya sembrono di Uk angka sangat kecil , mengemudi bukan hanya gas dan rem tapi aturan dan disiplin , ini artikel bullshit

    Reply to Udin
    • Jono

      on June 3, 2014, 00:09:34

      Anda sebagai manusia lebih bullshit lagi. Udah males baca disclaimer, asal jeplak di komentar.

      Orang-orang kayak anda ini yang bikin angka sembrono di Indonesia jadi tinggi. Semprul.

      Reply to Jono
      • Afif

        on February 25, 2015, 17:25:42

        Mas Jono sabar dulu, harap maklum mas Udin barusan salah minum obat, Disclaimer gede gitu jadi males baca.

        haha..

        Reply to Afif


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS