Iklan
LATEST TWEET

BCL: Hapus Nama Aktivis dan Demonstran dari Sejarah RI

May 12, 2014       Politik, Sejarah      
Para pemuda yang bergabung dalam Barisan Cerita Lama (BCL). Mereka menuntut penghapusan nama para demonstran dari buku-buku sejarah Indonesia. (photocourtesy blokbojonegoro.com)

Para pemuda yang bergabung dalam Barisan Cerita Lama (BCL). Mereka menuntut penghapusan nama para demonstran dari buku-buku sejarah Indonesia. (photocourtesy blokbojonegoro.com)

JAKARTA, POS RONDA – Segerombolan anak muda yang menamakan diri mereka Barisan Cerita Lama (BCL) mengusulkan agar  Pemerintah RI menghapus beberapa nama dari catatan kependudukan Republik Indonesia. Nama-nama tersebut antara lain: Widji Thukul, Munir, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, Hendriawan Sie dan ratusan nama lain.

Juru bicara BCL, Teguh Asmoro, memberikan pernyataan pada Pos Ronda ketika mereka berdemo di depan Gedung MPR/DPR pukul 3 dini hari tadi (12/5). “Orang-orang yang sudah meninggal tersebut terus disebut-sebut di banyak media sosial, dan itu sangat mengganggu ketentraman,” Ujar Teguh. “Sekarang kan masa damai, apalagi sebentar lagi pilpres. Yang namanya orang hilang dan mati itu kan wajar dalam setiap peradaban. Jadi sebaiknya dilupakan saja karena mereka mengganggu timeline (facebook) kami.”

Menurut Dindi, salah seorang anggota BCL, memang sebaiknya pemerintah dan anggota MPR/DPR baru segera memutuskan untuk menghilangkan nama-nama tersebut dari sejarah bangsa Indonesia. “Hidup kita kan sudah susah. Setiap hari harus naik kereta jalan dari rumah pagi-pagi buta. Diserobot ibu hamil lagi. Mana sempat kita mikirin orang-orang yang sudah mati.”

Menurut Teguh dan Dindi, pemerintahan SBY sangat lembek dalam menanggapi isu-isu kontra-nasionalisme seperti ‘Barisan Pengingat’ atau ‘Gerakan Menolak Lupa’. “Kalo jaman Soeharto, pasti orang-orang ini nggak kedengaran. Ini buktinya memang pemerintahnya melempem! Kita butuh pemimpin yang tegas ke depannya.” Ujar Teguh.

Lebih jauh lagi, BCL menganggap anak-anak muda yang menolak lupa dan menggembar-gemborkan isu soal reformasi dan pembunuhan aktivis sebagai anak-anak EMMO, kepanjangan dari Enggak Mau Move On. “Anak-anak muda kayak gitu kan absurd. Waktu 1998 masih pada bocah, sekarang nyuruh-nyuruh gak boleh lupa. Orang kalo mau inget kan mesti ngalamin, nah ini ngalamin juga nggak.”

Sementara itu perwakilan dari Persatuan Pemuda Belia (PPB) menganggap bahwa gerakan BCL adalah suara rakyat muda terkini. Jubir PPB, Junaedi Iskandar, mengatakan bahwa BCL adalah suara angkatan muda kontemporer yang hendaknya didengar. “Angkatan muda Indonesia tahun ini adalah yang tertinggi, hampir 50% dari penduduk. Suara mereka adalah suara otentik rakyat Indonesia dan sudah semestinya didengar. Kebijakan menghapus nama orang-orang yang dianggap ‘korban rezim’ ini adalah salah satu program kerja PPB. Karena kami muda dan gaul.”

Tanggal 12 Mei tahun 1998 seringkali diperingati sebagai pemicu utama gerakan besar menduduki gedung MPR/DPR dan pengunduran diri presiden Soeharto karena sebuah tragedi di Universitas Trisakti dengan tewasnya empat mahasiswa saat berunjuk rasa. Sejauh ini pengusutan yang dilakukan oleh pemerintah baru sebatas pengadilan terhadap beberapa pelaku dari polisi dan militer yang bergerak dibawah perintah, sementara yang memberi perintah masih belum diketahui hingga saat ini. (Nos) 

Iklan

Shaka

Other posts by

19 Responses

  • Nailhr

    on May 12, 2014, 19:29:48
  • Bryan

    on May 12, 2014, 19:48:05

    Demo kok Jam 3 pagi buta.. wkwkwk assem

    Reply to Bryan
  • NyatNyut.com

    on May 12, 2014, 22:51:44

    hahahaha… Ada aja ide postingannya… :)

    Reply to NyatNyut.com
  • Joe Hoogi

    on May 13, 2014, 05:20:23

    Kalau orang mati karena jasanya tidak boleh dikenang maka berarti semua nama pahlawan dihapus saja, nama Diponegoro, Teuku Umar, Kartini, Bung Karno, Gus Dur dsb nya tidak usah dikenang dan harus dihapus dari ingatan kita sebab mereka sudah meninggal dunia. Bahkan cilakanya kalau mengikuti logika BCL itu bahwa mereka yang sudah meninggal harus dihapus dari ingatan kita, berarti nama-nama nabi yang sudah meninggal juga tidak usah dikenang, toh mereka sudah mati.

    Reply to Joe
  • Handayani (@DyahWooRi)

    on May 13, 2014, 10:54:03

    mengikuti perkembangan Indonesia itu seperti nonton sinetron, ada2 saja

    Reply to Handayani
  • Dwi Anggara

    on May 13, 2014, 11:40:59

    wah…..kok rambut cepak semua yg demo, JAS MERAH kata Bung Karno….Bangsa yang besar adalah bangsa yg menghormati Jasa Pahlawannya termasuk PAHLAWAN REFORMASI….

    Reply to Dwi
  • hr

    on May 13, 2014, 12:39:17

    hahaaha, padahal ga baca isinya, coment dulu baru baca

    Reply to hr
  • porlak

    on May 13, 2014, 13:45:57

    Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat dan melestarikan sejarah dan kebudayaannya. Jadi, usul penghapusan nama-nama tersebut, yang tertulis dengan tinta emas sebagai pelaku sejarah bangsa ini adalah bukti semakin merosotnya jatidiri sebagai bangsa yang berbudaya tinggi.

    Reply to porlak
  • Gunawan Saja

    on May 13, 2014, 15:01:53

    “Anak-anak muda kayak gitu kan absurd. Waktu 1998 masih pada bocah, sekarang nyuruh-nyuruh gak boleh lupa. Orang kalo mau inget kan mesti ngalamin, nah ini ngalamin juga nggak.” <= Yang nulis ini ngalami demo 1998 Gak? Atau waktu itu masih ingusan, sentrap-sentrup ngelap umbel yang meler di hidung. Bikin Parodi mbok ya yang bermutu tanpa menyinggung orang lain.

    Reply to Gunawan
    • wonderguitar

      on May 13, 2014, 20:06:38

      Hajar aja bang! Anak2 muda yg ngomong kayak gitu mesti ngerasain diculik2!!

      Ini bikin parodi nyakitin hati banget sih. Eh… tapi yang gak ngusut dan ‘terkesan’ menyuruh lupain tuh siapa ya? Oh iya, pemerintah RI!!!

      Realita lebih pahit dari parodi kan?

      Reply to wonderguitar
  • Gaban

    on May 13, 2014, 16:05:02

    wahahah PPB ntar ada PRG (Persatuan Remaja Galau)

    Reply to Gaban
  • entong

    on May 15, 2014, 12:57:26

    “Hidup kita kan sudah susah. Setiap hari harus naik kereta jalan dari rumah pagi-pagi buta. Diserobot ibu hamil lagi. Mana sempat kita mikirin orang-orang yang sudah mati.”

    //Udah tau hidupnya susah, malah demo hal gak penting :v

    —————————————————————————————————————————-
    Menurut Teguh dan Dindi, pemerintahan SBY sangat lembek dalam menanggapi isu-isu kontra-nasionalisme seperti ‘Barisan Pengingat’ atau ‘Gerakan Menolak Lupa’. “Kalo jaman Soeharto, pasti orang-orang ini nggak kedengaran. Ini buktinya memang pemerintahnya melempem! Kita butuh pemimpin yang tegas ke depannya.” Ujar Teguh.

    //Sekarang mereka menghendaki pemerintahan seperti jaman soeharto. *korban stiker “pye le kabare?”. jadi siapa sebenarnya yang nggak bisa move on?

    Reply to entong
  • jojo

    on May 15, 2014, 21:42:20

    Makin kacau makin asik … haha nemu istilah baru nich EMMO enggak mau move on … tulisanya khayalan tingkat tinggi bget salut buat yang nulis … cukup menghibur … dan mengecoh orang2 yg terlalu serius menanggapi tulisan ini … haha

    Reply to jojo
  • dinnayaso

    on May 15, 2014, 22:55:11

    Kasian kalian anak2 ingusan yg mgkn dibyr parpol ttt sehubungan dgn peningkatan tensi menjlg pilpres.hdknya minta pimpinan kalian utk sumbang pkran n ide utk bgs n negara ini spy jgn program pemerintah ganti2 stp ganti parpol pemenang pemilu krn jk bgt trs,ngimpi x lu jk mau jd macan asia

    Reply to dinnayaso
  • Tommy Bulyan

    on May 18, 2014, 15:38:01

    Bisa ditest dengan menculik ketua BCL.. Mungkin mereka baru berpikir lain

    Reply to Tommy
  • Aetherina

    on May 21, 2014, 12:07:33

    Ini mungkin satire tertajam yang pernah dimuat Pos Ronda.

    Reply to Aetherina
  • novis

    on November 5, 2015, 06:23:08

    artikel asik dan cerdas!

    Reply to novis


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS