Iklan
LATEST TWEET

Anak Kesulitan Kerjakan UN, Orang Tua Siswa Serbu Rumah Dukun

May 09, 2014       Pendidikan, Politik, Sosial      
Tidak hanya pada saat pemilu politik, profesi sebagai dukun atau 'orang pintar' seringkali juga mendapat banyak pelanggan menjelang penyelenggaraan Ujian Nasional. (photo courtesy tempo.co)

Tidak hanya pada saat pemilu politik, profesi sebagai dukun atau ‘orang pintar’ seringkali juga mendapat banyak pelanggan menjelang penyelenggaraan Ujian Nasional. (photo courtesy tempo.co)

JAKARTA, POS RONDA – Puluhan orang tua murid tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dikabarkan beramai-ramai mendatangi rumah seseorang yang dikenal berprofesi sebagai dukun di Desa Candisari, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah kemarin (8/5).

Para orang tua murid tersebut mendatangi rumah Ki Rawuh Sewu untuk meminta ganti rugi karena anak-anak mereka kesulitan dalam mengerjakan soal Ujian Nasional (UN) tingkat SMP, padahal mereka sudah membayar sejumlah uang agar pertanyaan-pertanyaan dalam soal UN menjadi lebih mudah.

Santoso (40), salah satu dari orang tua murid, mengatakan bahwa dua hari sebelum UN dirinya telah memberikan Ki Rawuh mahar sejumlah dua juta rupiah. Ki Rawuh, menurut Santoso, menjanjikan bahwa anaknya akan dimudahkan dalam mengerjakan soal-soal UN.

“Saya ke sini mau minta Ki Rawuh tanggung jawab. Waktu sehabis mengerjakan soal UN beberapa hari lalu anak saya pulang ke rumah sambil menangis, katanya susah. Padahal saya sudah bayar dua juta, dia (Ki Rawuh) janji soalnya akan jadi lebih mudah. Katanya dia kan ‘orang pinter’.” ucap Santoso.

Santoso bukan satu-satunya orang tua murid yang memberikan mahar kepada Ki Rawuh. Purwanti (44) juga memberikan mahar dengan harapan yang sama. Tidak tanggung-tanggung, Purwanti yang memiliki putra kembar yang keduanya mengikuti UN, membayar lebih dari sepuluh juta rupiah.

Para orang tua murid saat beramai-ramai meminta pertanggungjawaban Ki Rawuh. Usaha warga merusak rumah Ki Rawuh dapat dicegah saat yang bersangkutan akhirnya diamankan oleh pihak kepolisian. (photo courtesy maduraterkini.com)

Para orang tua murid saat beramai-ramai meminta pertanggungjawaban Ki Rawuh. Usaha warga merusak rumah Ki Rawuh dapat dicegah saat yang bersangkutan akhirnya diamankan oleh pihak kepolisian. (photo courtesy maduraterkini.com)

Para orang tua murid tersebut beramai-ramai datang pada pagi hari, kemudian meminta Ki Rawuh untuk keluar dari rumahnya dan bertanggung jawab. Namun Ki Rawuh tidak kunjung berani untuk menampakkan diri, sehingga para orang tua murid sempat naik pitam.

Menjelang siang hari para orang tua murid yang sudah tidak sabar beramai-ramai menyerbu rumah Ki Rawuh, namun akhirnya aksi mereka dihentikan oleh para perangkat Desa Candisari dibantu oleh personil dari kepolisian. Pihak kepolisian juga mengamankan Ki Rawuh untuk dimintai keterangan.

“Saya ndak bermaksud menipu. Saya sejak awal sudah bilang, ‘pak, bu, nanti dibantu dengan anaknya berdoa dan belajar yang rajin. Kalau iya pasti didengar Gusti Allah, dimudahkan mengerjakan ujian’. Soal mahar yang mereka berikan, itu sumbangan, saya tanya mereka jawabnya ikhlas.” terang Ki Rawuh saat dimintai keterangan di kantor Polsek Banyuurip.

Kapolsek Banyuurip AKP Sugiyanto memaparkan bahwa pihaknya akan menyelidiki lebih lanjut klaim yang dilakukan oleh kedua pihak, baik dari pihak orang tua murid ataupun Ki Rawuh. Meski demikian apabila nantinya memang terbukti adanya unsur penipuan, maka akan dikenakan pasal 378 KUHP tentang penipuan.

“Tapi sampai benar-benar penyelidikan selesai, tetap kita kedepankan asas praduga tak bersalah.” ujar AKP Sugiyanto.

 

Tingkat kesulitan soal UN: siswa manja atau kesalahan sistemik?

Tingkat kesukaran soal UN memang menjadi topik dunia pendidikan Indonesia pada tahun ini. Sebagian siswa peserta UN melaporkan bahwa pertanyaan-pertanyaan dalam soal ujian sulit untuk dikerjakan, terutama mata pelajaran matematika dan Bahasa Indonesia.

Polemik semakin mengemuka pada saat terjadi kasus seorang siswi peserta UN bunuh diri usai mengerjakan ujian. Leony Alvionita (14), siswi SMP Negeri 1 Tabanan Bali, ditemukan gantung diri di rumahnya diduga akibat depresi karena kesulitan mengerjakan soal-soal ujian matematika. Pihak kepolisian hingga saat ini masih melakukan penyelidikan lanjutan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh menyatakan bahwa sulitnya soal UN memang disengaja agar para siswa tidak manja.

“Kesulitan materi soal UN itu bisa jadi tantangan untuk para siswa. Kami tidak ingin anak-anak menjadi manja. Itu (soal) sudah melalui riset. Soal kami buat ada yang sulit ada yang mudah. Jika ada yang kesulitan, itu menunjukkan perlunya perbaikan sistem dan kurikulum agar lebih baik lagi.” tegas Nuh saat ditanyai oleh wartawan di gedung Kemendikbud, tanggal 1 Mei yang lalu.

Mendikbud Muhammad Nuh. Menurut dirinya, soal UN sudah dibuat melalui serangkaian riset yang akurat. Nuh juga menambahkan bahwa soal UN memang sulit agar para siswa tidak manja. (photo courtesy tempo.co)

Mendikbud Muhammad Nuh. Menurut dirinya, soal UN sudah dibuat melalui serangkaian riset yang akurat. Nuh juga menambahkan bahwa soal UN memang sulit agar para siswa tidak manja. (photo courtesy tempo.co)

Pengamat pendidikan nasional dari lembaga Gerakan Menuju Indonesia Cerdas (GMIC) Fadilah Bahar menilai bahwa permasalahan UN terletak dari kualitas sistemnya yang belum sempurna.

“Pak Menteri seharusnya jangan selalu menyalahkan murid. Seandainya setiap tahun terjadi kasus-kasus yang sama, artinya yang salah ada di sistem. Sistem yang berkualitas rendah menghasilkan para siswa yang berkualitas rendah pula.” ujarnya.

Fadilah melanjutkan, pernyataan Nuh yang cenderung mengedepankan kebijakan trial and error merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab, karena tidak seharusnya negara menjadikan generasi mudanya sebagai kelinci percobaan.

Keputusan mempertahankan sistem pelaksanaan UN seperti saat ini tanpa perbaikan berarti, menurutnya, Kemendikbud sebenarnya cuci tangan dan melemparkan kesalahan ke pada murid dan orang tua. Dengan kata lain, Nuh tidak mau mengakui bahwa Kemendikbud tidak kompeten dalam menyusun sistem yang baik.

“Jadi alih-alih menciptakan sistem yang baik, Pak Menteri malah menjalankan reign of terror kepada para siswa. Siswa malas, siswa bodoh, nilai di rapor harus bagus. Siswa dan orang tua salah, Pak Menteri selalu benar. Itu bukan manajemen sistem, tapi tindak kelaliman.” ujar Fadilah.

Karena rasa takut itulah akhirnya banyak yang mengambil langkah yang salah seperti menyontek, membeli kunci ujian, serta pergi ke dukun dan paranormal. Fadilah menyatakan dirinya tidak membenarkan tindakan tersebut, namun menegaskan bahwa kasus-kasus tersebut merupakan produk dari sistem pendidikan yang tidak beres, dan pihak yang paling berkepentingan dalam sistem pendidikan adalah Kemendikbud. (Sha01)

Iklan

Shaka

Other posts by

6 Responses


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS