Iklan
LATEST TWEET

Harga Terus Naik, Tanah Jakarta jadi Komoditas Ekspor

April 18, 2014       Ekonomi & Bisnis, Kesehatan & Lingkungan, Megapolitan      
Jakarta dinobatkan sebagai kota dengan kenaikan harga properti terbesar setiap tahunnya, yang berdampak pada tanah Jakarta yang kini menjadi primadona di pasar internasional sebagai komoditas ekspor. (photo courtesy channelnewsasia.com)

Jakarta dinobatkan sebagai kota dengan kenaikan harga properti terbesar setiap tahunnya, yang berdampak pada tanah Jakarta yang kini menjadi primadona di pasar internasional sebagai komoditas ekspor. (photo courtesy channelnewsasia.com)

JAKARTA, POS RONDA – Sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta mempertimbangkan memulai usaha bersama untuk mengekspor tanah yang berasal dari provinsi DKI Jakarta.

Pemikiran untuk mengekspor tanah ini tercetus setelah pengamatan empiris bahwa harga tanah di Jakarta akan terus naik. Dengan demikian, ekspor tanah Ibukota akan menjadi prospek usaha yang sangat menguntungkan.

“Tanah Jakarta saat ini tidak sekedar investasi untuk masa depan, tapi juga menjadi komoditi perdagangan. Lihat saja harga yang naik terus. Rekan-rekan bisnis saya yang di luar negeri sudah melaporkan bahwa demand untuk tanah Jakarta semakin tinggi. Biasanya untuk dijadikan luxury items atau koleksi.” jelas Iman Wibawa, CEO PT Wibawa Soil Tradings.

Demam membeli dan mengoleksi tanah dari kota-kota besar di Asia, seperti Tokyo, Hong Kong, dan Jakarta, telah muncul di Amerika Serikat dan Eropa setahun yang lalu. Tanah dari kota-kota di Asia ini biasanya dijual dalam satuan kilogram, dan dibalut kemasan premium sehingga terkesan mewah. Fenomena ini semakin menguat dan permintaan akan tanah Jakarta, khususnya, meningkat tajam.

“Tanah Tokyo, Hong Kong, dan Seoul sudah diperdagangkan dalam jumlah besar. Untuk tanah Jakarta, skalanya masih kecil-kecilan, sementara permintaan semakin tinggi. Kalau kita pengusaha lokal tidak menggarap ini, bisa-bisa malah keduluan pengusaha asing. Masa iya tanah Jakarta yang ekspor bukan orang Indonesia sendiri? Malu dong.” papar Iman lebih lanjut.

Para pekerja menambang tanah Jakarta. Selama ini penambangan dan perdagangan tanah Jakarta di pasar internasional masih terbatas dalam skala kecil. (photocourtesy thejakartapost.com)

Para pekerja menambang tanah Jakarta. Selama ini penambangan dan perdagangan tanah Jakarta di pasar internasional masih terbatas dalam skala kecil. (photocourtesy thejakartapost.com)

Naiknya permintaan atas tanah Jakarta dipicu oleh laporan Prime Global Cities Index yang dikeluarkan oleh Knight Frank, perusahaan agen properti terkemuka di London, Inggris.

Dalam laporan Knight Frank, selama dua tahun berturut-turut (2012 dan 2013) Jakarta menempati urutan teratas dalam peningkatan harga lahan dan properti. Kenaikan harga lahan dan properti Jakarta mencapai hampir 40 persen setiap tahunnya, hampir dua kali lipat dari kenaikan terbesar selanjutnya seperti Dublin (17,5%), Beijing (17,1%), Dubai (17%), dan Los Angeles (14%).

Liam Bailey, kepala litbang Knight Frank, menyatakan bahwa naiknya harga tanah Jakarta berkaitan dengan kenaikan harga lahan dan properti di Jakarta karena sifatnya yang mewah, terbatas, dan eksotis. Apabila dikonversi dalam rupiah, tanah Jakarta kini bernilai sekitar Rp. 500.000 per kilogram di pasaran internasional.

Tanah yang siap dikemas untuk kemudian diekspor. Tanah Jakarta semakin mahal akibat harga properti yang melonjak dan kelangkaannya. Harga di pasaran internasional mencapai kisaran Rp 500.000 per kilogram. (photo courtesy 2.bp.blogspot.com)

Tanah yang siap dikemas untuk kemudian diekspor. Tanah Jakarta semakin mahal akibat harga properti yang melonjak dan kelangkaannya. Harga di pasaran internasional mencapai kisaran Rp 500.000 per kilogram. (photo courtesy 2.bp.blogspot.com)

“Kami tidak memungkiri bahwa tanah Jakarta kini menjadi primadona di dunia. Tanah Jakarta tidak hanya menjadi koleksi pajangan, namun juga dijadikan bagian dari konstruksi bangunan perumahan terutama di rumah-rumah kalangan atas dan selebriti.” ujar Bailey. “Bagi mereka ini bukan sekedar komoditas mewah, tapi lebih kepada prestise.” tambahnya.

Harga tanah Jakarta yang semakin tinggi juga didorong oleh keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menaikkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah di Jakarta hingga 240% di beberapa wilayah.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang akrab disebut Ahok, sebelumnya sudah menjelaskan bahwa kenaikan NJOP memang harus dilakukan sebagai akibat dari naiknya nilai lahan di Jakarta. Meski demikian, kenaikan tersebut tidak lantas harus dijadikan alasan untuk mengambil keuntungan dengan menjual tanah Jakarta ke luar negeri.

Nggak! Nggak bener itu. Kalau kita naikkan NJOP itu karena memang sudah waktunya. Tapi jangan karena harga naik lantas dijual ke luar negeri, dikiloin pula. Itu tanah kan punya warga DKI.” ujar Ahok saat dimintai keterangan soal ekspor tanah di kantornya di Gedung Pemprov DKI, pagi ini (17/4).

Ahok menekankan pada pasal 33 ayat 3 Undang-undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa ‘bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat’.

Berdasarkan pasal tersebut, Ahok menjelaskan lebih lanjut bahwa keuntungan tanah Jakarta harus bisa dinikmati oleh warga dan pemerintah provinsi. Oleh karena itu, seandainya eskpor tanah itu legal dan dimungkinkan, pihak Pemprov akan berusaha mendapatkan bagiannya melalui pajak.

“Oke, taruhlah kita jual ke luar negeri, tapi kalo saya, akan kasih pajak tinggi itu. Pajaknya bisa masuk ke kas Pemprov, pendapatan daerah. Tanah Jakarta dijual yang untung harus DKI juga dong, bukan cuma pengusaha aja.” lanjut Ahok.

Sementara itu, kabar terakhir dari Amerika Serikat seperti yang dikutip dari harian Wall Street Daily Post menyatakan bahwa pekan depan harga tanah kota-kota Asia, termasuk Jakarta, akan diikutsertakan dalam bursa komoditas di New York Mercantile Exchange (NYMEX) milik CME Group of Chicago. (Sha01)

Iklan

posronda

Other posts by

no Respond


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS