Iklan
LATEST TWEET

Primata Schmutzer Mogok Kerja, Tuntut Keadilan Bagi Satwa

April 13, 2014       Kesehatan & Lingkungan, Megapolitan, z_Editor's Choice      
Caesar, seekor simpanse genius, memimpin pemberontakan para primata terhadap manusia dalam sebuah adegan di film Rise of the Planet of the Apes. (photo courtesy portlandmercury.com)

Caesar, seekor simpanse genius, memimpin pemberontakan para primata terhadap manusia dalam sebuah adegan di film Rise of the Planet of the Apes. (photo courtesy portlandmercury.com)

JAKARTA, POS RONDA – Pagi ini (13/4), para pegawai dan pengunjung Kebun Binatang Ragunan terutama Pusat Primata Schmutzer dikejutkan dengan aksi para primata yang berunjuk rasa. Aksi yang dilakukan oleh para primata ini membuat sebagian pengunjung panik, terutama saat para gorila melempari para pengunjung dengan buah-buahan yang seharusnya menjadi makanan mereka.

Para pegawai Ragunan dan Schmutzer yang tidak siap atas kejadian ini sempat melarikan diri dari beberapa spesies primata yang membuka pintu kandang dan mengejar mereka. Para pegawai mengunci diri di dalam kantor, sementara para pengunjung berhamburan keluar dari area Schmutzer.

Keadaan baru mereda sekitar pukul 11.30 WIB, saat sekelompok jagawana dan ahli fauna Ragunan mulai memasuki Pusat Primata Schmutzer dengan dilengkapi senapan bius dan jaring. Para jagawana dan ahli fauna tersebut didampingi oleh para psikolog fauna yang tergabung dalam Animal Psychology Studies Foundation (APSF), yang kebetulan tengah mengunjungi Kebun Binatang Ragunan saat itu sebagai bagian dari acara simposium mereka di Jakarta.

Konflik fisik dengan para primata bisa dihindari berkat para ahli dan psikolog fauna yang berhasil mengajak sekelompok simpanse, yang diperkirakan sebagai pemimpin dari aksi unjuk rasa tersebut, untuk berunding.

Dari hasil perundingan diketahui ternyata para primata melakukan aksi mogok kerja sebagai bentuk solidaritas terhadap kondisi satwa di dunia, khususnya Indonesia terutama para penghuni Kebun Binatang Surabaya (KBS) dan para orangutan yang berada di Sumatra dan Kalimantan.

“Rupanya, ini bagian dari upaya mereka untuk menuntut perbaikan kesejahteraan bagi para satwa di seluruh dunia.” ujar Anke Kuester, kepala rombongan APSF berkebangsaan Austria yang juga seorang psikolog fauna.

Kuester lebih jauh menjelaskan bahwa para primata tersebut sangat gusar terutama berkaitan dengan kondisi satwa di dalam negeri.

“Mereka mengaku prihatin dengan sesama satwa yang berada di Surabaya, dan mereka marah karena kasus pembantaian orangutan beberapa tahun lalu tidak kunjung memperoleh titik terang.” tambah Kuester.

Kebun Binatang Surabaya memang mendapat kritikan tajam dari dalam negeri dan dunia internasional dua tahun terakhir akibat kematian beruntun yang dialami oleh para satwa penghuninya. Beberapa kematian terakhir satwa bahkan dianggap tidak wajar, seperti singa betina yang tewas terjerat tali dan komodo yang mati dengan mulut berbusa.

Sementara itu pada September 2011, temuan atas pembantaian orangutan di Kalimantan juga menjadi topik hangat di dunia internasional. Pembantaian yang diperkirakan terjadi pada tahun 2009-2010 dan menelan korban ratusan ekor orangutan tersebut disinyalir dilakukan dengan sengaja. Saat ini, kasus tersebut belum terselesaikan dan terlupakan oleh masyarakat.

Kuester juga mengatakan, “Karena ini tahun pemilihan, para primata berharap pemimpin baru akan menyelesaikan masalah ini.”

Anggota rombongan APSF lainnya, psikolog fauna Milton Aranda asal Amerika Serikat (AS), menekankan bahwa di negaranya terjadi peristiwa yang serupa di Kansas City beberapa hari lalu (10/4). Tujuh ekor simpanse berhasil membuka kandang di Kansas City Zoo dan sempat membuat kehebohan. Kebun binatang tersebut sempat mengaktifkan protokol keadaan darurat hingga akhirnya para simpanse yang lepas dapat ditangkap. Aranda mengaku kagum.

Petugas Kansas City Zoo berusaha mengejar primata yang kabur dari kandang (photocourtesy bbc.co.uk)

Petugas Kansas City Zoo berusaha mengejar primata yang kabur dari kandang (photo courtesy bbc.co.uk)

“Ini menakjubkan. Beberapa hari lalu di Kansas juga terjadi hal yang sama. Para simpanse di sana menuntut agar perusakan hutan hujan Amazon dihentikan. Hari ini para primata di sini meminta keadilan bagi sesama satwa. Ini seakan memulai semacam pola.” ujarnya.

Lebih jauh lagi, Aranda juga memberanikan diri untuk memprediksi bahwa ada kejadian serupa yang akan terjadi dalam waktu dekat.

 “Dengan ini saya yakin akan ada kejadian serupa tidak lama lagi, mungkin beberapa hari lagi, di belahan dunia lain. Ini luar biasa.” papar Aranda.

Selepas tengah hari, para primata yang berunjuk rasa akhirnya bersedia untuk kembali ke kandangnya masing-masing setelah pihak Kebun Binatang Ragunan berjanji akan menyampaikan aspirasi mereka ke media massa, masyarakat, dan pemerintah. Pada pukul 14.00 WIB, pihak hubungan masyarakat Kebun Binatang Ragunan secara resmi menyatakan bahwa kondisi Pusat Primata Schmutzer sudah kembali normal dan dapat dikunjungi seperti biasa. Pihak kebun binatang mengaku belum mengetahui persisnya jumlah kerugian yang dialami akibat aksi ini, namun menegaskan tidak ada satu pun korban luka-luka.

Meski demikian, Aranda tetap mengingatkan, “Para primata sudah semakin cerdas, mungkin ini bagian dari proses evolusi dan adaptasi mereka terhadap perlakuan manusia. Saya rasa ini harus menjadi perhatian masyarakat atau pemerintah di seluruh dunia. Tentunya kita tidak ingin terjadi sesuatu seperti di dalam cerita Planet of the Apes. Pikiran itu membuat saya merinding.” (sha01)

Iklan

posronda

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS