Iklan
LATEST TWEET

KPU: Kertas Suara Pilpres akan Gunakan ‘Selfie’

April 11, 2014       Uncategorized      
Foto 'selfie', sangat populer di kalangan penduduk berusia muda dan pengguna sosial media.

Foto ‘selfie’, sangat populer di kalangan penduduk berusia muda dan pengguna sosial media. (photo courtesy of merdeka.com)

JAKARTA, POS RONDA – Meskipun penghitungan suara baru berada dalam tahap awal, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia sudah melakukan beberapa tinjauan terhadap pelaksanaan pemilu legislatif (pileg) Rabu (9/4) yang lalu.

Dalam tinjauan awal tersebut KPU mengaku cukup puas atas keseluruhan pelaksanaan pileg namun tetap mengkhawatirkan jumlah suara rusak atau kosong, yang sering disebut dengan Golput. Hal ini dikemukakan oleh Sekretaris Jendral (Sekjen) KPU Pusat, Arief Rahman Hakim, dalam konferensi pers di Gedung Kantor KPU Pusat, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, kemarin (10/4).

“Meskipun penghitungan suara belum selesai, namun kami senang bahwa jumlah Golput pada pemilu kali ini cenderung berkurang, seperti yang diproyeksikan oleh lembaga-lembaga survei pada penghitungan cepat.” ujar Arief.

Arief kemudian menambahkan dengan cepat bahwa Golput tetaplah merupakan suara terbuang, dan hal ini tidak baik karena menyia-nyiakan suara yang seharusnya bisa digunakan untuk berkontribusi pada proses pembangunan negara melalui pemilu.

“Tapi pihak kami, KPU, sampai pada kesimpulan bahwa ini bukanlah salah mereka yang memutuskan Golput. Memang kami akui ada beberapa hal yang harus dirubah sehingga masyarakat lebih tertarik untuk memberikan suaranya.”  papar Arief.

Untuk menarik minat masyarakat, Arief mengatakan KPU akan berperan aktif dengan mengubah format kertas suara pada Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 nanti. Perubahan dalam kertas suara akan difokuskan kepada foto para calon presiden dan wakil presiden yaitu dengan menggunakan ‘selfie’, potret diri yang diambil sendiri oleh pemegang kamera, dan umumnya kemudian diunggah ke media sosial untuk mengekspresikan dirinya.

Arief mengatakan lebih lanjut, “Saya pikir ‘selfie’ sudah diterima di masyarakat sebagai hal yang lumrah, dan bahkan sangat populer di kalangan anak muda. Dengan demikian para capres dan cawapres bisa mengambil foto ‘selfie’ semenarik mungkin, kemudian mengampanyekannya di berbagai media termasuk media sosial, agar dapat menjaring suara lebih banyak pada Pilpres tanggal 9 Juli nanti.”

Pada kalangan pejabat negara, ‘selfie’ bukan lagi merupakan hal tabu. Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron, dan PM Denmark Helle Thorning-Schmidt pernah melakukan sesi ‘selfie’ bersama pada acara pemakaman tokoh Afrika Selatan, Nelson Mandela pada tahun 2013. Meskipun aksi itu menuai kritikan tajam, namun tetap saja tidak menghentikan Obama dan Cameron melakukan ‘selfie-selfie’ lain hingga saat ini.

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Malaysia Najib Abdul Razak juga sempat mengambil ‘selfie’ mereka pada kunjungan Razak ke Istana Merdeka, Jakarta, pada Desember 2013.

PM Razak dan Presiden SBY beraksi 'selfie'. Foto 'selfie' bukan hal yang asing lagi di kalangan para pejabat negara di seluruh dunia.

PM Razak dan Presiden SBY beraksi ‘selfie’. Foto ‘selfie’ bukan hal yang asing lagi di kalangan para pejabat negara di seluruh dunia. (photo courtesy of thestar.com.my)

Sejumlah tokoh-tokoh dunia lain juga ikut serta dalam aksi ‘selfie’ meskipun bukan mereka sendiri yang memegang kamera, seperti Paus Francis dan Pangeran Charles dari Inggris. Foto-foto ‘selfie’ yang melibatkan para politisi dan pejabat kenegaraan sering menjadi topik hangat di media sosial dan media konvensional.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Jayabangsa Indonesia (UJI) Yekti Hasroel Santoso menyambut positif rencana KPU untuk menggunakan ‘selfie’.

“Yang terpenting adalah bagaimana KPU mengakui bahwa ada yang harus dibenahi dan mereka berusaha. Soal ‘selfie’ sendiri, saya rasa cukup positif dalam artian itu akan memaksa para capres dan cawapres berinteraksi langsung dengan para calon pemilih di media sosial.” ujar Yekti.

Meski demikian, Yekti menambahkan bahwa merubah kertas suara dengan menambah ‘selfie’ tidak akan serta merta menyelesaikan masalah Golput.

“Harus ada kerjasama antara KPU dan pemerintah. Tidak semua orang menggunakan internet, jadi solusi ‘selfie’ hanya bisa dinikmati di kota-kota besar. Mereka yang Golput di pedesaan lebih dikarenakan infrastruktur yang minim serta sistem informasi yang tidak sampai ke sana. Ini krusial.” tambahnya. (sha01)

Iklan

posronda

Other posts by

no Respond

FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS