Iklan
LATEST TWEET

Wawancara Eksklusif: Prof. Nugroho Subekti Asmorowiloto, PhD., Pakar Psikiatri Politik

April 08, 2014       Pemilu 2014      
Terminal penumpang Ann Arbor Municipal Airport, lokasi koresponden POS RONDA mewawancarai Prof. Nugroho Subekti Asmorowiloto, Ph.D. (photo courtesy Wikipedia).

Terminal penumpang Ann Arbor Municipal Airport, lokasi koresponden POS RONDA mewawancarai Prof. Nugroho Subekti Asmorowiloto, Ph.D. (photo courtesy Wikipedia).

 

ANN ARBOR, POS RONDAMunculnya gelombang pakar psikiatri asing ke Indonesia berkaitan erat dengan usaha sejumlah rumah sakit di Indonesia mempersiapkan diri untuk menampung para calon anggota legislatif (caleg) yang gagal meraih kursi di parlemen dan mengalami gangguan jiwa. Sejumlah nama tenar dalam dunia psikiatri internasional seperti Tomo Dachibara dari Jepang, Park Kyun-Han dari Korea Selatan, dan Albert McFanahey dari Inggris dipastikan akan datang ke Indonesia. Datangnya para pakar tidak hanya untuk membantu penanganan kesembuhan para calon pasien, namun juga untuk penelitian di bidang psikiatri politik.

Satu nama lagi yang dipastikan akan datang ke Indonesia  adalah Prof. Nugroho Subekti Asmorowiloto, Ph.D, Mp., MM., SpP., seorang pakar psikiatri politik kelahiran Indonesia dan berkewarganegaraan Amerika Serikat (AS).

Prof. Nugroho adalah salah seorang ahli psikiatri Indonesia yang mengadu nasib di Amerika. Sepuluh tahun lalu, ia diberikan kewarganegaraan oleh pemerintah AS karena memberikan kontribusi yang besar dalam bidang psikiatri politik (political psychiatry) di negeri Paman Sam tersebut.

Prof. Nugroho adalah ahli psikiatri politik yang sangat terkenal di wilayah Amerika Utara. Buku-buku karangannya seperti Obama: the Evolution of a Nigger dan Khazam! How US Government Created the Global Mass Madness selalu berada dalam kategori best seller. Ini juga menunjukkan bahwa bidang ilmu psikiatri politik telah mendapatkan perhatian yang cukup besar dari masyarakat AS. Kini, Nugroho menjabat sebagai dekan dari Fakultas Kedokteran Politik George Washington University di Washington, DC.

Koresponden POS RONDA di Amerika Serikat menemui dan melangsungkan wawancara eksklusif dengan Prof. Nugroho di Ann Arbor Municipal Airport, Michigan, sebelum kembali ke Washington, DC. untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Jakarta pada hari Minggu (6/4) kemarin. Di ruang tunggu bandara, Prof. Nugroho menjelaskan kepentingannya untuk kembali ke Indonesia.

 

POS RONDA (PR): Prof. Nugroho, kami mendapat kabar bahwa para pakar psikiatri internasional akan berdatangan ke Indonesia, termasuk anda. Ada apa sebenarnya?

Prof. Nugroho (N): Kami memang dipanggil dan diundang oleh rumah-rumah sakit di Indonesia. Tujuannya untuk memberikan bantuan dan layanan kepada para calon pasien. Saya dikabarkan bahwa dengan proyeksi angka calon pasien yang begitu besar, rumah sakit di Indonesia akan kewalahan menanganinya.

 

Ada yang melaporkan, untuk berkonsultasi dengan anda biayanya sangat tinggi. Apa benar demikian?

Soal biaya, saya selalu menyesuaikan dengan tingkat ekonomi pasien. Saya tidak akan meminta terlalu rendah ataupun terlalu tinggi. Bagaimana pun, tugas kami pada dasarnya kan memang untuk membantu pasien agar sembuh. Tapi kami harus tetap menjaga posisi kami sebagai seorang profesional. Selain itu, saya juga bisa memperdalam penelitian saya mengenai psikiatri politik dengan contoh kasus Indonesia.

 

Selain anda, sudah ada tiga nama lain yang pasti datang ke Indonesia. Ada dugaan bahwa dana-dana penelitian yang anda sebutkan mengalir cukup kencang masuk ke Indonesia. Apakah memang perlu operasi yang sebesar itu?

Oh, tidak hanya kami berempat. Saya bisa konfirmasi bahwa dari Jerman, Dr. Hans Schulmann juga akan datang. Saya perkirakan ada hampir 20 rekan sejawat yang akan ke Indonesia. Sebenarnya ini lebih kepada bentuk kerjasama dan bantuan internasional. Kami akan menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Kalau tidak salah, Prof. Dachibara di seputar Jakarta, sementara saya akan ke Magelang. Ini dimaksudkan agar kami bisa menjangkau pasien lebih banyak, dan tentu saja data penelitian yang akan kami peroleh lebih banyak.

 

Untuk pertemuan di Singapura akhir tahun ini?

Ya. Akan ada seminar internasional di Singapura mengenai psikiatri politik. Data yang kami dapat di Indonesia akan dijadikan preliminary research untuk kepentingan penelitian selanjutnya. Acara besar itu, hampir seluruh pakar psikiatri akan hadir.

 

Seberapa pentingkah perkembangan ilmu psikiatri politik saat ini?

Sangat penting. Banyak pemerintahan, serta partai-partai politik di negara-negara maju kini membutuhkan paling tidak seorang psikiater politik sebagai konsultan dalam kegiatan politiknya. Analisis terhadap lawan ataupun kawan politik kini tidak hanya sekedar apa yang mereka sampaikan, namun juga mengenai sifat dalam diri yang belum tentu terlihat. Di sinilah guna psikiatri politik. Selain untuk penyembuhan, seperti kasus yang akan terjadi di Indonesia, ilmu ini juga berguna dalam politik praktis.

 

Lalu mengapa Indonesia? Bukankah ada negara besar lain seperti India yang juga melaksanakan pemilu tahun ini?

Memang. Tapi selain ada undangan, kami memang lebih memilih untuk datang ke Indonesia. Bagi saya pribadi, selain karena memang tanah kelahiran, demokrasi Indonesia memang unik. Sangat unik dalam peradaban manusia.

 

Unik seperti apa yang Prof maksud?

Psikiater Skotlandia, Roland Laing, pernah mengatakan bahwa pemerintah dan pemegang kekuasaanlah yang mampu untuk menciptakan psikosis masal pada masyarakatnya. Indonesia sendiri pernah melakukan itu dengan propaganda G 30 S/PKI-nya yang telah membuat delusi dan genosida massal yang dilakukan oleh jutaan orang penduduknya. Tapi pasca tahun 2004, entah kenapa semua jadi terbalik.

 

Bisa dijelaskan lebih lanjut, Prof?

Jadi begini, saya mengamati bahwa pada pemilu tahun 2004 dan 2009, ada kenaikan jumlah caleg yang sakit jiwa secara signifikan. Tahun 2004 tercatat 1 dari sekitar 30 caleg mengalami gangguan kejiwaan, dan tahun 2009 meningkat menjadi 1 dari 10 caleg. Kenaikan ini membuktikan bahwa Indonesia adalah negara anomali dan mungkin juga negara dengan demokrasi paling berhasil. Bayangkan saja, hanya di Indonesia, sistem politik bisa membuat politisi-politisinya sakit jiwa!

 

Berarti sistem politik yang ada di Indonesia, tidak baik menurut Prof. Nugroho?

Saya tidak tahu, dan tidak bisa menilai bila tidak ada data empiris. Kehadiran kami ke Indonesia juga nantinya akan menelaah hal ini. Mungkin hasil penelitian kami bisa dijadikan pertimbangan oleh pemerintah Indonesia dalam evaluasi sistem pemilunya.

 

Tapi Prof. Nugroho yakin akan berhasil mendapatkan data yang diinginkan di Indonesia?

Saya dan rekan-rekan yakin sekali. Dengan banyaknya sampel, dan wilayah yang berbeda, kami bisa melakukan crosscheck agar penelitian kami akurat dan dapat dipercaya. Kami juga siap bila ada hambatan-hambatan tertentu dalam pelaksanaan penelitian, tapi kami optimis. Lagi pula, apa yang tidak bisa didapatkan di Indonesia bila diusahakan? Semua itu mungkin.

 

 (nos)

Iklan

posronda

Other posts by

One Respond


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS