Iklan
LATEST TWEET

Ruang Terbuka Penuh, Warga Jakarta Mulai Panjat Pepohonan

April 06, 2014       Megapolitan, z_Editor's Choice      
Warga Jakarta memilih untuk piknik di atas pohon, menghindari penuhnya taman-taman kota. (photo courtesy of Tribunnews.com)

Warga Jakarta memilih untuk piknik di atas pohon, menghindari penuhnya taman-taman kota. (photo courtesy of Tribunnews.com)

 

Jakarta, POS RONDA – Sejak awal tahun 2014, penduduk DKI Jakarta memiliki kegemaran baru dengan memanjati pohon-pohon rindang di akhir minggu. Sesampainya di atas pohon, mereka bersantai selayaknya berada di taman-taman atau ruang terbuka hijau lainnya. Fenomena ini  ditemui di wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Barat. Aksi panjat pohon ini bukan berupa ekspresi unjuk rasa maupun aksi protes, tapi lebih sederhana: untuk piknik keluarga.

Fenomena yang di media sosial sering disebut sebagai ‘Family Tree-Climbing’ ini dianalisis oleh pakar sosiologi perkotaan dari Universitas Kota Jakarta (UNKOJA), Dr. Halim Rodiman, sebagai akibat dari ketidaksesuaian pertumbuhan jumlah penduduk dan jumlah ruang terbuka hijau.

“Jelas sekali ini akibat kurangnya ruang terbuka hijau. Masyarakat Jakarta jadi tidak ada pilihan lain selain memanjat pohon untuk bersantai. Kalau di tanah penuh orang, mau ke mana lagi? Fenomena ini juga terjadi di Depok, Tangerang, dan Bekasi, tidak hanya Jakarta saja.” ujar Halim.

Berdasarkan pengamatan POS RONDA di beberapa wilayah di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur pada akhir minggu, terutama di sore hari, taman-taman dan ruang terbuka hijau penuh sesak dengan warga yang ingin bersantai bersama keluarga atau teman.

Mereka umumnya datang ke taman dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil ataupun sepeda motor, dan menyebabkan parkiran taman menjadi penuh. Banyak warga yang parkir di sisi jalan karena kapasitas parkiran taman tidak sanggup lagi menampung jumlah kendaraan yang ada.

Karena taman dan ruang yang terlalu penuh, sebagian warga tidak memperoleh tempat yang cukup untuk bisa bersantai. Mereka menyiasatinya dengan memanjat pohon dan bersantai di sana.

“Ya, habis bagaimana? Saya kan juga ingin menikmati taman bersama keluarga. Lebih baik manjat pohon daripada nggak bisa santai. Masa’ akhir minggu pilihan kita cuma ke mal atau nonton sinetron di rumah? Bosan pastinya.” tutur Alex (32), warga Kecamatan Pesanggrahan. Alex hampir setiap akhir minggu pergi ke taman untuk memanjat pohon bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil.

Hal yang senada juga diungkapkan oleh Rohimah (20), warga Kecamatan Jagakarsa, yang memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya di atas pohon. “Ragunan kalau Sabtu-Minggu pasti penuh. Taman Mini sama Ancol Mahal. Mau duduk-duduk di taman, penuh juga. Jadinya saya sama teman-teman memilih untuk ngobrol-ngobrol di atas pohon. Sudah adem, gratis lagi.”

Halim Rodiman kemudian melanjutkan, permasalahannya adalah adanya ketidakseimbangan pembangunan taman dan pelestarian ruang terbuka. Taman untuk bersantai lebih banyak ditemui di Jakarta Pusat dibandingkan wilayah yang menjadi areal pemukiman seperti pinggiran Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan.

“Kita bisa lihat sendiri, taman-taman di Jakarta Pusat, di tengah-tengah kota, itu bagus. Enak untuk dibuat santai, duduk-duduk. Sekarang coba lihat yang ada di pinggiran kota. Jauh sekali dibandingkan dengan yang di pusat. Kecil, kotor, dan tidak nyaman. Ada sekitar 350 taman di Jakarta, tapi yang benar-benar nyaman dikunjungi tidak sampai 20. Bayangkan saja.Padahal para penduduk lebih membutuhkan itu (yang di pinggiran kota) di akhir minggu, saat mereka libur dari pekerjaan mereka.” papar Halim. “Jangan hanya di pusat saja, cuma jadi pajangan seolah Jakarta itu bagus, rapi, padahal di pinggiran yang jadi tempat tinggal warganya, malah minimalis sekali jumlah ruang terbukanya.” lanjutnya.

Menanggapi fenomena ini, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Nandar Sunandar, mengakui bahwa jumlah ruang terbuka hijau di Jakarta masih belum mencapai target yang diinginkan.

“Pak Gubernur memang punya target untuk membangun 60 titik ruang terbuka baru, tapi sampai akhir tahun 2013, kami baru berhasil membebaskan 25 lahan untuk keperluan itu. Untuk 35 titik lainnya, kita usahakan dibebaskan pada tahun ini.” ungkap Nandar.

Berdasarkan data Badan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta pada tahun 2012, jumlah ruang terbuka di Jakarta hanya 9,8 persen dari total luas wilayahnya. Ini merupakan peningkatan yang sangat kecil, tidak sampai satu persen, dari posisi 9 persen pada tahun 2000. Meski demikian, peningkatan tetap terjadi, dan saat ini (data tahun 2013) jumlah ruang terbuka mencapai 10 persen. Pemerintah DKI Jakarta sendiri menetapkan angka 11 persen untuk dijadikan target pembangunan ruang terbuka hijau. (Sha01)

Iklan

posronda

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS