Iklan
LATEST TWEET

Ical Disinyalir Klaim Maladewa Bila Jadi Presiden

April 02, 2014       Internasional, Pemilu 2014, Politik      

image

JAKARTA, POS RONDA – Tersebarnya video kepergian Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, akrab disapa Ical atau ARB, ke Maladewa beberapa waktu lalu menimbulkan berbagai spekulasi di masyarakat, dari urusan bisnis biasa hingga skandal. Pihak Ical sendiri menjelaskan bahwa kepergiannya ke Maladewa merupakan bagian dari studi dan survei bisnis.

Selebritis Olivia Zalianty, yang ikut dalam rombongan Ical ke Maladewa menyatakan, “Video itu sekitar akhir 2009 atau awal 2010. Bisnis pariwisata. Jadi perjalanan kita untuk lihat (survei) saja. Maldives itu kan negara kepulauan yang kecil, tapi gitu aja bisa sukses. Padahal Indonesia jauh lebih bagus. (Ada) Bandanera, Raja Ampat, Berau, Maratua, Kakaban. Kenapa Maldives bisa bagus, Indonesia enggak?”

Namun, Beberapa kalangan meragukan bahwa kepergian Ical hanya sekedar melakukan survei bisnis. Tatang Suripno, pakar konspirasi politik dari Universitas Bunga Mercusuar Indonesia (UNIBUMI), berkomentar bahwa kepergian Ical sebenarnya merupakan bagian dari rencana politik luar negerinya bila terpilih menjadi presiden.

“Tidak mungkin hanya sekedar studi bisnis. Saya yakin Bakrie akan mengklaim Maladewa sebagai bagian dari Indonesia bila dia menang dan jadi presiden.” ujar Tatang. “Dia pergi ke sana mengajak beberapa orang termasuk petinggi partainya, lalu videonya tersebar dan dia tenang-tenang saja. Itu memang sudah direncanakan oleh dia”, lanjutnya.

Ketika dimintai pendapat mengenai komentar Tatang, hampir seluruh pejabat tinggi Partai Golkar bungkam. Hanya seorang fungsionaris partai yang mau menjawab, namun menolak identitasnya disebutkan.

“Memang Pak Ical dan Partai Golkar punya rencana besar untuk Indonesia bila jadi presiden, terutama di Samudera Hindia. Pertama Maladewa, kemudian kemungkinan besar Andaman atau Madagaskar. Kita ini kan negara kepulauan, jadi pantas kalau kita mengejar potensi ekonomi kepulauan yang baru”, ujarnya.

Sayangnya, narasumber tersebut tidak mau menjelaskan lebih lanjut dengan cara apa Ical akan mengejar potensi ekonomi negeri kepulauan yang terletak di selatan India tersebut.

Maladewa merupakan salah satu tujuan pariwisata dunia, mencatat lebih dari 800,000 kunjungan wisatawan pertahun. Pariwisata sendiri merupakan industri terbesar di Maladewa, menyumbang 28 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan 60 persen pendapatan devisa. Ini merupakan hasil dari kebijakan pemerintah Maladewa yang membuka sektor pariwisata seluas-luasnya secara bertahap sejak tahun 1972. Selain pariwisata, sektor industri yang mengemuka di Maladewa antara lain perikanan, perkapalan, dan kerajinan tangan.

Sementara itu di tempat terpisah, Mohamed Zaki, Duta Besar Maladewa untuk Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Brunei, memberikan pernyataan bahwa Maladewa pada dasarnya mendukung dan bekerja sama dengan siapapun yang nantinya akan terpilih menjadi presiden baru Indonesia, terutama di bidang ekonomi dan pariwisata. Namun, Dubes Zaki akan sangat menyesalkan apabila terjadi klaim yang berurusan dengan batas kedaulatan negara masing-masing.

“Saya dan rakyat Maladewa sangat tidak ingin hal itu terjadi, dan tidak akan pernah terjadi. Maladewa dan Indonesia punya banyak kesamaan. Kami memiliki keinginan bekerja sama dengan ASEAN dan Indonesia, tidak pernah terpikir untuk bermusuhan”, papar Zaki.

Tanggapan yang senada juga dilontarkan oleh Goris Lawawei, mantan pejabat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang pernah ditempatkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Colombo, Sri Lanka. KBRI di Colombo memiliki tugas rangkap hubungan diplomatik dengan Sri Lanka dan Maladewa.

“Hubungan kita dengan Maladewa sudah baik. Jangan diperkeruh dengan klaim-mengklaim. Soal kerjasama ekonomi pasti Kemenlu akan urus dengan baik, tapi kalau sudah menyangkut kedaulatan negara lain? Dulu kita pernah kesulitan dengan kasus Timor Timur. Duri dalam daging itu, sebaiknya jangan diulangi. Memangnya kita Malaysia, suka klaim ke mana-mana?” ujar Goris, yang kini menjadi pengamat politik luar negeri Indonesia.

Hingga artikel ini diturunkan, usaha untuk melakukan konfirmasi langsung kepada Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie masih belum mendapatkan jawaban. (sha01)

Iklan

posronda

Other posts by


FOLLOW US

ARTIKEL LAWAS